SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Google Batasi Akses AI Gemini untuk Meta, Pengembangan AI Facebook Terdampak

Google Batasi Akses AI Gemini untuk Meta, Pengembangan AI Facebook Terdampak

Gemini Intelligence (Istimewa)

Suara Kalbar – Persaingan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memasuki babak baru. Google dikabarkan membatasi penyediaan kapasitas model AI Gemini kepada Meta setelah permintaan perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut melampaui kemampuan infrastruktur komputasi yang tersedia.

Laporan Financial Times, Minggu (28/6/2026), menyebut Google telah memberi tahu Meta sejak sekitar Maret 2026 bahwa perusahaan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan daya komputasi Gemini yang diajukan.

Keterbatasan tersebut disebut berdampak pada sejumlah proyek pengembangan AI internal Meta yang mengalami perlambatan bahkan penundaan.

Tak hanya Meta, sejumlah pelanggan Google lainnya juga dilaporkan menghadapi kendala serupa. Namun, Meta menjadi perusahaan yang paling terdampak karena memiliki kebutuhan komputasi AI dalam skala sangat besar.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Meta dikabarkan meminta para karyawannya menggunakan token AI secara lebih efisien. Token merupakan satuan yang digunakan untuk menghitung beban pemrosesan dan penggunaan model kecerdasan buatan.

Situasi ini mencerminkan masih terbatasnya infrastruktur komputasi yang menopang perkembangan industri AI global. Meski perusahaan teknologi telah menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk membeli cip AI dan membangun pusat data (data center), lonjakan permintaan terhadap layanan AI masih melampaui kapasitas yang tersedia.

Kondisi serupa sebelumnya juga diungkapkan Google dalam laporan kinerja keuangannya. Pada kuartal pertama 2026, pendapatan Google Cloud tercatat meningkat hingga mencapai 20 miliar dolar AS.

Meski demikian, CEO Google Sundar Pichai mengakui pertumbuhan bisnis cloud seharusnya dapat lebih tinggi apabila perusahaan memiliki kapasitas komputasi yang lebih besar.

Ia juga mengungkapkan antrean permintaan (backlog) layanan Google Cloud hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurutnya, lonjakan tersebut dipicu oleh tingginya permintaan layanan AI yang belum dapat diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur komputasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri kecerdasan buatan saat ini bukan lagi hanya menghadirkan model AI yang semakin canggih, tetapi juga memastikan tersedianya infrastruktur komputasi yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna di seluruh dunia.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play