SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kalbar Pemprov Kalbar Dukung LPDN Perkuat Pemberdayaan Perempuan

Pemprov Kalbar Dukung LPDN Perkuat Pemberdayaan Perempuan

Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 LPDN Tahun 2026 yang digelar di Rumah Radakng Pontianak, Jumat (14/8/2026).

Pontianak (Suara Kalbar) – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) mendukung penguatan peran Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) dalam pemberdayaan perempuan, penguatan keluarga, serta pelestarian budaya Dayak.

Dukungan tersebut disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 LPDN Tahun 2026 yang digelar di Rumah Radakng Pontianak, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Y. Anthonius R, S.E., M.Si., yang mewakili Gubernur Kalimantan Barat, ditandai dengan pemukulan gong.

Turut hadir Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Provinsi Kalimantan Barat sekaligus Pembina LPD Kalimantan Barat, Ny. Donata Dirasig Krisantus Kurniawan, S.H., M.H., Ketua Umum LPDN Ir. Nyelong Inga Simon beserta jajaran pengurus LPD Kalimantan Barat, Forkopimda Kalbar, serta sejumlah organisasi masyarakat.

Dalam sambutannya, Y. Anthonius menyampaikan ucapan selamat atas HUT ke-3 LPDN. Menurutnya, meski masih tergolong organisasi muda, LPDN telah mengambil peran penting dalam memperkuat perempuan Dayak sekaligus menjaga nilai-nilai budaya.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, saya menyampaikan selamat ulang tahun yang ke-3 kepada Lembaga Perempuan Dayak Nasional. Tiga tahun memang masih muda, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan untuk memperkuat peran perempuan Dayak,” ucapnya.

Ia menegaskan, perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga berperan sebagai penggerak, pendidik keluarga, pengambil keputusan, sekaligus penjaga nilai budaya dan kearifan lokal.

“Perempuan bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan. Perempuan juga menjadi penggerak, pendidik generasi, bahkan menjadi salah satu penjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal,” katanya.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, ia mengingatkan agar kemajuan tidak membuat masyarakat kehilangan identitas budaya.

“Di tengah perubahan zaman, perempuan Dayak punya tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa kemajuan tidak membuat kita kehilangan jati diri,” tuturnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui cerita, tetapi harus diwujudkan melalui praktik dan pewarisan kepada generasi muda. Nilai adat, seni, bahasa serta kearifan lokal perlu terus ditanamkan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Budaya tidak akan hidup hanya karena diwariskan melalui cerita. Budaya harus terus dipraktikkan, ditanamkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Karena itu, Y. Anthonius berharap LPDN dapat menjadi ruang bersama untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian perempuan, termasuk dalam bidang ekonomi, pendidikan, ketahanan keluarga dan pelestarian budaya.

“Kita berharap LPDN dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat kapasitas perempuan, mendorong kemandirian ekonomi, meningkatkan pendidikan, memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus menjaga adat, seni, bahasa dan nilai-nilai luhur masyarakat Dayak,” ujarnya.

Ia juga berharap Rakernas IV tidak sekadar menjadi forum evaluasi dan penyusunan program kerja, tetapi menghasilkan gagasan dan langkah konkret yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Rakernas ini jangan hanya menjadi forum untuk mengevaluasi kegiatan atau menyusun program. Jadikan momentum ini untuk menyatukan gagasan, memperkuat jaringan dan menghasilkan langkah konkret,” tegasnya.

Pemprov Kalbar, lanjutnya, siap mendukung berbagai program LPDN yang sejalan dengan agenda pembangunan daerah, khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi perempuan, pengembangan UMKM, pemanfaatan teknologi digital, serta perlindungan perempuan dan anak.

“Pemprov Kalbar tentu menyambut baik berbagai inisiatif yang sejalan dengan agenda pembangunan daerah. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah, organisasi perempuan, lembaga adat, dunia usaha, akademisi dan masyarakat harus saling bekerja sama,” katanya.

Sementara itu, Donata mengatakan Rakernas IV menjadi momentum bagi seluruh pengurus untuk melakukan evaluasi sekaligus menyatukan langkah dalam memperkuat peran perempuan Dayak dalam pembangunan.

“Rakernas ini menjadi momentum untuk kita bersama-sama melihat apa yang sudah dilakukan selama ini, kemudian menyusun langkah ke depan agar keberadaan LPDN semakin memberikan manfaat bagi perempuan, keluarga dan masyarakat,” kata Donata.

Ia berharap hasil Rakernas tidak berhenti pada pembahasan program di dalam forum, melainkan diwujudkan melalui kegiatan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Saya berharap apa yang dibahas dalam Rakernas ini bukan hanya menjadi program di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dilaksanakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.

Donata menilai perempuan Dayak memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan dengan tetap menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal.

“Perempuan Dayak harus terus maju, tetapi tetap membawa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kita ingin perempuan semakin mandiri, semakin percaya diri, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pengurus dan anggota LPDN memperkuat kebersamaan serta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.

“Yang paling penting adalah kebersamaan. Mari kita bangun LPDN dengan semangat gotong royong, saling mendukung dan membuka ruang kerja sama yang lebih luas,” pungkasnya.

Selain Rakernas IV dan peringatan HUT ke-3 LPDN, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pengukuhan Lembaga Perempuan Dayak (LPD) tingkat kabupaten/kota se-Kalimantan Barat.

Pengukuhan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat keberadaan organisasi hingga tingkat daerah. Dengan semakin kuatnya struktur kelembagaan, program pemberdayaan perempuan Dayak diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah serta pelestarian budaya.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play