Wilayah Shuangpai di China Kembangkan Pemanfaatan Vegetasi Dasar Hutan
China (Suara Kalbar) – Wilayah Shuangpai di Provinsi Hunan, China bagian tengah, terus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hutan melalui pengembangan berbagai industri di bawah kanopi hutan. Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan melimpahnya vegetasi dasar hutan serta kondisi ekologis yang semakin membaik dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah setempat aktif mendorong revitalisasi kawasan dasar hutan dengan mengembangkan beragam sektor usaha yang ramah lingkungan, mulai dari budidaya tanaman obat-obatan, jamur pangan, peternakan unggas, hingga budidaya lebah. Program tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan pedesaan yang mengedepankan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.
000000
Pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan dinilai mampu memberikan nilai tambah tanpa merusak ekosistem yang ada. Selain menjaga keberlanjutan kawasan hutan, model pengembangan ini juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pedesaan.
Melalui pengembangan industri di bawah kanopi hutan, Shuangpai berhasil memperluas rantai industri pedesaan sekaligus menciptakan pola pengembangan ekonomi yang lebih beragam. Kehadiran sektor-sektor usaha tersebut memberikan sumber pendapatan tambahan bagi warga dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Selain itu, pendekatan ini juga menjadi contoh bagaimana sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mendukung pembangunan ekonomi hijau. Dengan mengintegrasikan sektor kehutanan dan pertanian, wilayah Shuangpai mampu menciptakan sistem ekonomi yang produktif sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Ke depan, pemerintah setempat berkomitmen untuk terus memperkuat pengelolaan kawasan hutan produktif dan meningkatkan nilai ekonomi berbagai komoditas yang dikembangkan di bawah kanopi hutan. Langkah tersebut diharapkan dapat semakin memperluas peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung revitalisasi pedesaan secara berkelanjutan.
Sumber: Xinhua
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





