UI Gelar FGD Bersama APKASINDO Kalbar dan Perwakilan Petani Sawit

  • Bagikan
FGD antara LPEM FEB UI dan DPW APKASINDO serta pewakilan lima petani sawit kabupaten/kota di Hotel Mercure Pontianak Senin (4/7/2022). Suarakalbar.co.id/Kurnadi

Pontianak (Suara Kalbar) – Lembaga Penyelidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menggelar FGD atau Focus Group Discussion bersama dengan perwakilan Petani kelapa sawit dari Kubu Raya, Melawi, Sanggau , Landak, Bengkayang, Sanggau dan Singkawang yang diselenggarakan di Ruang Jelutung Iantai II Hotel Mercure, Pontianak, Senin (4/7/2022).

Dihadiri perwakilan dari Tim Peneliti LPEM FEB UI Dr.Eugenia Mardanugraha, Dr Surjadi, Budhi Ismayadi, S.E, M.E, Wahyu Pramono, SE,M Sc, Desi Setiadestriati, S.Si, Syahda Sabrina, S.E.
Dewan Pimpinan Wilayah APKASINDO Provinsi Kalimantan Barat Indra Rustandi, dan Agus Kuswara, Marianto, dari Kota Singkawang, Kurnadi, dari Kabupaten Bengkayang, Herwan dari Kabupaten Landak, Seno dari Kabupaten Sanggau dan Arif dari Kabupaten Kubu Raya

Eugenia Mardanugraha mengatakan dalam rangka penelitian yang berjudul dampak kebijakan pengendalian harga minyak goreng terhadap kesejahteraan petani swadaya.

“Seperti kita ketahui bahwa harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini berada di level yang sangat rendah, akibat kebijakan pemerintah untuk mengendalikan kenaikan harga minyak goreng, diantaranya pelarangan ekspor CPO dari tanggal 28 April hingga 22 Mei 2022,” ujar Eugenia Mardanugraha.

Meskipun kebijakan tersebut telah dicabut, namun harga TBS sampai hari ini tidak kunjung naik sesuai dengan harapan petani sawit, dalam hal ini petani sawit swadaya mengalami dampak terburuk.

Perwakilan Petani Kelapa Sawit dari Kota Singkawang Marianto mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang kian anljok hingga petani merugi dan terancam bangkrut.

“Selain itu pupuk mahal dan tentunya berpengaruh kepada keberlangsungan hidup dalam keluarga seperti untuk keperluan anak sekolah dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu dari DPW APKASINDO Kalimantan Barat Agus Kuswara dalam paparannya menyampaikan beberapa permasalah yang dialami petani sawit dengan anjloknya harga TBS.

Pada prinsipnya DPW Apkasindo Kalbar sangat menyambut baik atas kegiatan yang dilaksanakan pihak LPEM FEB UI.

“Saya selaku Wasekwil DPW Apkasindo Kalbar mewakili DPW Apkasindo Kalbarmengharapkan hasil diskusi ini justru dapat merupakan suatu referensi oleh pihak LPEM FEB UI untuk segera tersampaikan ke pemangku kepentingan di pusat agar tata niaga TBS dapat kembali normal,” kata Agus.

Mengingat pada saat ini, kata Agus, kondisi harga benar-benar parah berharap untuk mempercepat ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan produk turunannya berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No 38/tahun 2022 tentang Percepatan Penyaluran Crude Palm Oil (CPO).

Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Oil, Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Olein, dan Used Cooking Oil (UCO) melalui ekspor.

“Yang mana pada Pasal 2 Permendag tersebut menetapkan, program percepatan diberlakukan terhadap pengeluaran barang dari dalam daerah pabean keluar daerah pabean, pengeluaran barang dari KPBPB untuk tujuan ke luar daerah pabean, dan berlaku untuk semua eksportir. Yaitu untuk CPO, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, dan UCO,”pungkasnya.

 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis: KurnadiEditor: Suhendra
  • Bagikan