Benarkah Memendam Amarah Bisa Picu Penyakit Autoimun? Ini Penjelasan Dokter
Suara Kalbar – Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Selain faktor biologis, kondisi sistem imun juga diketahui berinteraksi dengan sistem saraf dan hormon, termasuk ketika tubuh menghadapi tekanan emosional.
Hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan antara kebiasaan memendam emosi, khususnya kemarahan, dengan penyakit autoimun.
Sejumlah penelitian memang menemukan adanya keterkaitan antara stres, kondisi emosional, dan perubahan respons sistem kekebalan tubuh. Namun, temuan tersebut belum dapat diartikan bahwa memendam emosi secara langsung menjadi penyebab penyakit autoimun.
Memendam Emosi dan Respons Imun
Dokter Jolene Brighten menjelaskan, menekan emosi, terutama kemarahan, berkaitan dengan peningkatan stres, perubahan fungsi sistem imun, serta peradangan kronis.
“Menekan emosi, terutama kemarahan, dikaitkan dengan meningkatnya stres, terganggunya fungsi sistem imun, dan peradangan kronis. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya atau memburuknya penyakit Autoimun,” kata dr Brighten dikutip dari Autoimmune Registry, Senin (5/10/2026).
Tubuh memiliki hubungan yang erat antara sistem saraf, hormon, dan sistem kekebalan. Karena itu, perubahan kondisi emosional seperti kemarahan, kecemasan, rasa senang maupun relaksasi dapat memengaruhi sejumlah respons tubuh.
Salah satu mekanisme yang terlibat adalah hypothalamic pituitary adrenal (HPA) axis. Jalur tersebut berperan dalam mengatur pelepasan hormon glukokortikoid sebagai bagian dari respons tubuh terhadap stres.
Perubahan hormon dan zat kimia yang terjadi ketika seseorang mengalami tekanan kemudian dapat memengaruhi aktivitas sistem kekebalan tubuh.
Hubungan tersebut juga berlangsung dua arah. Perubahan dalam sistem imun dapat memberikan pengaruh terhadap sistem saraf, kondisi emosional hingga fungsi kognitif seseorang.
Kemarahan Bisa Memengaruhi Respons Peradangan
Sejumlah penelitian yang dihimpun National Institutes of Health (NIH) juga telah melihat bagaimana kemarahan berhubungan dengan respons sistem kekebalan tubuh.
Respons tubuh ternyata dapat berbeda bergantung pada situasi yang memicu kemarahan dan tekanan yang dialami seseorang.
Salah satu penelitian menemukan bahwa kemarahan dalam interaksi rumah tangga yang penuh permusuhan berkaitan dengan peningkatan kadar interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein dalam darah. Kedua zat tersebut merupakan penanda yang berkaitan dengan proses peradangan.
Temuan itu memberikan gambaran bahwa emosi dan stres dapat berhubungan dengan respons biologis tubuh. Namun, hubungan tersebut tetap dipengaruhi oleh konteks, intensitas, serta durasi tekanan yang dialami.
Stres Kronis Dapat Memengaruhi Fungsi Tubuh
Dampak tekanan emosional yang berlangsung lama juga terlihat dalam sejumlah penelitian lainnya.
Salah satu penelitian menemukan orang yang mengalami kesulitan mengendalikan kemarahan cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengalami penyembuhan luka dibandingkan mereka yang tidak mudah marah.
Penelitian lain yang melibatkan mahasiswa menunjukkan luka rata-rata membutuhkan waktu tiga hari lebih lama untuk sembuh ketika mereka berada dalam periode ujian yang penuh tekanan dibandingkan saat masa liburan.
Dampak stres kronis juga ditemukan pada penelitian terhadap pengasuh yang mengalami tekanan dalam jangka panjang. Mereka menunjukkan penurunan produksi antibodi setelah menerima vaksin influenza dan vaksin pneumokokus.
Kelompok tersebut juga memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kekambuhan infeksi herpes simpleks yang sebelumnya berada dalam kondisi laten.
Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa tekanan emosional berkepanjangan dapat berkaitan dengan perubahan sejumlah fungsi tubuh.
Pengalaman Pasien Bukan Bukti Sebab-Akibat
Selain penelitian ilmiah, Autoimmune Registry juga memuat pengalaman sejumlah pasien mengenai hubungan yang mereka rasakan antara kondisi emosional dan perjalanan penyakit.
Salah seorang pasien yang didiagnosis mengalami anemia pernisiosa dan kemudian fibromyalgia mengaku mengalami kemarahan serta frustrasi selama proses diagnosis dan menghadapi penyakit. Ia merasa tidak memiliki ruang untuk menyalurkan emosinya dan kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan munculnya nyeri pada tubuh.
Pasien lainnya yang mengalami tiroiditis Hashimoto merasa gejala penyakitnya memburuk setelah melewati satu tahun penuh tekanan. Ia juga merasakan kecemasan terkait diagnosis membuat dirinya semakin cenderung menekan emosi.
Namun, pengalaman individual tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa memendam emosi secara langsung menyebabkan atau memperburuk penyakit autoimun.
Mengelola Emosi Tetap Penting
Hubungan antara kondisi emosional, stres dan sistem kekebalan tubuh masih menjadi bagian dari penelitian yang terus berkembang. Sejumlah temuan menunjukkan tekanan emosional berkepanjangan dapat berkaitan dengan perubahan respons tubuh, tetapi mekanisme dan hubungan sebab-akibatnya masih perlu dipahami lebih jauh.
Karena itu, mengenali serta mengelola emosi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Mengelola stres dan emosi bukan berarti menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis bagi penderita autoimun.
Bagi seseorang yang memiliki keluhan atau sedang menjalani pengobatan penyakit autoimun, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan. Perubahan gejala sebaiknya dicatat dan disampaikan kepada dokter agar dapat ditangani berdasarkan kondisi medis masing-masing.
Sumber: Beritasatu.com






