El Nino Tingkatkan Risiko Berbagai Penyakit, Kenali 7 Ancaman Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Suara Kalbar – Fenomena El Nino diperkirakan masih akan memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia hingga awal kuartal I 2027. Intensitasnya bahkan berpotensi mencapai kategori kuat sehingga musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia juga berpeluang mengalami fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026. Kombinasi kedua fenomena tersebut diperkirakan memperparah kekeringan di sejumlah wilayah serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan maupun ketersediaan air bersih, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Data World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan suhu udara yang lebih tinggi, perubahan kelembapan, penurunan kualitas udara, hingga terbatasnya akses terhadap air bersih dapat memicu munculnya berbagai penyakit.
Kedua lembaga tersebut menegaskan bahwa dampak El Nino terhadap kesehatan tidak boleh dianggap sepele. Kondisi cuaca yang semakin panas menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya berbagai mikroorganisme penyebab penyakit sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan suhu ekstrem.
Berikut tujuh penyakit yang perlu diwaspadai selama periode El Nino.
1. Heat Illness dan Heatstroke
Cuaca panas ekstrem selama El Nino meningkatkan risiko penyakit akibat paparan panas, mulai dari heat exhaustion hingga heatstroke.
Menurut CDC, heatstroke merupakan kondisi gawat darurat medis yang terjadi ketika suhu inti tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celsius dan tubuh tidak lagi mampu mengendalikan panas secara normal.
Gejalanya meliputi pusing berat, kulit terasa panas dan memerah, kebingungan, napas cepat, hingga penurunan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, heatstroke dapat menyebabkan kerusakan organ permanen bahkan mengancam jiwa.
Untuk mengurangi risikonya, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan saat matahari sedang terik, mengenakan pakaian longgar berbahan ringan, serta memperbanyak minum air putih tanpa menunggu rasa haus.
2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Musim kemarau yang panjang membuat kualitas udara cenderung menurun.
Minimnya curah hujan menyebabkan debu dan polutan lebih mudah beterbangan. Di sisi lain, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan menghasilkan kabut asap yang memperburuk kondisi udara.
WHO menyebut peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 selama periode kekeringan berkaitan dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi tenggorokan, hingga kambuhnya penyakit asma.
Risiko tersebut dapat dikurangi dengan menggunakan masker berstandar N95 atau KF94, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan penyaring udara (air purifier) apabila memungkinkan.
3. Demam Berdarah, Malaria, dan Penyakit Akibat Nyamuk
Meski identik dengan musim kemarau, El Nino tetap dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan nyamuk.
Perubahan pola hujan yang tidak menentu sering menimbulkan genangan air. Selain itu, kebiasaan menyimpan cadangan air dalam wadah terbuka saat terjadi krisis air menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.
Suhu udara yang lebih hangat juga mempercepat perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk sehingga mempercepat penularan penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, dan malaria.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan losion antinyamuk dan kawat kasa pada ventilasi rumah.
4. Diare dan Kolera akibat Krisis Air Bersih
Kekeringan menyebabkan ketersediaan air bersih semakin terbatas.
Ketika sumber air menyusut, konsentrasi bakteri berbahaya seperti Vibrio cholerae dan Escherichia coli dapat meningkat sehingga memperbesar risiko diare, disentri, maupun kolera.
CDC mengingatkan masyarakat agar selalu menggunakan air yang aman untuk diminum dan memasak.
Air minum sebaiknya direbus hingga mendidih, makanan dijaga kebersihannya, serta kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir tetap diterapkan sebelum makan maupun setelah dari toilet.
5. Dehidrasi dan Gangguan Ginjal
Paparan suhu tinggi membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit lebih cepat melalui keringat.
Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, dehidrasi dapat terjadi dan meningkatkan beban kerja ginjal.
Sejumlah penelitian menunjukkan paparan panas ekstrem secara berulang tanpa asupan cairan yang cukup meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal hingga gagal ginjal akut.
Untuk mencegahnya, orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar dua hingga tiga liter cairan setiap hari atau lebih sesuai tingkat aktivitas. Buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka, melon, jeruk, dan mentimun juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
6. Infeksi Kulit dan Jamur
Cuaca panas menyebabkan tubuh lebih mudah berkeringat.
Apabila kebersihan tubuh kurang terjaga atau ketersediaan air bersih terbatas, kondisi tersebut menjadi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri pada kulit.
Akibatnya, risiko biang keringat (heat rash), infeksi jamur (tinea), hingga dermatitis menjadi lebih tinggi selama musim kemarau.
Untuk mengurangi risikonya, segera ganti pakaian yang basah oleh keringat, mandi secara teratur menggunakan air bersih, dan pastikan tubuh dikeringkan dengan baik setelah mandi.
7. Gangguan Kesehatan Mental
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
WHO menyoroti meningkatnya fenomena eco-anxiety, yakni kecemasan yang dipicu oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut antara lain petani, nelayan, serta masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada kondisi cuaca.
Tekanan ekonomi akibat gagal panen, kekeringan berkepanjangan, maupun cuaca yang sulit diprediksi dapat memicu stres, gangguan tidur, hingga depresi.
Menjaga komunikasi dengan keluarga, saling memberikan dukungan sosial, menjalankan aktivitas yang menyenangkan, serta membatasi paparan informasi negatif secara berlebihan dapat membantu menjaga kesehatan mental selama periode El Nino.
El Nino diperkirakan masih memengaruhi cuaca Indonesia hingga awal 2027. Selain meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan, fenomena ini juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari heatstroke, ISPA, penyakit akibat nyamuk, diare, dehidrasi, infeksi kulit, hingga gangguan kesehatan mental.
Karena itu, menjaga kecukupan cairan, mengurangi paparan panas berlebih, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala yang mengkhawatirkan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan selama musim kemarau akibat El Nino.
Sumber: Beritasatu.com





