Pacaran di Bulan Ramadhan, Benarkah Bisa Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya dari Ustadz Mahbub Maafi

Ilustrasi Pacaran. Pacaran bisa membatalkan puasa. (Pixabay.com)

Suara Kalbar – Umat Muslim di seluruh dunia saat ini sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Namun, ada beberapa persoalan yang kerap menjadi pertanyaan, salah satunya adalah mengenai hukum berpacaran saat berpuasa. Ustadz Mahbub Maafi memberikan penjelasan terkait hal tersebut.

Melansir dari Suara.com — Jaringan Suarakalbar.co.id, Sabtu (25/3/2023), menurut Ustadz Mahbub Maafi, meskipun berpacaran dengan bergandengan tangan dan memandang lawan jenis tidak secara langsung membatalkan puasa, namun kemungkinan besar puasa tersebut tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sebelum berpacaran di bulan Ramadhan, duduk masalahnya harus diketahui terlebih dahulu.

Pertama-tama, penting untuk memahami definisi dari pacaran itu sendiri. Jika pacaran diartikan sebagai berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, maka hal tersebut sangat diharamkan. Oleh karena itu, berpacaran semacam ini bisa jadi akan membatalkan puasa yang sedang dijalankan.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali berkhalwat (berduaan) dengan perempuan yang bukan mahram karena yang ketiga di antara mereka adalah setan,” (HR Ahmad).

Hadits ini mengandaikan bahwa seorang laki-laki yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan hari akhir dilarang untuk berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Bahkan, menurut Imam Abu Ishaq asy-Syirazi, shalat berdua dengan yang bukan mahram-pun dimakruhkan.

Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini:

“Dan dimakruhkan seorang laki-laki shalat dengan seorang perempuan ajnabiyyah karena didasarkan pada sabda Nabi SAW, ‘Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan karena yang ketiga di antara mereka adalah setan.” (Abu Ishaq asy-Syirazi, al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, I, h. 98)

Menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab bahwa yang dimaksud dengan makruh oleh Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dalam konteks ini adalah makruh tahrim yang statusnya itu sama dengan haram.

“Yang dimaksud makruh (dalam pernyataan Abu Ishaq Asy-Syirazi di atas) adalah makruh tahrim. Hal ini apabila si laki-laki tersebut berduaan dengan seorang perempuan ajnabiyyah atau bukan mahramnya.” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz IV, h. 173).

Bergandeng tangan dan memandang lawan jenis tidaklah membatalkan puasa. Namun dapat berujung puasanya tidak diterima di sisi Allah karena ia melakukan apa yang telah diharamkan.

Lain ceritanya apabila dalam memandang kemudian menimbulkan syahwat sampai mengeluarkan air mani maka akan membatalkan puasa. Sebab, salah satu hal yang dapat membatalakan puasa adalah keluarnya mani.

Dalam kasus ini, menurut Syaikh Nawawi Banten, sepanjang hal itu menjadi kebiasaannya.

Demikian juga puasanya menjadi batal jika seseorang memandang lawan jenisnya kemudian merasa akan keluar mani tetapi ia tetap memandang sampai keluar maninya.

“Seandainya ia memperhatikan dengan seksama (sesuatu) atau memikirkannya kemudian keluar air mani maka puasanya tidak batal sepanjang keluar maninya tidak dari kebiasaannya sebab melihat atau membayangkannya. Jika tidak demikian maka keluarnya mani membatalkan puasa.

Dan jika ia merasa mani akan keluar sebab mamandangnya kemudian ia tetap memandang (menikmatinya) sehingga keluar mani maka dapat dipastikan membatalkan puasa.” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi`in, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 187).

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS