Mendistribusikan Zakat

  • Bagikan

                                                        Oleh : Hamidi Mi’raj, S Ag, M.Pd                     

Zakat merupakan salah satu ajaran Islam yang wajib dilaksanakan oleh orang yang tergolong mampu menurut syariat. Zakat ada dua macam yaitu zakat fitrah (zakat diri) dan zakat maal (zakat harta).  Menurut Imam Syafi’i, zakat fitrah boleh dikeluarkan atau dibayarkan sejak awal bulan Ramadhan sampai  1 Syawal sebelum dilaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara zakat maal boleh dikeluarkan kapan saja jika sudah terpenuhi nishab dan haulnya. Nishab artinya  kadar atau ukuran minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Haul artinya masa kepemilikan harta (setahun).

Secara umum pendistribusian zakat ditujukan kepada 8 (delapan) asnaf (golongan yang berhak menerima zakat), berdasarkan firman Allah Swt. pada surah At-Taubah ayat 60 : 

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fisabilillah), dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Bolehkah mendistribusikan zakat kepada sebagian saja (kurang) dari delapan asnaf tersebut ? Beberapa ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut Imam Syafi’i, “Tidak boleh diberikan zakat itu kepada dua tiga bagian saja dari yang delapan, tetapi harus dicukupkan membagi delapan, atau sebanyak golongan yang ada pada masa membagi itu”. Imam Abu Hanifah berkata, “Zakat itu tidak harus dibagi delapan, boleh diberikan kepada seseorang (segolongan) saja dari golongan yang delapan itu”. Sementara Imam Ahmad bin Hambal berpendapat, “Zakat itu boleh diberikan kepada golongan-golongan yang dirasa penting saja”.

Terlepas dari adanya perbedaan tentang pendistribusian zakat seperti yang disebutkan di atas, khusus mengenai zakat fitrah hendaknya lebih didistribusikan kepada orang-orang fakir dan miskin. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diberitakan oleh Ibnu Abbas r.a. :

“Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari segala perkataan yang keji dan buruk yang mereka lakukan dalam berpuasa dan untuk menjadi makanan bagi orang yang miskin”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Berdasarkan seruan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, bahwa pembayaran dan pendistribusian zakat fitrah melalui amil masjid/surau yang menerima penyetoran zakat fitrah. Sedangkan untuk zakat maal yang ada disetiap UPZ (Unit Pelaksana Zakat) masjid dan lainnya seluruhnya dikumpulkan ke BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional)  Kota/Kabupaten. 

Penyetorannya dapat diserahkan langsung ke BAZNAS dan pendistribusiannya oleh BAZNAS Kabupaten/Kota menyesuaikan dengan jumlah asnaf dan jumlah orang yang ada pada masing-masing asnaf saat membagi. 

Dalam pendistribusian zakat maal ini, perlu dipikirkan dan dilakukan oleh BAZNAS dari tahun ke tahun upaya mengurangi jumlah mustahik (orang yang berhak menerima zakat) melalui distribusi produktif. Maksudnya, penyaluran zakat maal ke mustahik dalam bentuk barang atau uang tunai sebagai modal usaha. 

Tetapi mustahik yang akan mendapatkan modal usaha ini perlu dilatih atau diberi keterampilan lebih dahulu, agar modal yang diberikan itu betul-betul dapat dikembangkan. Ketika mustahik tersebut menjalankan usahanya perlu ada pendampingan  untuk membimbing mereka agar usaha yang dijalankan dapat meningkatkan taraf hidup mereka, sehingga beberapa waktu ke depan diharapkan mustahik zakat tadi berubah menjadi muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat).

Latihan atau keterampilan untuk mustahik ini misalnya keahlian menggunting rambut, menjahit pakaian, membuat masakan-masakan, dan lain-lain.

Imam Nawawi berkata dalam Kitab Al-Majmu’: “Apa yang diberikan kepada orang fakir dan miskin, hendaklah dapat mengeluarkan mereka dari lembah kemiskinan kepada taraf hidup yang layak. Ini berarti ia mesti menerima sejumlah barang atau uang tunai yang dapat memenuhi semua kebutuhannya”.  

Kalau distribusi produktif ini dapat direalisasikan dengan sungguh-sungguh insya Allah dari tahun ke tahun, disatu sisi jumlah mustahik miskin akan berkurang dan disisi lainnya jumlah muzakki akan bertambah. Semoga !

*) Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syarif Abdurrahman Singkawang.

 

  • Bagikan
You cannot copy content of this page