Harmoni di Bumi Khatulistiwa: Dari Meriam Karbit, Naik Dango, Hingga Cap Go Meh
Oleh: Fitri Yani, S.Akun
Dentuman meriam karbit di tepian Sungai Kapuas, khidmatnya ritual syukur panen Naik Dango, hingga semarak warna-warni Festival Cap Go Meh, Kalimantan Barat senantiasa merayakan keberagaman dalam denyut tradisi yang selaras. Ketiga perayaan kebudayaan ini bukan sekadar warisan leluhur yang dijaga turun-temurun, melainkan sebuah panggung perjumpaan hidup yang merajut kerukunan dan persaudaraan lintas elemen masyarakat secara damai. Di sanalah kita melihat bagaimana sebuah perayaan dapat menjadi ruang kebersamaan bagi banyak orang.
Menurut saya, moderasi beragama di Kalimantan Barat tidak lahir dari imbauan, melainkan dari kebiasaan merayakan bersama. Tulisan ini mencoba melihat wujudnya dalam tiga tradisi yang akrab di daerah kita: meriam karbit, Naik Dango, dan Cap Go Meh.
Memahami Moderasi Beragama
Moderasi beragama dapat dipahami sebagai sikap beragama yang berada di jalan tengah, yakni mantap dalam keyakinan sendiri sambil tetap menghargai sesama. Menurut Kementerian Agama RI (2019), indikatornya antara lain komitmen kebangsaan, toleransi dan penerimaan terhadap budaya lokal. Dalam Islam, nilai ini dekat dengan konsep tawassuth (jalan tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (saling menghargai). Di Kalimantan Barat, wujudnya dapat kita lihat dalam perayaan budaya yang dinikmati bersama.
Tiga Tradisi, Satu Ruang Bersama
Meriam karbit: agama yang berpadu dengan budaya lokal. Tradisi masyarakat Melayu Pontianak ini digelar untuk menyambut Idulfitri. Menurut pemberitaan RRI, pada IdulFitri 1447 H tercatat 229 meriam tersebar di 42 lokasi sepanjang Sungai Kapuas. Moderasi beragama terlihat dari cara hari raya keagamaan dirayakan. Syiar Idulfitri berpadu dengan ekspresi budaya setempat, yang dalam moderasi disebut sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Tepian sungai juga terbuka bagi siapa saja yang ingin menyaksikan dan bersilaturahmi, sehingga kegembiraan satu masyarakat dapat dirasakan banyak orang. Inilah wujud tasamuh dalam keseharian.
Naik Dango: menghormati dengan tetap menjaga keyakinan. Tradisi Naik Dango masyarakat Dayak Kanayatn menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil panen dengan tetap menghormati dan menjaga keyakinan setempat. Seperti dilaporkan RRI Pontianak, seluruh warga kampung berkumpul untuk mengantarkan padi hasil panen pertama ke dalam dango, yakni lumbung padi warga. Sepengamatan saya, warga dari latar belakang lain yang turut hadir menunjukkan sikap menghormati dan ikut bergembira, sementara keyakinan masing-masing tetap terjaga. Inilah tawazun, keseimbangan antara memegang keyakinan sendiri dan menghargai keyakinan orang lain. Di sinilah toleransi terlihat.
Cap Go Meh: kebersamaan dalam keberagaman. Perayaan Cap Go Meh di Singkawang pada 3 Maret 2026 menjadi bukti nyata indahnya moderasi beragama dalam praktik. Bertepatan dengan bulan suci Ramadan, pemerintah kota bersama panitia Cap Go Meh dan panitia Ramadan Fair bergotong royong menghias kota agar kedua momentum keagamaan tersebut berjalan berdampingan harmonis, sebagaimana dilaporkan RRI. Keberhasilan merawat harmoni ini kian melengkapi status Festival Cap Go Meh Singkawang yang, menurut catatan Metro TV, telah menjadi agenda nasional dan resmi masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI. Suasana kebersamaan ini menegaskan bahwa perbedaan tradisi dan agama justru memperkuat komitmen kebangsaan.
Ketiga tradisi ini berjalan lewat kebiasaan sederhana: datang, menyaksikan, menyapa, dan saling membantu. Dari kebiasaan inilah moderasi beragama tumbuh, sejalan dengan pesan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya: 107).
Merawat Kebersamaan
Kerukunan seperti ini perlu terus dirawat. Di era media sosial, kita perlu bijak menerima dan membagikan informasi, terutama yang berkaitan dengan keberagaman. Memeriksa kebenaran kabar sebelum menyebarkannya adalah langkah kecil yang membantu menjaga suasana tetap sejuk.
Generasi muda juga perlu diajak mengenal nilai di balik tradisi, bukan hanya menikmatinya sebagai tontonan. Anak muda dapat mulai mempelajari dan mendokumentasikan tradisi di daerahnya, termasuk tradisi suku lain. Pemerintah daerah dapat terus membuka festival bagi semua kalangan, dan sekolah serta kampus dapat menjadikan tradisi lokal sebagai bahan belajar tentang keberagaman.
Meriam karbit, Naik Dango, dan Cap Go Meh tumbuh dari kebiasaan warga yang saling datang dan saling menghormati. Ini merupakan modal sosial yang berharga bagi Kalimantan Barat. Tugas kita adalah terus merawatnya, dimulai dari hal kecil: menghormati perayaan agama, menghormati perayaan budaya, bijak bermedia sosial, dan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak penerus bangsa.
*Mahasiswa Pascasarjana Magister Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam (IAIN)
Pontianak
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






