Nya Kadre
Oleh: Abang Mat
Selesai pemilu 2014, saya mulai sering mengikuti berita perpolitikan di kepulauan riau. Sejak saat itu saya banyak menyadari keadaan di kepulauan Riau, terutama di batam. Sebab saya sering keliling batam dan menonton berita malam di batam tv. Setiap hari saya juga baca koran, bahkan berita-berita yang istimewa saya simpan. Pada masa itu saya mendapati banyak terjadi kesalahan di batam. Tapi yang saya bahas disini terpusat kepada suku melayu, sebab kesalahan-kesalahan yang saya bahas disini adalah kesalahan yang melibatkan suku melayu. Pada satu tahap, saya menyadari kesalahan di batam banyak terjadi dan terus terbiar adalah karena kesalahan pemimpin melayu disini, orang itu adalah Nya Kadre. Walaupun wewenangnya sangat kecil tapi peran kesalahannya sangat besar. Dia tak melaksanakan yang seharusnya dia laksanakan, sesuai dengan jabatannya. Tapi yang memuakkannya adalah dia merasa hebat dan merasa seolah-olah berjasa karena sering dipuji, padahal tidak ada apa-apanya.
Kesalahan pertama yang saya sadari adalah hiasan di dalam gedung Lembaga Adat Melayu. Terutama gorden dan singgasananya, yang sangat bernuansa minangkabau. Kain berwarna merah, kuning, hijau, ala bendera rasta Bob Marley yang sangat tidak menunjukkan budaya melayu. Ini adalah bentuk kebodohan seorang pemimpin, dari keadaan yang tidak dia sadari sebab dia banyak tak tau tentang perbedaan budaya minang dengan budaya melayu. Karena tak ada kerajaan-kerajaan melayu yang benderanya begitu. Kedua, arsitektur-arsitektur gedung pemerintah daerah dan gerbang perumahan lama yang ada di batam, yang jarang bergaya melayu. Tapi justru bergaya semi bagonjong. Contoh tersederhananya adalah pada atap terminal bes. Mungkin dia mengganggap hal-hal seperti ini adalah hal-hal ringan yang tidak penting untuk diutamakan, padahal ini adalah hal-hal sakral. Sebab ini adalah jatidiri suku melayu, kebudayaannya. Tanpa bermaksud menghina, selain tidak benar, semua hiasan bernuansa minang itu adalah sejelek-jeleknya hiasan. Bukan cuma bentuknya tapi juga perpaduan warnanya, yang norak. Sangat tak sedap dipandang.
Ketiga, dia tak mempedulikan keadaan di batam. Entah karena dia benar-benar tak tau atau karena merasa hidupnya sekeluarga sudah mapan. Merasa cukup hanya karena punya rumah besar, mobil banyak, dan duit miliaran di bank. Sebagai ketua masyarakat suku melayu di batam, dia tak tau harus berbuat apa !!! … Saran-saran yang harus dia sampaikan ke Walikota. Dia terlihat seperti orang yang tak ada wawasan sama sekali. Dan setelah saya pikirkan sekian lama, pemikiran saya ini memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Karena selama bertahun-tahun saya membaca koran, tak sekalipun saya pernah membaca tulisannya. Karya tulis murni hasil pikirannya. Baik itu juga dalam bentuk buku. Termasuklah saat dia sudah menjadi anggota dewan yang mewakili provinsi kepulauan Riau. Dia hanya tau sebatas agenda-agenda upacara adat, misalnya tepak sirih saat tari penyambutan tamu dan penganugerahan gelar. Ini sangat memprihatinkan bagi saya. Bukannya saya tak menghormati dia, tapi kenapa lah orang seperti dia dijadikan ketua. Bahkan orang yang hanya tamat SD pun banyak yang lebih pintar daripada dia.
Yang membuat saya semakin geram, saya yang pernah menolong menyadarkan dia lewat sebuah surat, justu dia serang, dengan semua anggotanya yang juga tak berwawasan. Seperti Rahem. Padahal orang lain tak ada yang menolong menyadarkan dia, bahkan semua anggotanya. Orang-orangnya Nya Kadre ini adalah orang-orang yang tidak paham dengan yang terjadi di batam dan tidak mempunyai wawasan dengan dunia internasional. Sangking tak berwawasannya. Dengan suku-suku lain Nya Kadre ini peragu, misalnya saat kasus penghinaan Nuryanto. Yang sakral, penyusupan-penyusupan budaya minang dalam kebudayaan melayu, dia tak tau dan lalai. Ini adalah kesalahan besar dimata saya. Sudahlah hal-hal ringan dan hal-hal wajib dia tak tau, saya yang memberitahunya justru diserangnya. Karena sangking amatirnya dia. Dan tidak adanya orang yang intelek disekeliling dia. Bukan artinya semua anggotanya tak berwawasan tapi karena mengikuti perintahnya, sehingga menjadikan mereka teranggap bahlol dimata saya. Kedangkalan ini bisa terjadi disebabkan Nya Kadre adalah orang yang sangat jarang membaca. Sehingga dia tak punya wawasan dan tak tau harus berbuat apa. Apalagi membuat karya ilmiah, setidaknya artikel di koran daerah. Dia tak bisa. Sangking bahlolnya.
Hal ini perlu saya ungkapkan, supaya yang lain tidak menjadi sebahlol dia. Satu lagi kesalahan fatal yang sering dia lakukan sejak zaman dia menjabat walikota adalah dia sangat jarang mengorbitkan orang melayu. Padahal banyak orang melayu yang pintar dan mampu di batam ini. Yang sering dia orbitkan justru suku yang paling mengincar hak-hak melayu tapi kuat menjilat dengan dia yang berjabatan, dengan mengatasnamakan sesama muslim. Ini kan bahlol namanya, selain membuktikan dia senang dijilat. Disaat semua suku mengorbitkan suku masing-masing, dia justru rutin mengorbitkan suku yang paling banyak merugikan sukunya. Karna dia tak berwawasan sama sekali. Jangankan berwawasan di tingkat internasional dan nasional, di tingkat lokal pun tidak. Sangking bahlolnya. Ditambah lagi disebabkan keluarganya yang berkeluarga dengan suku yang sering dia orbitkan, membuat dia semakin tak tentu arah. Saya harap mulai sekarang tak ada lagi pemimpin melayu yang sebahlol dia. Kita perlu pemimpin yang cerdas, bukan pemimpin yang gila hormat dan tak membawa manfaat. Yang tak mencerdaskan semua anggotanya dan masyarakat yang dipimpinnya. Saya tak pernah ragu menganggap dia bahlol. Nya Kadre si Bahlol.
*Penulis adalah sosok yang berrencana membuat film tentang kemelut politik kesultanan Riau selama traktat london 1824. Bernyanyi dengan gitar adalah kesenangannya.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





