Puluhan Merek Mobil China Gempur Dunia, Tak Semua Diprediksi Bisa Bertahan
Suara Kalbar – Persaingan industri otomotif global kini semakin ketat dengan masuknya banyak merek baru, terutama dari China. Namun, derasnya kemunculan produsen kendaraan listrik tersebut diprediksi tidak akan berlangsung lama karena pasar diyakini akan melakukan seleksi terhadap merek yang mampu bertahan dan yang akhirnya harus meninggalkan industri.
Seorang petinggi Leapmotor menilai hanya sebagian kecil dari merek-merek baru yang saat ini bermunculan akan mampu bertahan dalam jangka panjang. Sementara sebagian lainnya berpotensi menghadapi tekanan bisnis hingga kesulitan mempertahankan operasional.
Kepala Komersial Leapmotor International untuk Wilayah Eropa, Danilo Annese, menyoroti kekhawatiran konsumen terhadap keberlangsungan merek baru. Menurutnya, konsumen tentu mempertimbangkan apakah sebuah merek akan tetap hadir ketika membutuhkan layanan purna jual dalam beberapa tahun ke depan.
“Saya pikir tidak akan banyak [merek yang bertahan]. Namun, saya tidak ingin menyebutkan angka pastinya,” ujar Danilo Annese, dikutip dari Carexpert, Sabtu (12/9/2026).
Annese memang tidak menyebutkan merek tertentu yang dinilai berpotensi tumbang. Namun, kondisi pasar otomotif global saat ini menunjukkan tingkat persaingan yang semakin tinggi.
Berbagai merek harus berebut pangsa pasar, jaringan dealer, perhatian konsumen, hingga investasi untuk pengembangan produk. Kondisi tersebut membuat kemampuan menjual kendaraan saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan sebuah perusahaan otomotif.
Keberhasilan sejumlah produsen otomotif China yang telah memiliki penjualan besar di berbagai negara juga tidak otomatis menjamin seluruh merek baru akan mengikuti jejak yang sama.
Produsen yang baru memasuki pasar harus menanggung berbagai biaya untuk membangun jaringan dealer, menyediakan suku cadang, memberikan layanan garansi, serta memastikan kendaraan tetap mendapatkan dukungan teknis dalam jangka panjang.
Menurut Annese, kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek pada dasarnya bertumpu pada sejumlah faktor penting. Salah satunya adalah kekuatan jaringan dealer yang menjadi penghubung langsung antara produsen dan pemilik kendaraan.
“Jika Anda mengasosiasikan nama merek baru dengan distributor yang sudah dikenal, maka nama dan kehadiran distributor tersebut akan jauh lebih kuat daripada merek yang diwakilinya,” jelas Annese.
Keberadaan mitra distribusi yang kuat dinilai dapat membantu merek baru membangun kepercayaan di pasar. Konsumen tidak hanya membutuhkan tempat untuk membeli kendaraan, tetapi juga kepastian bahwa mereka dapat memperoleh layanan ketika kendaraan mengalami masalah.
Faktor berikutnya adalah ketersediaan suku cadang. Bagi merek baru, membangun rantai pasok komponen menjadi salah satu tantangan penting, terutama ketika kendaraan telah tersebar di berbagai wilayah.
“Ketersediaan suku cadang adalah hal yang sangat esensial,” tegas Annese.
Ketersediaan komponen berkaitan langsung dengan layanan purna jual. Ketika suku cadang sulit diperoleh, waktu perbaikan kendaraan dapat menjadi lebih lama dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap suatu merek.
Selain jaringan dealer dan suku cadang, stabilitas produk juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Annese mengingatkan bahwa terlalu sering melakukan perubahan besar pada sebuah model kendaraan justru dapat membingungkan konsumen.
Perubahan produk dalam waktu yang terlalu singkat juga berpotensi memengaruhi nilai jual kembali atau resale value kendaraan. Konsumen dapat merasa produk yang baru dibeli cepat kehilangan relevansi ketika versi terbaru diluncurkan dalam waktu berdekatan.
Karena itu, keberlangsungan sebuah merek otomotif tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menghadirkan kendaraan dengan teknologi canggih dan harga kompetitif.
Merek yang ingin bertahan dalam persaingan jangka panjang harus mampu membangun ekosistem bisnis yang kuat, mulai dari distribusi, layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, hingga kesinambungan produk.
Fenomena naik-turunnya merek otomotif sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah industri kendaraan. Merek yang mampu bertahan biasanya bukan hanya yang berhasil menarik perhatian konsumen ketika pertama kali masuk pasar, tetapi juga yang mampu menjaga kepercayaan konsumen setelah kendaraan mereka digunakan bertahun-tahun.
Di tengah gelombang masuknya merek baru asal China, persaingan tersebut pada akhirnya dapat menjadi proses seleksi alam bagi industri otomotif. Produsen yang mampu membangun bisnis berkelanjutan berpeluang memperkuat posisinya, sementara merek yang tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen berpotensi tersingkir dari pasar.
Sumber: Beritasatu.com





