SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak ASRI Padukan Kesehatan dan Konservasi Hutan di Kalbar

ASRI Padukan Kesehatan dan Konservasi Hutan di Kalbar

ASRI Padukan Kesehatan dan Konservasi Hutan di Kalbar. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Pontianak (Suara Kalbar)- Sejak tahun 2007, Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) telah menjalankan program kesehatan yang terintegrasi dengan pelestarian hutan di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Program ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari pendekatan holistik yang kini dikenal secara global sebagai Planetary Health atau Kesehatan Planetari.

Konsep Kesehatan Planetari menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia dan kesehatan alam. Program kesehatan ASRI dirancang untuk melayani masyarakat sekitar hutan sekaligus mendukung masyarakat sebagai garda terdepan dalam upaya konservasi. Inovasi utama dari program ini adalah mekanisme pembayaran biaya pengobatan menggunakan bibit pohon, yang kemudian ditanam di kawasan hutan terdegradasi.

Berdasarkan Laporan Tahunan ASRI 2025, dalam periode 2009 hingga 2025, lebih dari 700.000 bibit pohon di wilayah Kalimantan Barat telah ditanam di kawasan Taman Nasional Gunung Palung oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung bersama ASRI. Sekitar 175.000 bibit pohon atau seperempatnya didapatkan dari pasien yang berobat di Klinik ASRI.

Sebagian besar dari bibit-bibit tersebut dikumpulkan oleh tim ASRI dari tempat ASRI melakukan Klinik Keliling. Dalam setiap perjalanan pengangkutan, tim ASRI dapat membawa hingga 1.000 bibit pohon yang berasal dari pasien Klinik Keliling ASRI. Perjalanan dapat menempuh total waktu 7 jam pulang-pergi dari kantor ASRI ke lokasi pengumpulan.

Bibit Pohon sebagai Investasi Kesehatan Masyarakat

Sistem pembayaran biaya kesehatan dengan bibit pohon terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus lingkungan. Salah satunya adalah Ibu Kartika, seorang pasien Klinik Keliling asal Dusun Pangkalan Jihing, yang rutin berobat bersama keluarganya, mengaku bahwa metode ini sangat meringankan beban biaya pengobatan mereka. Selain itu, bibit yang ia setorkan sebagai bentuk pembayaran tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga berkontribusi langsung dalam upaya pelestarian hutan. Dengan demikian, program ini menjadi contoh nyata investasi kesehatan masyarakat yang berkelanjutan, karena setiap pohon yang ditanam dari bibit tersebut turut menjaga ekosistem untuk generasi mendatang.

Proses Pra-Penanaman: Persemaian dan Perawatan

Seluruh bibit yang terkumpul tidak langsung ditanam di kawasan hutan. ASRI menerapkan standar prosedur tetap berupa perawatan di unit persemaian selama 2–3 bulan setelah pengambilan bibit dari pasien, hingga bibit mencapai tinggi 40-60 cm bagi wilayah hutan kering, dan 80-100 cm untuk penanaman hutan gambut. Ketinggian tersebut merupakan ukuran standar yang didasarkan pada pengalaman dalam melakukan reboisasi. Hal ini terutama membantu bibit bertahan dari persaingan dengan gulma dalam mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi. Sedangkan di daerah gambut dan rawa, bibit dengan tinggi di bawah 80 cm lebih rentan mati karena tidak mampu bertahan terhadap genangan air.

Kolaborasi bersama Pemerintah dan Keterlibatan Masyarakat

Proses penanaman dilakukan secara kolaboratif. Sejak tahun 2009, ASRI aktif mendukung upaya Balai Taman Nasional Gunung Palung dalam menghijaukan kembali kawasan Taman Nasional. Balai TANAGUPA memberikan pendampingan dalam menentukan lokasi tanam, jadwal penanaman, serta monitoring pasca tanam. Selain itu, ASRI juga melibatkan masyarakat lokal secara langsung dalam perawatan bibit di persemaian, memindahkan bibit, dan penanaman di kawasan hutan.

Model kolaborasi ini memastikan adanya keberlanjutan program serta rasa kepemilikan dari masyarakat terhadap kawasan konservasi.

Dampak Ekologis: Kembalinya Satwa Liar

Hasil monitoring menunjukkan bahwa kawasan reboisasi telah menunjukkan pemulihan fungsi ekologis yang signifikan yang terlihat dari tangkapan camera trap di 9 titik pengamatan yang tersebar di Desa Laman Satong (Kabupaten Ketapang) dan Desa Sedahan Jaya (Kabupaten Kayong Utara).

Berdasarkan data periode 2020–2025, tercatat setidaknya 51 spesies hewan liar telah kembali terpantau di area reboisasi tersebut. Spesies-spesies yang teridentifikasi antara lain: burung enggang, beruang madu, orangutan, berbagai spesies mamalia kecil, primata, dan lain-lain. Keberadaan spesies-spesies tersebut merupakan indikator penting bagi pulihnya struktur dan fungsi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

Sumber: Rilis

 

Komentar
Bagikan:

Iklan