SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Inflator Airbag China Dikaitkan dengan 11 Kematian di AS, Ini Bahayanya

Inflator Airbag China Dikaitkan dengan 11 Kematian di AS, Ini Bahayanya

Ilustrasi airbag. (Google)

Suara Kalbar – Skandal airbag kembali menjadi perhatian di Amerika Serikat (AS). Kali ini, inflator airbag aftermarket asal China dikaitkan dengan kematian seorang pengendara di Dallas setelah komponen tersebut diduga pecah saat terjadi kecelakaan.

Kasus tersebut menambah daftar korban akibat penggunaan komponen pengganti airbag yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan. Sebelumnya, industri otomotif global diguncang skandal airbag Takata yang berujung pada penarikan kembali kendaraan (recall) terbesar dalam sejarah.

Hingga 2024, skandal Takata telah dikaitkan dengan sedikitnya 35 kematian dan sekitar 400 cedera di AS. Kini, ancaman serupa kembali menjadi sorotan melalui komponen aftermarket yang digunakan sebagai pengganti inflator airbag bawaan kendaraan.

Kematian pengendara di Dallas pada bulan lalu dikaitkan dengan inflator airbag aftermarket yang dipasang pada Chevrolet Equinox 2018.

Hasil penyelidikan terhadap kecelakaan tersebut menunjukkan inflator airbag pecah ketika terjadi benturan. Pecahan logam dari komponen tersebut kemudian terlontar ke dalam kabin dan menimbulkan risiko fatal bagi pengemudi.

Laman CarBuzz melaporkan, kasus di Dallas menjadi kematian ke-11 yang dikaitkan dengan inflator buatan produsen suku cadang aftermarket asal Provinsi Jilin, China.

Komponen tersebut diproduksi Jilin Province Detiannuo Automobile Safety System Company, yang juga dikenal sebagai DTN. Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) menuding produsen tersebut tidak membuat komponen sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

Kasus Dallas menjadi kematian pertama yang dikaitkan dengan komponen tersebut setelah NHTSA melarang impor dan penjualan inflator tertentu dari produsen tersebut.

Sebelum kejadian di Dallas, 10 kematian lainnya telah dikaitkan dengan inflator buatan DTN. Dalam seluruh kasus tersebut, komponen bermasalah merupakan suku cadang pengganti yang dipasang setelah airbag bawaan kendaraan tidak lagi tersedia.

Komponen pengganti tersebut kemungkinan dipasang setelah airbag kendaraan dicuri atau setelah mobil mengalami kecelakaan yang masih memungkinkan untuk diperbaiki, tetapi menyebabkan airbag bawaan mengembang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konsumen mobil bekas bisa saja tidak mengetahui bahwa komponen keselamatan pada kendaraan telah diganti dengan suku cadang yang tidak memenuhi standar.

Karena itu, NHTSA mengimbau calon pembeli mobil bekas melakukan pemeriksaan sebelum membeli kendaraan. Salah satu hal yang perlu dipastikan adalah keberadaan airbag bawaan yang dipasang oleh produsen kendaraan.

Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila kendaraan memiliki riwayat kecelakaan atau kerusakan. Dalam kondisi tertentu, inflator yang memenuhi standar pabrikan atau original equipment (OE) dapat diganti dengan komponen palsu atau berkualitas lebih rendah.

Ancaman penggunaan inflator airbag berkualitas rendah juga tercermin dari temuan Badan Perlindungan Bea dan Perbatasan AS (US Customs and Border Protection).

Pada 2024, otoritas tersebut menyita sedikitnya 490 inflator airbag palsu yang hendak masuk ke AS. Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 kali lipat dibandingkan penyitaan pada 2023.

NHTSA sebenarnya telah mengetahui risiko penggunaan suku cadang pengganti airbag berkualitas rendah selama bertahun-tahun. Badan tersebut bahkan telah mengeluarkan peringatan kepada konsumen sejak 2013 terkait bahaya penggunaan komponen yang bukan berasal dari produsen asli kendaraan atau non-OE.

Salah satu persoalan yang dihadapi konsumen adalah harga. Komponen palsu atau berkualitas rendah umumnya ditawarkan dengan harga lebih murah sehingga berpotensi mendorong pemilik kendaraan maupun bengkel memilih suku cadang berbiaya rendah ketika melakukan perbaikan.

Dalam 11 kasus kematian yang telah didokumentasikan, inflator airbag DTN disebut pecah ketika diaktifkan. Pecahan logam kemudian menembus material airbag dan masuk ke dalam kabin kendaraan.

Menurut NHTSA, pecahan tersebut mengenai bagian tubuh pengemudi, termasuk dada, leher, dan wajah.

Kasus DTN memiliki kemiripan dengan persoalan yang sebelumnya melibatkan Takata. Inflator buatan perusahaan asal Jepang tersebut juga dapat pecah ketika airbag diaktifkan dalam kecelakaan.

Masalah tersebut kemudian membuat Takata menghadapi recall lebih dari 67 juta kendaraan dari 12 produsen berbeda di seluruh dunia.

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa komponen airbag yang terlihat sederhana memiliki peran penting dalam keselamatan kendaraan. Penggunaan suku cadang pengganti yang tidak memenuhi standar dapat mengubah perangkat keselamatan menjadi sumber risiko ketika kendaraan mengalami kecelakaan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play