SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Heatstroke saat El Nino Bisa Berakibat Fatal, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Heatstroke saat El Nino Bisa Berakibat Fatal, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi El Nino Godzilla. (ChatGPT/Beritasatu.com)

Suara Kalbar – Gelombang panas yang dipicu fenomena El Nino bukan hanya membuat cuaca terasa lebih menyengat, tetapi juga meningkatkan risiko heatstroke, kondisi gawat darurat medis yang dapat menyebabkan kerusakan organ hingga kematian apabila tidak segera ditangani.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa paparan suhu ekstrem dalam waktu lama menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius selama periode El Nino. Banyak orang menganggap cuaca panas hanya menyebabkan rasa gerah atau kelelahan biasa, padahal suhu udara yang terus meningkat dapat membuat sistem pengatur suhu tubuh gagal bekerja sehingga memicu heatstroke yang membutuhkan penanganan medis segera.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali penyebab, gejala, dampak, hingga langkah pencegahan heatstroke agar dapat mengurangi risiko komplikasi yang membahayakan jiwa.

El Nino Meningkatkan Risiko Heatstroke

Secara meteorologis, El Nino menyebabkan berkurangnya curah hujan, menurunnya tutupan awan, serta meningkatnya heat index atau indeks panas, yakni gabungan antara suhu udara dan tingkat kelembapan.

Kondisi tersebut membuat tubuh lebih lama terpapar panas ekstrem. Menurut WHO, cuaca panas yang dipicu El Nino dapat meningkatkan risiko kematian akibat panas karena kombinasi suhu tinggi dan dehidrasi menghambat kemampuan tubuh menghasilkan keringat untuk mendinginkan diri.

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan heatstroke merupakan bentuk paling berat dari penyakit akibat paparan panas (heat-related illness).

Heatstroke terjadi ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius, sementara sistem pengatur suhu tubuh tidak lagi mampu bekerja secara normal. Ketika suhu udara dan kelembapan sama-sama tinggi, keringat sulit menguap sehingga panas terperangkap di dalam tubuh dan suhu organ-organ vital dapat meningkat hanya dalam hitungan menit.

Gejala Heatstroke yang Perlu Diwaspadai

Heatstroke dapat berkembang dengan sangat cepat sehingga mengenali gejalanya menjadi hal yang sangat penting.

Gejala yang umum muncul antara lain suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, disertai perubahan kondisi mental seperti kebingungan, sulit berbicara, mudah marah, gelisah, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Penderita juga biasanya memiliki kulit yang terasa sangat panas dan memerah. Pada heatstroke akibat cuaca panas, kulit bahkan cenderung kering karena tubuh sudah tidak mampu lagi menghasilkan keringat.

Selain itu, penderita dapat mengalami mual, muntah, napas cepat dan pendek, serta denyut jantung yang meningkat tajam akibat tubuh berusaha membuang panas berlebih.

Heatstroke Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ

Heatstroke bukan sekadar dehidrasi berat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi berbagai organ tubuh.

Laporan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet menyebutkan peningkatan suhu tubuh yang berlangsung terlalu lama berisiko memicu multiorgan failure atau kegagalan banyak organ.

Otak menjadi salah satu organ yang paling rentan mengalami kerusakan. Suhu tubuh di atas 40 derajat Celsius dapat merusak sel saraf sehingga memicu pembengkakan otak, kejang berulang, hingga gangguan neurologis permanen.

Jantung juga bekerja jauh lebih keras karena harus memompa darah ke permukaan kulit untuk membantu melepaskan panas. Beban kerja tersebut dapat memicu gangguan irama jantung bahkan henti jantung, terutama pada lansia maupun penderita penyakit kardiovaskular.

Selain itu, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rhabdomyolysis, yaitu kerusakan jaringan otot yang membuat zat-zat beracun masuk ke aliran darah. Kondisi tersebut dapat membebani ginjal hingga meningkatkan risiko gagal ginjal akut, bahkan merusak fungsi hati.

Kelompok yang Paling Berisiko

Menurut World Meteorological Organization (WMO), terdapat beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami heatstroke selama periode El Nino.

Kelompok tersebut meliputi pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, seperti petani, buruh bangunan, pengemudi ojek, dan pekerja logistik yang terpapar sinar matahari dalam waktu lama.

Risiko juga lebih tinggi dialami oleh lansia dan anak-anak karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu belum berkembang sempurna atau telah mengalami penurunan.

Selain itu, penderita penyakit kronis seperti gangguan jantung, hipertensi, dan diabetes juga lebih rentan mengalami komplikasi serius ketika terpapar cuaca panas ekstrem.

Cara Mencegah Heatstroke saat El Nino

CDC menyarankan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko heatstroke selama cuaca panas ekstrem.

Pertama, pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih sekitar dua hingga tiga liter setiap hari tanpa menunggu rasa haus. Minuman berkafein tinggi maupun alkohol sebaiknya dibatasi karena dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh.

Kedua, hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00, ketika paparan sinar matahari berada pada puncaknya.

Ketiga, gunakan pakaian yang longgar, berbahan ringan, dan berwarna cerah agar tubuh lebih mudah melepaskan panas.

Pertolongan Pertama Saat Terjadi Heatstroke

Apabila menemukan seseorang yang menunjukkan gejala heatstroke, segera pindahkan korban ke tempat yang teduh atau ruangan berpendingin udara.

Longgarkan pakaian yang dikenakan, kompres tubuh menggunakan air dingin terutama pada area leher, ketiak, dan selangkangan untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

Setelah itu, segera hubungi layanan medis darurat agar korban mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Heatstroke merupakan kondisi gawat darurat yang dapat berkembang hanya dalam hitungan menit. Penanganan yang cepat sangat menentukan keselamatan penderita serta dapat mencegah terjadinya kerusakan organ permanen maupun kematian.

Selama periode El Nino, cuaca panas ekstrem tidak boleh dianggap sepele. Dengan mengenali gejala heatstroke, menjaga tubuh tetap terhidrasi, membatasi aktivitas di bawah terik matahari, serta mengetahui langkah pertolongan pertama, risiko dampak fatal akibat paparan panas dapat diminimalkan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play