Benarkah Medsos selalu Berdampak Negatif bagi Remaja?

  • Bagikan
Ilustrasi media sosial (Pixabay)

Jakarta (Suara Kalbar) – Media sosial bagi orang-orang khususnya remaja memiliki sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, media sosial bisa memungkinkan remaja berinteraksi sosial, menurut Psikolog klinis yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Nanda Rossalia, M.Psi.

“Dia dapat intimacy, bukan hanya di hubungan romantis tetapi di semua aspek hubungan siapapun misalnya dengan kolega, orang tua, keluarga besar,” ujar Nanda dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Sabtu.

Bila mengambil contoh Instagram, media sosial ini dikatakan bisa menjadi sarana mengekspresikan diri dan emosi para penggunanya. Hanya saja, Nanda mempertanyakan apakah sudah benar emosi yang disalurkan itu.

Mengutip pernyataan peneliti bidang psikologi Samantha Henderson, Michael Gilding menuturkan, pemanfaatan media sosial secara bijak yakni mampu mengendalikan diri dengan produktif dan positif, maka dia dapat menumbuhkan trust atau kepercayaan yang sangat berperan dalam kualitas hubungan sosial individu.

“Tetapi ini juga bisa berlaku sebaliknya. Trust itu terkikis karena media sosial. Ini menjadi isunya remaja,” kata Nanda.

Di sisi lain, media sosial juga dapat memunculkan dampak negatif salah satunya karena mengganggu keberfungsian manusia sebagai makhluk hidup dan sosial. Menurut Nanda, salah satu kondisi yang dianggap memprihatinkan dalam hal ini yakni membuat renggangnya hubungan.

“Susah dibuat batasan. Sering cek status. Susah lepas dari media sosial sehingga kewajiban lain terabaikan,” tutur Nanda.

Nanda mengungkapkan, sekitar 90 persen remaja menggunakan internet secara reguler dan 70 persen di antaranya pengguna aktif media sosial dan memiliki setidaknya satu profil di media sosial.

Sementara khusus untuk Instagram, survei yang dilakukan NapoleonCat tahun 2020 menunjukkan, pengguna aktif di Indonesia mencapai 62.470.000, dengan 50 persennya perempuan berusia 18-24 tahun.

“Mungkin remaja banyak menggunakan itu untuk berinteraksi. Mau disalahin enggak bisa juga karena kondisi kita dua tahun terakhir seperti ini. Tetapi kita tetap harus mengajak mereka mengeksplorasi hubungan sosialnya,” demikian kata dia.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan