BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi, Pemkab Sintang Ajak Semua Elemen Bersama Perkuat Kesiapsiagaan
Sintang (Suara Kalbar) — Pemerintah Kabupaten Sintang memberikan dukungan penuh terhadap upaya edukasi dan mitigasi bencana gempa bumi melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Sintang Tahun 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II tersebut digelar di Hotel Bagoes, Kabupaten Sintang, Kamis (20/8/2026).
Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, Helmi, yang mewakili Bupati Sintang sekaligus membacakan sambutan Bupati, mengatakan edukasi kebencanaan menjadi hal penting mengingat Kabupaten Sintang telah mengalami tujuh kali kejadian gempa bumi dalam kurun waktu 2019 hingga April 2026.
Menurutnya, gempa bumi merupakan bencana yang tidak dapat dihentikan maupun dipastikan waktu kejadiannya. Namun, risiko korban dan dampaknya dapat ditekan melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, serta kecepatan dalam mengambil tindakan.
“Gempa bumi mungkin tidak bisa kita hentikan, tetapi korban dan dampaknya bisa kita kurangi. Kita tidak memiliki kemampuan untuk memerintahkan bumi agar tidak bergerak. Kita juga tidak bisa mengetahui dengan pasti kapan sebuah gempa akan terjadi. Tetapi kita mempunyai sesuatu yang sangat penting, yaitu pengetahuan, kesiapsiagaan dan kecepatan bertindak,” ujar Helmi.
Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Sintang 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pelatihan, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan masyarakat dalam menyelamatkan diri dan orang lain saat bencana terjadi.
“Sekolah lapang gempa bumi menjadi sangat penting karena bencana tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi korbannya. Gempa tidak mengenal jabatan, usia, pekerjaan maupun status sosial,” katanya.
Helmi menegaskan, saat gempa terjadi masyarakat tidak boleh mengedepankan kepanikan. Sebaliknya, diperlukan pemahaman yang benar terhadap informasi kebencanaan, ketepatan dalam membaca situasi, serta kecepatan dalam melakukan tindakan penyelamatan.
“Ketika gempa terjadi, yang kita perlukan bukan kepanikan. Yang kita perlukan adalah pemahaman. Ketika informasi gempa diterima, kita tidak boleh salah membaca informasi. Yang kita perlukan adalah ketepatan. Dan ketika guncangan terjadi, kita tidak boleh terlambat mengambil tindakan. Yang kita perlukan adalah aksi cepat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Helmi mengatakan karakteristik Kabupaten Sintang yang memiliki wilayah luas, masyarakat tersebar di berbagai kecamatan, serta kondisi geografis dan sosial yang beragam membutuhkan pola kesiapsiagaan bencana yang melibatkan seluruh elemen.
“Kesiapsiagaan bencana tidak boleh hanya menjadi tugas pemerintah atau BPBD saja. Kesiapsiagaan bencana harus menjadi budaya bersama,” tegasnya.
Ia menyebutkan, masing-masing unsur memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. BPBD harus mampu memahami informasi kebencanaan dan mengoordinasikan penanganan, sementara TNI dan Polri dituntut siap bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Di lingkungan pendidikan, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik, tetapi juga menjadi pusat edukasi kebencanaan. Sementara masyarakat perlu memahami langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi terjadi.
“Institusi pemerintah harus mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Dan media massa mempunyai peran yang sangat strategis untuk menyampaikan informasi kebencanaan secara cepat, akurat dan tidak menimbulkan kepanikan,” ungkap Helmi.
Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi tersebut, Pemkab Sintang berharap pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap risiko gempa bumi semakin meningkat. Sinergi antara pemerintah, BMKG, BPBD, TNI, Polri, dunia pendidikan, media massa, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan serta mengurangi risiko korban ketika bencana terjadi.
Dengan demikian, mitigasi bencana tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi kebiasaan dan budaya bersama dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Sintang.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






