Harapan Baru Pengobatan Alzheimer, Obat Eksperimental Diranersen Disebut Mampu Perlambat Penurunan Daya Ingat
Suara Kalbar – Upaya menemukan pengobatan yang efektif untuk penyakit Alzheimer terus mengalami perkembangan. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan lebih banyak mengembangkan terapi yang menargetkan protein amiloid, yaitu protein yang menumpuk di otak jauh sebelum gejala seperti penurunan daya ingat mulai muncul.
Pendekatan tersebut telah menghasilkan obat pertama yang terbukti mampu memperlambat perkembangan Alzheimer. Namun, para peneliti kini meyakini penyakit ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor, melainkan melibatkan berbagai proses biologis yang saling berkaitan sehingga dibutuhkan terapi dengan mekanisme kerja yang berbeda.
Harapan baru datang dari obat eksperimental bernama diranersen. Berbeda dengan terapi antiamiloid, obat ini bekerja dengan menargetkan protein tau, salah satu protein yang berperan penting dalam perkembangan penyakit Alzheimer.
Menekan Produksi Protein Tau
Dalam kondisi normal, protein tau berfungsi menjaga struktur sel saraf sekaligus membantu proses komunikasi antarsel di otak.
Namun, pada penderita Alzheimer, protein tersebut mengalami perubahan bentuk hingga membentuk gumpalan atau kusut di dalam sel saraf. Penumpukan tau abnormal diketahui berkaitan erat dengan memburuknya daya ingat, kemampuan berpikir, hingga penurunan fungsi kognitif.
Alih-alih menghilangkan protein tau yang sudah terbentuk, diranersen dirancang untuk mengurangi produksi protein tersebut sejak awal di dalam sel otak. Dengan demikian, penumpukan protein tau diharapkan dapat dicegah sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih luas.
Uji Klinis Tunjukkan Hasil Menjanjikan
Dilansir dari Know Ridge, hasil penelitian terbaru mengenai diranersen dipaparkan dalam Alzheimer’s Association International Conference (AAIC) di London.
Penelitian melibatkan sekitar 400 pasien yang mengalami Alzheimer stadium sangat dini atau gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment) akibat penyakit tersebut.
Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang menerima suntikan diranersen dan kelompok yang menerima plasebo sebagai pembanding. Obat diberikan melalui suntikan ke cairan di sekitar sumsum tulang belakang agar dapat mencapai jaringan otak secara langsung.
Hasil penelitian menunjukkan peserta yang menerima diranersen mengalami penurunan kemampuan mengingat dan berpikir yang lebih lambat dibandingkan kelompok plasebo.
Menariknya, manfaat terbaik justru diperoleh dari dosis terendah yang diberikan setiap enam bulan, bukan dari dosis yang lebih tinggi seperti perkiraan awal para peneliti.
Salah satu indikator utama fungsi kognitif menunjukkan perlambatan penurunan hingga 26 persen, angka yang dinilai sebanding dengan efektivitas beberapa terapi antiamiloid yang telah digunakan dalam pengobatan Alzheimer.
Efek Samping Relatif Ringan
Selain menilai efektivitas, para peneliti juga mengevaluasi keamanan penggunaan diranersen.
Sejumlah peserta dilaporkan mengalami kebingungan sementara selama beberapa hari setelah menjalani terapi. Sebagian lainnya merasakan ketidaknyamanan pada area penyuntikan.
Meski demikian, para peneliti tidak menemukan tanda-tanda pembengkakan otak, salah satu efek samping yang sempat menjadi perhatian pada beberapa terapi Alzheimer berbasis antiamiloid.
Temuan tersebut membuat profil keamanan diranersen dinilai cukup menjanjikan, meski masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanannya dalam penggunaan jangka panjang.
Membuka Peluang Terapi Baru
Hasil penelitian ini kembali membangkitkan optimisme terhadap pengembangan terapi yang menargetkan protein tau.
Sebelumnya, sejumlah penelitian dengan pendekatan serupa belum mampu menunjukkan hasil yang konsisten. Namun, kemajuan teknologi membuat berbagai metode baru kini mulai dikembangkan.
Selain diranersen, sejumlah ilmuwan juga tengah menguji vaksin yang dirancang untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan melawan protein tau abnormal.
Di sisi lain, peneliti juga mengembangkan teknologi agar obat dapat menembus sawar darah otak (blood-brain barrier) secara lebih efektif sehingga terapi dapat bekerja langsung pada jaringan otak.
Tak hanya itu, beberapa studi lain sedang mengevaluasi kemungkinan obat penurun kolesterol dapat membantu mengurangi risiko Alzheimer pada individu yang memiliki gen APOE4, salah satu faktor genetik yang diketahui meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Masih Memerlukan Penelitian Lanjutan
Meski hasil awal terlihat menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa diranersen masih berada pada tahap pengembangan.
Uji klinis dengan jumlah peserta yang lebih besar serta masa pengamatan yang lebih panjang masih diperlukan untuk memastikan apakah obat ini benar-benar mampu memperlambat perkembangan Alzheimer secara konsisten dan aman digunakan dalam jangka panjang.
Apabila hasil tersebut kembali terkonfirmasi pada penelitian berikutnya, diranersen berpotensi menjadi pilihan terapi baru yang melengkapi pengobatan Alzheimer saat ini.
Kehadiran obat dengan mekanisme kerja berbeda ini juga diharapkan dapat memperluas pilihan pengobatan sehingga penanganan Alzheimer tidak lagi hanya bergantung pada terapi yang menargetkan protein amiloid.
Sumber: Beritasatu.com






