Pengharum Ruangan Bisa Berdampak pada Paru-paru? Ini Penjelasan Pakar Unair
Suara Kalbar – Pengharum ruangan menjadi salah satu produk yang banyak digunakan di rumah, kantor, hingga ruang publik untuk menciptakan aroma yang lebih segar dan nyaman. Namun, di balik manfaatnya, penggunaan pewangi ruangan ternyata juga memiliki potensi risiko terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Meski pemakaiannya terus meningkat, penelitian mengenai dampak jangka panjang pengharum ruangan terhadap kesehatan masih terus berkembang. Sejumlah studi menunjukkan paparan bahan kimia dari produk tersebut berpotensi memengaruhi jaringan saluran pernapasan apabila terjadi secara terus-menerus.
Pakar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), dr. Arief Bakhtiar, mengungkapkan hasil penelitian mengenai pengaruh paparan pewangi ruangan terhadap saluran napas.
Paparan Jangka Panjang Dapat Mengubah Jaringan Pernapasan
Berdasarkan penelitian menggunakan tikus sebagai objek uji, paparan pewangi ruangan dalam jangka panjang menyebabkan perubahan pada jaringan saluran pernapasan, khususnya selaput lendir hidung. Tingkat dampaknya berbeda bergantung pada jenis produk yang digunakan.
“Paparan pewangi ruangan menghasilkan dampak negatif pada perubahan jaringan saluran napas, terutama pada selaput lendir. Dampak paparan pewangi ruangan cair pada perubahan histologi selaput lendir hidung lebih parah jika dibandingkan dengan paparan pewangi ruangan dalam bentuk gel,” kata dr. Arief, dikutip dari laman Universitas Airlangga, Rabu (15/7/2026).
Sementara itu, pewangi ruangan berbentuk gel justru ditemukan memberikan dampak yang lebih besar terhadap jaringan paru-paru.
“Sementara itu, paparan pewangi ruangan gel memiliki dampak yang lebih buruk terhadap perubahan histologi jaringan paru jika dibandingkan dengan paparan pewangi ruangan cair,” imbuhnya.
Temuan tersebut menunjukkan setiap bentuk pewangi ruangan memiliki karakteristik paparan yang berbeda terhadap organ pernapasan.
Bisa Memicu Peradangan Saluran Napas
Menurut dr. Arief, bahan kimia yang terkandung dalam pewangi ruangan dapat memicu respons inflamasi ketika masuk ke saluran pernapasan.
Apabila paparan berlangsung dalam waktu lama dan berulang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan.
“Prinsip dasar pewangi ruangan ketika berinteraksi dengan saluran napas, maka akan menimbulkan respons peradangan atau inflamasi yang jika berlangsung secara lama dan terus menerus maka akan menimbulkan dampak yang tidak baik. Pajanan bahan kimia pada sistem pernapasan akan menyebabkan iritasi, peradangan, bronkokonstriksi, dan sensitisasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah penelitian internasional juga melaporkan bahwa paparan wewangian tertentu dapat memicu kekambuhan asma pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap bahan kimia.
Cara Kerja Pengharum Ruangan
Mengacu pada penelitian Multiple Chemical Sensitivity (MCS) 2005, dr. Arief menjelaskan pengharum ruangan bekerja melalui beberapa mekanisme, antara lain:
- Melemahkan kemampuan saraf penciuman mengenali bau.
- Melapisi rongga hidung dengan lapisan berminyak yang tidak terdeteksi.
- Menutupi bau tidak sedap dengan aroma lain.
- Mengubah persepsi terhadap bau yang dianggap mengganggu.
Mekanisme tersebut membuat ruangan terasa lebih harum, tetapi di saat yang sama juga meningkatkan paparan berbagai senyawa kimia ke dalam saluran pernapasan.
Tips Mengurangi Risiko Paparan
Untuk mengurangi potensi dampak kesehatan, dr. Arief menyarankan masyarakat lebih bijak menggunakan pewangi ruangan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengurangi penggunaan pewangi ruangan berbahan kimia, terutama jenis aerosol.
- Menghentikan penggunaan jika muncul gejala seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau iritasi kulit.
- Memilih pewangi ruangan berbahan alami sebagai alternatif yang lebih aman.
- Memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan tetap baik agar paparan bahan kimia tidak menumpuk.
Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu menurunkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi penderita asma, alergi, anak-anak, maupun lansia yang lebih sensitif terhadap paparan zat kimia.
Meski demikian, penelitian mengenai dampak jangka panjang pengharum ruangan masih terus berkembang. Karena itu, penggunaan produk pewangi sebaiknya tetap dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan agar manfaatnya dapat diperoleh tanpa meningkatkan risiko terhadap kesehatan.
Sumber: Beritasatu.com






