Pembantaian di Sigi, Staff PPIP Himapol Fisip Untan : Masyarakat Tidak Boleh Terprovokasi

  • Bagikan

 

Staff Divisi Pengembangan dan Penelitian Isu-Isu Politik (PPIP) Himapol FISIP Untan, Apriansyah.

“Tragedi kemanusiaan di sigi Sulawesi Tengah itu sudah diluar kemanusiaan dan keadaban,”kata Staff Divisi Pengembangan dan Penelitian Isu-Isu Politik (PPIP) Himapol FISIP Untan, Apriansyah

Oleh : Aldi Mayung Sera

Staff Divisi Pengembangan dan Penelitian Isu-Isu Politik (PPIP) Himapol FISIP Untan, Apriansyah mengutuk keras kasus pembantaian satu keluarga di sigi Sulawesi tengah sebagai kasus kemanusiaan dan dapat merusak keadaban kemanusiaan dimana harus manjadi perhatian penuh oleh masyarakat itu sendiri maupun pemerintah, terutama pemerintah dimana seharusnya bisa memberikan rasa aman di masyarakat.

“Menurut saya kasus seperti terorisme yang menebar ketakutan dimasyarakat harus bisa diselesaikan jika tidak ini bisa mengancam kesatuan dan kedaulatan negara republik Indonesia, tragedi kemanusiaan di sigi Sulawesi Tengah itu sudah diluar kemanusiaan dan keadaban, saya harap semua golongan masyarakat dan pemerintah dapat bersatu dan bekerja sama untuk menangani dan memberantas terorisme agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali, karena ini merupakan musuh semua orang dan diluar prikemanusian,”katanya.

Kasus ini bermula dari pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal yang menyebabkan korban jiwa sebanyak 4 orang dan pembakaran beberapa buah rumah lainnya. Kejadian tersebut terjadi pada jumpat, 27 september 2020 sekitar pukul  08.00 WITA di dusun 5 tokelomo desa lembantongoa, kabupaten sigi. Menurut Mahfud, selaku Menko Polhukam pembantaian ditenggarai sebagai sisa-sisa kelompok santoso atau biasa dikenal Mujahidin Indonesia Timur (MIT). MIT merupakan kelompok militan di poso yang bersumpah setia pada ISIS. Setelah Santoso meninggal pada 2016, kelompok itu dipimpin oleh Ali Kalora.

Staff PPIP Himapol, Apriansyah mengharapkan ini benar benar di usut tuntas. Sebab kasus ini tentunya sangat berpengaruh pada rasa aman masyarakat setempat. Ini merupakan ancaman yang tidak boleh disepelekan.

Sejauh yang sudah di lakukan oleh pemerintah dimana adanya pengejaran yang dilakukan oleh SatGas (Satuan Tugas) Operasi Tinombala yang mana satuan tugas ini merupakan gabungan dari TNI dan Polri yang bergerak dibidang antiterorisme sebagai langkah yang patut di apresiasi. Namun dibalik itu juga, selama para teroris tersebut belum di tangkap, masyarakat pasti akan tetap merasa tidak aman. Untuk itu diharapkan satuan tugas yang telah dibentuk ini bisa melakukan tugasnya secara tuntas sampai ke akar-akarnya.

“Seperti yang kita ketahui, para teroris mempunyai tujuan utama yaitu menebar rasa takut dan ingin memecah belah bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama semua golongan masyarakat untuk tetap bersatu melawan kejahatan yang tidak berperikemanusiaan ini,” ucapnya.

Dalam hal ini, Apriansyah juga mengharapkan kepada semua masyarakat untuk tidak terpancing terhadap isu isu provokasi yang mengatasnamakan agama. Hal ini didasarkan bahwa semua agama tidak ada yang mengajarkan dan membenarkan perilaku pembunuhan tersebut. Masyarakat harus tetap fokus pada permasalahan utama yaitu untk menumpas teroris yang mengganggu keamanan dan ketentraman  masyarakat.

“Terorisme merupakan musuh kita bersama. kita harus tetap satu, jangan mudah terpecah belah  maupun terprovokasi apalagi oleh oknum yang memanfaatkan keberagaman Etnis maupun agama yang ada di Indonesia ini untuk menebarkan perselisihan yang mengatasnamakan agama,” terang Apriansyah.

Penulis adalah Koordinator Divisi PPIP Himapol Fisip Untan

  • Bagikan
You cannot copy content of this page