SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Headline Sekolah Bumi Calon Ayah di Pontianak Dorong Laki-laki Jadi Mitra Setara dan Penjaga Bumi

Sekolah Bumi Calon Ayah di Pontianak Dorong Laki-laki Jadi Mitra Setara dan Penjaga Bumi

Potret peserta dalam kegiatan Sekolah Bumi Calon Ayah di Aula SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Sabtu (06/06/2026). SUARAKALBAR.CO.ID/Maria

Pontianak (Suara Kalbar) – Sebanyak 19 peserta yang terdiri dari calon ayah, ayah muda, dan tokoh masyarakat mengikuti kegiatan Sekolah Bumi Calon Ayah di Aula SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Sabtu (06/06/2026) lalu.

Program ini menjadi ruang belajar bagi laki-laki untuk memperkuat peran mereka sebagai ayah yang bertanggung jawab, mitra setara dalam keluarga, sekaligus agen perubahan bagi lingkungan.

Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian Sekolah Bumi yang sebelumnya menghadirkan Sekolah Bumi Calon Ibu. Melalui program ini, peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan anak, pembagian peran domestik yang adil, serta penerapan gaya hidup rendah karbon untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Penyelenggaraan kegiatan ini berangkat dari masih kuatnya pandangan bahwa kesejahteraan keluarga merupakan tanggung jawab perempuan semata. Padahal, keterlibatan aktif laki-laki sebagai ayah dan suami dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membangun keluarga yang sejahtera dan setara.

Selain itu, pola konsumsi rumah tangga juga dinilai berkontribusi terhadap krisis iklim. Karena itu, laki-laki yang kerap menjadi pengambil keputusan dalam keluarga memiliki peran strategis dalam mendorong gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Bunda Hening Parlan, menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Ia menyebut sekitar 350 juta perempuan atau 41 persen perempuan di 14 negara pernah mengalami kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga, maupun kekerasan seksual.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni mengubah cara pandang mengenai relasi dalam keluarga, membangun peran laki-laki yang saling memahami dan mengerti, serta tidak melarikan persoalan keluarga ke hal-hal negatif seperti pinjaman online.

“Keluarga adalah madrasah pertama. Keluarga adalah harapan. Keluarga adalah cinta, dan keluarga adalah masa depan,” ungkapnya.

Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Pontianak, Octavia Shinta, mengatakan Sekolah Bumi Calon Ayah hadir untuk membekali laki-laki agar mampu menjadi agen perubahan dalam pengasuhan anak sekaligus membuka wawasan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

Pesan mengenai kepedulian lingkungan turut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Wasilun. Ia mengajak peserta menyadari bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui kebiasaan sederhana yang ramah lingkungan.

Sementara itu, perwakilan Kementerian Agama Kota Pontianak, Ruslan, mengingatkan bahwa peran calon ayah tidak hanya sebatas pencari nafkah. Menurutnya, ayah juga perlu bekerja sama dengan istri dan anak untuk membangun keluarga yang harmonis serta tumbuh bersama.

Salah satu keunikan kegiatan ini adalah hadirnya perspektif lintas agama yang membahas makna dan peran ayah dalam keluarga.

Dari perspektif Konghucu, Js. Adi Sucipto, memperkenalkan konsep an he jia ting yang mengajarkan bahwa keharmonisan keluarga tidak hanya berdampak pada kehidupan rumah tangga, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan alam semesta.

Perwakilan Kristen, Pendeta Syahdin L. Nyarong, mengingatkan bahwa “nafsu tidak boleh melebihi iman”. Menurutnya, menjadi ayah bukan sekadar memimpin keluarga, melainkan menghadirkan kasih melalui kehadiran, kesediaan mendengar, dan kemampuan mengasihi tanpa syarat.

Sementara itu, Pandita Liliyana, dari perspektif Buddha mengangkat ajaran Sigalovada Sutta sebagai pedoman kehidupan berumah tangga. Ia menekankan pentingnya saling menghormati, mendukung, dan bertumbuh bersama dengan berlandaskan nilai saddha (keyakinan), sila (moralitas), caga (kemurahan hati), khanti (kesabaran), dan panna (kebijaksanaan).

Dari perspektif Hindu, Kompol Purn. I Wayan Sudiyana menjelaskan bahwa memasuki fase grahasta atau kehidupan berumah tangga tidak hanya membutuhkan kesiapan materi, tetapi juga kesiapan iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi keluarga.

Sementara itu, K.H. Muhammad Azman Alka, dari perspektif Islam mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa, “Barangsiapa yang siap menikah maka nikahkanlah.” Menurutnya, kesiapan tersebut mencakup kesiapan mental, emosional, dan tanggung jawab dalam membina keluarga. Kepemimpinan dalam keluarga, katanya, diwujudkan melalui keteladanan, tanggung jawab, kedekatan kepada Allah, serta kemampuan berserah diri kepada-Nya.

Dari perspektif Katolik, E. Maran, menegaskan bahwa seorang ayah memiliki panggilan untuk menghadirkan kasih, perlindungan, keteladanan, dan bimbingan iman bagi pasangan serta anak-anaknya. Dalam sesi talkshow, ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga serta pengelolaan keuangan rumah tangga yang menjadi tanggung jawab bersama suami dan istri.

Melalui talkshow lintas iman, para narasumber menegaskan bahwa keluarga yang sehat dibangun melalui komunikasi, keteladanan, kerja sama, penghormatan, kesabaran, dan cinta kasih. Dalam pandangan para pemateri, ayah bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga figur yang membimbing, mendengar, memahami, melindungi, dan hadir secara utuh bagi keluarganya.

Melalui Sekolah Bumi Calon Ayah, para peserta diharapkan mampu mengubah pola pikir mengenai pentingnya pembagian peran domestik yang adil, memperkuat tanggung jawab ekologis dalam keluarga, serta membangun solidaritas laki-laki sebagai pelopor perubahan untuk mewujudkan keadilan gender dan keberlanjutan lingkungan.

Program ini juga diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kesetaraan peran dalam keluarga, menumbuhkan kepemimpinan iklim di tingkat rumah tangga, serta memperkuat dukungan antarlaki-laki dalam mempraktikkan nilai-nilai ayah yang peduli terhadap keluarga dan lingkungan.

Kegiatan tersebut menegaskan bahwa pembangunan masa depan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan institusi keluarga. Dari keluarga yang setara akan lahir generasi yang tumbuh dalam kasih, sementara dari keluarga yang peduli terhadap sesama dan lingkungan akan lahir generasi yang bertanggung jawab dan berdaya.

Penulis: Maria

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play