Transformasi Pulau Lemukutan, dari Penghasil Rumput Laut hingga Desa Wisata

Hasil olahan Rumput Laut yang dijadikan manisan oleh para petani Rumput Laut yang ada di Pulau Lumukutan Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang (SUARAKALBAR.CO.ID/Iqbal Meizar)

Bengkayang (Suara Kalbar) – Pulau Lemukutan, yang terletak di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, telah mengalami transformasi signifikan sejak dikenal sebagai destinasi pariwisata pada tahun 2010.

Sebelumnya, desa ini dikenal sebagai salah satu penghasil utama rumput laut di wilayah tersebut, dengan banyak penduduknya beralih profesi menjadi petani rumput laut.

Sejak Kementerian Kelautan memperkenalkan budidaya rumput laut pada tahun 2010, masyarakat Desa Lemukutan mulai mengembangkan keahlian dalam menanam rumput laut.

Namun, seiring berkembangnya pariwisata di Pulau Lemukutan, banyak dari mereka beralih profesi menjadi pelaku wisata.

Hal ini disampaikan langsung oleh Heni masyarakat Desa pulau Lumukutan sekaligus petani dan penampung Rumput laut menyebutkan, pertama kali masuknya bibit rumput laut dari Kabupaten Ketapang masyarakat banyak yang menjadi petani Rumput Laut, akan tetapi karena sempat dilanda Covid-19 dan Pulau Lumukutan menjadi Desa wisata banyak dari masyarakat yang berganti profesi.

“Dulu itu bibit pertama kali masuk dari Kabupaten Ketapang, sehingga masyarakat pun banyak yang berhasil menjadi pertani Rumput Laut, namun beberapa eaktu berjalan, Pulau Lumukutan menjadi destinasi atau tujuan wisata, itu yang membuat masyarakat banyak berganti profesi yang tadinya menjadi petani Rumput laut berubah menjadi pegiat wisata,” ucapnya pada Senin (24/6/2024).

Meskipun demikian, Heni juga mengakui bahwa minat terhadap budidaya rumput laut tidak sepenuhnya surut.

“Dulu kalau permintaan rumput laut itu sangat banyak sekali, dan kami bisa memenuhi itu, bahkan sekali panen kami bisa hingga ratusan kilogram, namun karena sekarang hanyak tinggal beberapa orang saja yang masih menjadi petani rumput laut kami pun tidak bisa memenuhi permintaan konsumen,” ujarnya.

Rumput laut tidak hanya memiliki nilai ekonomis sebagai bahan makanan dan minuman, tetapi juga memiliki potensi sebagai bahan baku dalam produk kecantikan seperti masker wajah yang dapat menghaluskan kulit dan mengangkat sel kulit mati.

Heni berharap agar masyarakat kembali melirik potensi budidaya rumput laut ini.

“Untuk olahan rumput laut sendiri, selain bisa di konsumsi berupa manisan dan minuman, juga bisa di olah menjadi produk kecantikan seperti masker yang bermanfaat untuk mengangkat sel kulit mati diwajah,” ungkapnya.

Dengan potensi ekonomis dan keindahan alamnya, Desa Lemukutan di Bengkayang terus berupaya mempertahankan keseimbangan antara tradisi budidaya lokal dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

“Untuk sekaramg saya mengharapkan agar masyarakat bisa kembali membudidayakan Rumput laut, karena sampai saat ini permintaan dan harga yang cukup tinggi, bahkan bisa sampai Rp.200.000 Per Kilogram,” pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS