Opini  

Hardiknas dan Gotong Royong Mewujudkan Merdeka Belajar

Oleh: Al Mahfud*

Setiap tanggal 2 Mei, kita memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas tak sekadar tentang peringatan tahunan. Sudah semestinya peringatan Hardiknas memberi kita refleksi, spirit, dan gerakan baru yang segar dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Pada peringatan Hardiknas Tahun 2024 ini, Kemdikbudristek mengangkat tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”. Terlihat jelas bagaimana tema ini mengajak seluruh elemen bangsa, dari pendidik, peserta didik, hingga masyarakat luas, untuk bergerak bersama, bahu membahu dalam mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia.

Memperbaiki, memajukan, dan melakukan transformasi pendidikan jelas butuh gerakan berjuang bersama. Ini menjadi landasan untuk melakukan perubahan.  “Kemerdekaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Semangat perjuangan itu pula yang menjadi dasar gerakan Merdeka Belajar oleh seluruh lapisan masyarakat selama empat tahun terakhir,” kata Nadiem Makarim saat HUT Ke-78 RI 17 Agustus 2023 lalu.

Tema besar Hardiknas 2024 mengajak kita untuk terus bergerak, berkolaborasi, dan bergotong royong demi transformasi pendidikan Indonesia. Bagi pendidik, semangat gotong royong ini mesti disadari agar mengajar tak hanya tentang menyampaikan pengetahuan pada peserta didik, namun juga bagaimana tenaga pendidik berkolaborasi dan belajar bersama untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang jauh lebih baik dari waktu ke waktu.

Praktik baik implementasi Kurikulum Merdeka

Implementasi Kurikulum Merdeka (KM) yang sudah berjalan selama kurang lebih 3-4 tahun terakhir ini memberi gambaran bagaimana prinsip gotong royong dan filosofi Merdeka Belajar itu sendiri diterapkan.

Merdeka Belajar menjamin anak bisa belajar sesuai kebutuhan dan kemampuan. Hal ini juga diterapkan dalam implementasi KM bagi setiap satuan pendidikan. Saat itu, masih di tengah situasi pandemi Covid-19, sekolah diberi kebebasan menentukan kurikulum yang diterapkan. Apakah tetap menerapkan Kurikulum 2013 secara penuh, atau memilih kurikulum darurat yang sederhana, atau mulai menerapkan Kurikulum Merdeka.

Saat ini, sudah ada lebih dari 300 ribu sekolah menerapkan KM dengan sukarela. Terbukti, KM memang memberikan dampak positif dalam berbagai aspek. Menurut data Asesmen Nasional Tahun 2021-2023, hasil Rapor Pendidikan Tahun 2023 memperlihatkan satuan pendidikan yang menerapkan KM mengalami peningkatan literasi, numerasi, karakter, inklusivitas, dan kualitas pembelajaran (anbk.kemdikbud.go.id).

Berbagai praktik baik implamentasi Kurikulum Merdeka bermunculan. KM terbukti meningkatkan penalaran dan kreativitas anak didik dan juga memacu guru untuk terus belajar dan berkarya. Hal ini terungkap salah satunya lewat cerita Satiri, Kepala SMAN 1 Jawilan Serang Banten.

Dalam acara Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB) bertema “Praktik Baik Implementasi Kurikulum Merdeka” yang disiarkan melalui YouTube Kemendikbud RI 28 Februari 2023, Satiri menceritakan pengalaman menerapkan Kurikulum Merdeka Mandiri Berbagi yang berdampak positif, baik kepada murid maupun guru.

“Terlihat sekali perbedaannya, tingkat penalarannya lebih tinggi, kreativitasnya lebih tinggi. Kemudian, bagi guru-guru akan lebih terpacu untuk selalu ingin belajar melihat perkembangan-perkembangan Kurikulum Merdeka,” jelas Satiri.

Contoh lainnya, Yul Pendri, Guru SDN 26 Kota Jambi, masih di acara yang sama menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka telah memberikan dampak positif bagi ekosistem di sekolah dan pembelajaran menjadi lebih bervariatif, berbasis kearifan lokal, dan lebih terintegrasi dengan IT.

“Mengacu ke pembelajaran Kurikulum Merdeka, (pembelajaran) kami berdiferensiasi mulai dari rangkaian proses hingga tercipta produk pembelajaran. Sehingga guru-guru lebih leluasa (berkreasi) untuk memilih konten (menarik) yang akan diajarkan kepada siswa,” jelasnya.

Untuk menunjang implementasi Kurikulum Merdeka, Kemdikbudristek juga meluncurkan Platform Merdeka Mengajar. Di platform ini, guru bisa saling belajar dan berbagi dengan sesama pendidik tentang praktik baik dalam mengimplementasikan KM. Di sinilah, lagi-lagi prinsip gotong royong terlihat dalam menjalankan program Merdeka Belajar.

Tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” yang diangkat dalam peringatan Hardiknas 2024 mesti menjadi dorongan bagi semua kalangan untuk bergerak mengimplementasikan Merdeka Belajar. Kemdikbudristek, guru, Kepala Sekolah, orang tua, hingga masyarakat luas semua mesti bergerak untuk mewujudkan transformasi pendidikan Indonesia melalui peranan masing-masing. Perubahan besar bisa bermula dari langkah-langkah kecil yang konsisten dilakukan. Termasuk perubahan besar di dunia pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

*Penulis, aktif menulis topik-topik pendidikan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS