Kepedulian terhadap Karhutla Jangan Mengikuti Musim
Oleh: H. Hismunanda, S.H. (H. Anda)
Ketika asap mulai terasa, perhatian kita terhadap kebakaran hutan dan lahan biasanya ikut meningkat. Kita mulai membicarakan titik api, kualitas udara, kesehatan, pemadaman, hingga berbagai upaya yang dilakukan untuk mengendalikan kebakaran.
Itu wajar. Ketika dampaknya sudah berada di sekitar kita, perhatian tentu menjadi lebih besar. Namun saya kira ada satu pertanyaan yang juga penting untuk dipikirkan, bagaimana setelah asap hilang?
Ketika hujan mulai turun, udara membaik dan aktivitas masyarakat kembali normal, perhatian terhadap karhutla biasanya ikut berkurang. Kita kembali pada kesibukan masing-masing. Persoalan lain datang dan perlahan mengambil perhatian.
Menurut saya, justru pada saat keadaan mulai membaik itulah ada pekerjaan penting yang tidak boleh ikut berhenti. Kita perlu melihat kembali apa yang sudah terjadi, apa yang bisa dipelajari, dan apa yang perlu dipersiapkan agar ketika musim kering datang lagi, kita tidak selalu memulai dari persoalan yang sama.
Jangan Menunggu Asap untuk Peduli
Ada satu hal yang menarik dari pencegahan: ketika berhasil, hasilnya sering tidak terlihat.
Ketika kebakaran besar terjadi, kita bisa melihat dampaknya. Ada asap, ada petugas yang bekerja di lapangan, ada upaya pemadaman dan ada perhatian masyarakat.
Sebaliknya, ketika kebakaran berhasil dicegah, mungkin tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Tidak ada api besar yang harus dipadamkan dan tidak ada asap yang memenuhi udara. Keadaan berjalan seperti biasa.
Justru keadaan seperti itulah yang sebenarnya kita harapkan.
Karena itu, menurut saya keseriusan menghadapi karhutla jangan hanya dilihat dari apa yang kita lakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Sama pentingnya adalah apa yang kita kerjakan ketika belum ada kebakaran.
Pencegahan memang tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Ada banyak hal yang bisa dimulai dari lingkungan terdekat, terutama dengan lebih berhati-hati terhadap penggunaan api ketika kondisi sedang kering dan tidak menganggap sepele sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Hal-hal seperti itu mungkin jarang menjadi berita. Tetapi kalau dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, justru di situlah pencegahan mulai bekerja.
Karhutla tentu bukan persoalan yang bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan kebiasaan masyarakat. Ada peran pemerintah, pelaku usaha, aparat dan berbagai pihak lainnya yang tidak kalah penting. Namun kita juga tidak perlu menunggu semua persoalan besar selesai untuk mulai melakukan bagian yang bisa kita lakukan sendiri.
Pekerjaan Dimulai Ketika Keadaan Membaik
Setiap musim kemarau seharusnya meninggalkan pelajaran. Setelah keadaan membaik, menurut saya perlu ada ruang untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan. Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi agar pengalaman yang baru kita lewati tidak berlalu begitu saja.
Apa yang sudah berjalan baik tentu perlu dipertahankan. Hal-hal yang belum berjalan sebagaimana diharapkan dapat diperbaiki. Kesiapan menghadapi musim berikutnya juga bisa mulai dibangun tanpa harus menunggu tanda-tanda kebakaran muncul kembali.
Sebab kalau persiapan baru dilakukan ketika asap sudah datang, ruang kita untuk mencegah tentu menjadi jauh lebih sempit.
Saya memahami bahwa menjaga perhatian terhadap persoalan seperti karhutla bukan sesuatu yang mudah. Ketika keadaan sedang normal, rasanya memang tidak mendesak. Kita mempunyai banyak persoalan lain yang juga harus dipikirkan.
Tetapi mungkin justru di situlah tantangannya. Kepedulian yang hanya muncul ketika keadaan sudah buruk akan membuat kita lebih sering bereaksi. Sementara pencegahan membutuhkan perhatian pada saat keadaan terlihat baik-baik saja.
Kita tidak mungkin berharap persoalan karhutla selesai dalam satu musim. Tetapi dari satu musim ke musim berikutnya, seharusnya ada sesuatu yang kita pelajari dan perbaiki.
Kalau tahun ini mengajarkan kita bahwa kewaspadaan perlu dimulai lebih awal, jangan menunggu musim berikutnya untuk mengingatnya. Kalau ada cara penanganan yang berjalan baik, pertahankan. Kalau ada yang masih perlu diperbaiki, lakukan ketika kita masih mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkannya.
Bagi saya, kepedulian terhadap lingkungan pada akhirnya memang perlu menjadi kebiasaan. Bukan sesuatu yang baru kita ingat ketika udara mulai dipenuhi asap.
Kita tentu berharap kebakaran segera dapat dikendalikan, hujan kembali turun dan udara kembali bersih. Ketika saat itu tiba, kita patut bersyukur.
Tetapi jangan sampai udara yang kembali bersih membuat kita merasa pekerjaannya sudah selesai.
Karena mungkin ukuran terbaik dari pencegahan bukan seberapa besar kebakaran yang berhasil kita padamkan, melainkan semakin sedikit kebakaran yang harus kita hadapi. Asap boleh hilang. Kepedulian jangan ikut hilang.
*Penulis adalah seorang pengusaha. Melalui tulisan ini, ia berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga kepedulian dan memperkuat pencegahan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





