Mengenal Varian Baru Sars CoV-2 Penyebab Covid-19 dan Pentingnya Vaksin

  • Bagikan

Oleh: Rita Mu’in

PANDEMI Covid-19 telah bertransformasi memuat mutasi berbeda hingga menghasilkan varian virus baru. Melansir dari CNBC Indonesia Varian alpha membawa 23 mutasi termasuk N501Y, Varian Beta mengandung mutasi E484K dan N501Y, Variasi Delta mengandung mutasi L452R dan E484K serta Varian Gama memiliki mutasi E484K dan N501Y. Varian alpha ditemukan lebih menular namun tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah dari varian asli. Mutasi E484K dan N501Y dapat mengurangi kemampuan antibodi dalam tubuh.

Dilansir dari Thermo Fisher Scientific, Sars-CoV-2 dapat bermutasi menjadi 1-2 mutasi per bulan. Varian baru dari Sars-CoV-2 seperti varian Delta mempunyai kemampuan 60% lebih mudah menular dari varian alpha. Gejala yang ditimbulkan juga lebih parah. Gejala utama Covid-19 yang dijelaskan pemerintah seperti demam, batuk, kehilangan rasa atau penciuman. Variasi atau mutasi baru akan menimbulkan tambahan gejala seperti kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan gejala infeksi lainnya. Meski begitu tetap saja akan ada orang yang mengidap Covid-19 tanpa gejala diatas.

Virus dapat bereplikasi atau membuat salinan dirinya untuk menyebar. Replikasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan susunan nukleotida yang tersusun atas kombinasi yang berbeda. Komponen struktur nukleotida pembentuk RNA terdiri atas adenin (A), guanin (G), sitosin (C) dan urasil (U). Misalnya susunan awal nukleotida virus adalah GGA pada replikasi ke-10 terjadi perubahan struktur menjadi CGU. Perubahan ini disebut mutasi, virus dengan satu atau lebih mutasi disebut dengan “varian” dari virus baru.

Sars-CoV 2 mempunyai genom dengan utas tunggal RNA yang menyandi kurang dari 30 protein atau kurang dari 0,1% protein dari genom manusia. Virus mempunyai protein dengan ujung tajam yang dapat menempel pada ujung membran sel. Materi genesis virus masuk ke sel tubuh manusia dan membajak metabolisme sel untuk memperbanyak virus.

Ketika virus menginfeksi, sel genom direplikasi atau disalin. Virus akan membuat untaian RNA komplementer yang disebut RNA template. RNA template digunakan untuk menghasilkan salinan yang cocok dengan genom asli virus. Kesalahan pada replikasi dapat berupa perubahan nukleotida seperti terjadinya subtitusi nukleotida, penempatan nukleotida yang salah dan penghilangan nukleotida yang disebut dengan mutasi virus. Virus yang bermutasi menginfeksi sel lain maka terjadi replikasi baru lainnya.

Perubahan susunan nukleotida virus atau mutasi dapat disebabkan oleh infeksi dari populasi tempat virus tersebut menetap. Variasi kecil ini tidak mengubah cara kerja virus, terkadang variasi virus dari perubahan 2 kombinasi susunan nukleotida membuat virus cenderung lebih lemah dan mudah mati. Virus dapat juga menjadi lebih mudah menempel pada sel dan menginfeksi manusia sehingga virus lebih mudah ditransmisikan atau lebih tahan terhadap sistem imun.

Varian Delta yaitu B.1.617, B.1.617.1, B.1.617.2, B.1.617.3, merupakan varian virus yang berasal dari India. Varian Delta memiliki kemampuan 97% lebih menular dibandingkan virus Covid-19 awal. Varian delta di Indonesia membuat angka penularan Covid-19 pada anak-anak meningkat. Dilansir dari Opini Tempo jumlah anak yang terinfeksi mencapai 250.000 orang.

Cara mencegah varian baru virus Covid-19 adalah dengan menghentikan penyebaran dari sumbernya dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi atau interaksi. Vaksin dapat menjadi cara paling efektif dalam mengurangi jumlah penularan virus dan mengurangi peluang virus menyebar.

Vaksin AstraZeneca 75% efektif melawan varian Alpha dan 92% efektif terhadap varian Delta. Vaksin Pfizer 92% efektif terhadap varian virus Alpha dan 79% efektif melawan varian Delta. Vaksin Sinova c 75% efektif terhadap varian Gama dan vaksin Novavax 50% efektif terhadap varian Beta. Vaksin Covid-19 yang ada diyakini dapat memberikan setidaknya perlindungan terhadap varian virus baru. Vaksin dapat menghasilkan respon imun yang luas dengan melibatkan berbagai antibodi dan sel. Vaksin didesain untuk mengatasi banyak kasus dan harapannya dapat berkerja untuk varian virus baru. Mengubah komposisi dari vaksin yang sudah ada, peneliti berharap hal ini dapat mengatasi kemungkinan variasi virus baru.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak

  • Bagikan