SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Kenapa Cuaca Panas Bisa Bikin Sakit Kepala? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Cuaca Panas Bisa Bikin Sakit Kepala? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi sakit kepala. (Magnific/Istimewa)

Suara Kalbar – Cuaca panas yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir membuat banyak orang mengeluhkan sakit kepala setelah beraktivitas di luar ruangan. Keluhan tersebut sering dianggap sebagai akibat kelelahan biasa, padahal suhu udara yang tinggi memang dapat memicu nyeri kepala melalui berbagai mekanisme di dalam tubuh.

Selain membuat tubuh lebih cepat berkeringat, cuaca panas juga dapat menyebabkan dehidrasi, memengaruhi aliran darah, hingga mengganggu keseimbangan sistem saraf. Kombinasi kondisi tersebut meningkatkan risiko munculnya sakit kepala maupun migrain, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan cuaca.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan peningkatan suhu lingkungan berkaitan dengan meningkatnya risiko sakit kepala. Berikut penjelasan ilmiahnya.

Penelitian: Suhu Udara Tinggi Tingkatkan Risiko Sakit Kepala

Hubungan antara cuaca panas dan sakit kepala telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Salah satunya dipublikasikan dalam jurnal Neurology oleh tim peneliti dari Harvard Medical School.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan risiko seseorang mengalami sakit kepala meningkat sekitar 7,5 persen setiap terjadi kenaikan suhu udara sebesar 5 derajat Celsius.

Temuan ini menunjukkan suhu lingkungan yang meningkat tidak hanya membuat tubuh terasa gerah, tetapi juga memengaruhi berbagai sistem fisiologis yang berperan dalam munculnya rasa nyeri di kepala.

Dehidrasi Menjadi Penyebab Utama

Penyebab paling umum sakit kepala saat cuaca panas adalah dehidrasi.

Ketika suhu udara meningkat, tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat untuk mempertahankan suhu tubuh tetap normal. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti dengan minum air putih yang cukup, tubuh akan mengalami kekurangan cairan.

Menurut penelitian yang dimuat dalam Headache: The Journal of Head and Face Pain, dehidrasi menyebabkan volume darah menurun sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke otak ikut berubah.

Perubahan tersebut memengaruhi cara pembuluh darah di otak berkontraksi dan melebar, sehingga memicu sakit kepala, baik berupa nyeri berdenyut maupun rasa tegang.

Selain sakit kepala, dehidrasi biasanya disertai gejala seperti:

  • Mulut kering.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Mudah mengantuk.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Warna urine menjadi lebih pekat.

Perubahan Tekanan Udara Juga Berpengaruh

Cuaca panas sering disertai perubahan tekanan atmosfer atau tekanan barometrik.

Penelitian dalam jurnal Internal Medicine menunjukkan perubahan tekanan udara dapat memengaruhi keseimbangan zat kimia di otak dan mengaktifkan saraf yang berhubungan dengan rasa nyeri.

Pada penderita migrain, perubahan tersebut dapat memicu serangan berupa:

  • Nyeri kepala berdenyut.
  • Mual.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Sensitif terhadap suara.

Tidak heran apabila banyak penderita migrain mengaku lebih sering kambuh ketika cuaca berubah menjadi sangat panas.

Paparan Matahari Memperburuk Nyeri Kepala

Sinar matahari yang sangat terik juga dapat memperparah sakit kepala.

Cahaya yang terlalu terang menghasilkan silau sehingga memberikan rangsangan berlebihan pada mata dan saraf optik. Pada orang yang sensitif, rangsangan tersebut diteruskan menuju saraf trigeminal yang berperan penting dalam mekanisme terjadinya migrain.

Risiko ini lebih tinggi pada:

  • Pekerja lapangan.
  • Pengendara sepeda motor.
  • Atlet.
  • Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Mengapa Cuaca Panas di Indonesia Terasa Lebih Menyengat?

Menurut BMKG, cuaca panas di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:

  • Gerak semu harian Matahari.
  • Minimnya tutupan awan.
  • Tingginya kelembapan udara.

Kelembapan yang tinggi membuat keringat lebih sulit menguap sehingga tubuh kesulitan membuang panas.

Akibatnya, tubuh merasakan suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu udara sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai heat index atau suhu yang dirasakan tubuh.

Sebagai contoh, suhu udara 34–36 derajat Celsius dapat terasa seperti lebih dari 40 derajat Celsius apabila kelembapan udara sangat tinggi.

Semakin tinggi heat index, semakin besar pula risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sakit kepala.

Cara Mengatasi Sakit Kepala Akibat Cuaca Panas

Apabila mulai merasakan sakit kepala saat cuaca panas, beberapa langkah berikut dapat membantu meredakannya:

  • Segera berteduh atau berpindah ke ruangan yang lebih sejuk.
  • Minum air putih sedikit demi sedikit tetapi secara teratur.
  • Hindari minuman berkafein, bersoda, dan tinggi gula karena dapat mempercepat kehilangan cairan.
  • Kompres dahi atau belakang leher menggunakan kain dingin.
  • Istirahatkan mata di ruangan yang redup apabila sakit kepala dipicu cahaya matahari.
  • Bila diperlukan, gunakan obat pereda nyeri seperti parasetamol sesuai aturan pakai.

Namun, apabila sakit kepala terasa sangat berat, berlangsung lama, disertai muntah berulang, gangguan penglihatan, penurunan kesadaran, atau kejang, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan medis yang lebih serius.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play