Kenaikan Yesus Kristus di Tengah Dunia yang Penuh Ambisi
Oleh: Yanto Sandy Tjang*
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang dipenuhi ambisi untuk “naik”, baik dalam jabatan, penghasilan, maupun popularitas, perayaan Kenaikan Yesus Kristus kerap kehilangan daya gaungnya. Ia hadir sebagai momen liturgis yang dikenang, tetapi jarang sungguh dihayati dalam realitas hidup sehari-hari. Padahal, justru di tengah budaya yang terobsesi dengan pencapaian ini, Kenaikan Kristus menawarkan cara pandang yang berbeda: bahwa “kenaikan” tidak selalu berarti peningkatan status, melainkan pendalaman makna hidup. Ia mengajak manusia untuk bertanya ulang, apa arti naik yang sesungguhnya?
Dalam narasi iman Kristen, kenaikan Yesus bukanlah pelarian dari dunia, melainkan klimaks dari seluruh karya penyelamatan yang berpuncak pada salib dan kebangkitan. Ia “naik” bukan untuk menjauh, tetapi untuk menghadirkan bentuk kehadiran yang baru dan lebih luas, melalui Roh, melalui komunitas, dan melalui perutusan. Namun, dalam kehidupan modern, makna “naik” telah direduksi menjadi simbol keberhasilan individual. Ia diukur dengan angka, posisi, dan pengakuan publik, sehingga sering kali mengabaikan dimensi relasional dan spiritual yang lebih dalam.
Akibatnya, manusia terjebak dalam perlombaan tanpa henti untuk terus “naik”, tanpa sempat bertanya ke mana arah kenaikan itu. Dalam terang Kenaikan Kristus, obsesi ini justru dipertanyakan. Sebab kenaikan yang sejati bukanlah tentang meninggalkan yang lain demi diri sendiri, tetapi tentang mengangkat sesama bersama. Di sinilah paradoks iman itu muncul: bahwa kenaikan sejati justru terwujud ketika manusia tidak hanya berusaha mencapai puncak, tetapi juga menjadi jalan bagi orang lain untuk ikut bertumbuh.
Naik tanpa arah
Tidak dapat dimungkiri, masyarakat hari ini bergerak dalam logika kompetisi yang nyaris tanpa jeda. Media sosial memperkuat dorongan untuk selalu tampil “lebih tinggi”: lebih berhasil, lebih mapan, lebih berpengaruh. Ukuran keberhasilan pun menyempit pada angka dan citra, berapa banyak yang dicapai, seberapa luas pengakuan diraih. Dalam lanskap seperti ini, “kenaikan” berubah menjadi proyek personal yang sering kali mengabaikan dimensi etis dan relasional. Yang lain tidak lagi dilihat sebagai sesama, melainkan sebagai pembanding dalam perlombaan yang tak pernah benar-benar selesai.
Fenomena ini merembes hingga ke ruang religius. Spiritualitas, yang semestinya menjadi ruang pembentukan batin, tidak jarang dipakai sebagai sarana untuk “naik”, entah dalam bentuk pengaruh, otoritas moral, atau legitimasi kekuasaan. Agama berisiko kehilangan daya kritisnya ketika ia justru dijadikan alat untuk membenarkan ambisi. Dalam situasi ini, batas antara pengabdian dan pencitraan menjadi kabur, dan iman perlahan bergeser dari jalan transformasi menjadi instrumen kepentingan.
Di titik inilah Kenaikan Kristus menghadirkan koreksi yang tajam. Yesus tidak “naik” melalui jalur kekuasaan atau pengakuan, melainkan melalui jalan pengorbanan yang sunyi. Ia tidak menghindari penderitaan, tetapi menghayatinya sebagai bagian dari kesetiaan pada misi. Maka, dalam terang iman Kristen, kenaikan bukanlah tentang meninggikan diri di atas yang lain, melainkan tentang keberanian untuk menyerahkan diri, sebuah jalan yang justru membebaskan manusia dari obsesi untuk selalu berada di puncak.
Kenaikan sebagai transformasi
Sering kali, Kenaikan Kristus disalahpahami sebagai bentuk “perpisahan”, seolah-olah Yesus meninggalkan dunia dan manusia harus melanjutkan hidup sendiri. Namun, dalam pemahaman teologis yang lebih dalam, kenaikan justru menandai transformasi cara kehadiran. Kristus hadir tidak lagi secara fisik, tetapi secara spiritual dan universal.
Makna ini sangat relevan dalam dunia yang sedang mengalami krisis kehadiran. Di era digital, manusia semakin terkoneksi tetapi sekaligus semakin terasing. Kehadiran fisik digantikan oleh interaksi virtual, sementara relasi mendalam semakin langka. Dalam situasi ini, Kenaikan Kristus mengingatkan bahwa kehadiran sejati tidak selalu bersifat fisik, tetapi dapat hadir dalam bentuk relasi yang bermakna, solidaritas, dan kasih.
Kenaikan juga menantang cara kita memahami keberhasilan. Jika dunia mengukur keberhasilan dari seberapa tinggi seseorang “naik”, maka iman mengajak untuk melihat sejauh mana seseorang mampu mengangkat orang lain. Kenaikan Kristus bukanlah tentang meninggalkan manusia, tetapi tentang membuka jalan agar manusia dapat “naik” bersama menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Krisis kepemimpinan dan makna kenaikan
Isu lain yang tak kalah mendesak adalah krisis kepemimpinan yang kian terasa dalam berbagai lini kehidupan. Banyak pemimpin hari ini tampak lebih sibuk menjaga posisi daripada menjalankan fungsi pelayanan. Kekuasaan diperlakukan sebagai hak yang harus dipertahankan, bukan sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan. Dalam situasi seperti ini, jarak antara pemimpin dan yang dipimpin semakin lebar, sementara kepercayaan publik perlahan terkikis.
Di tengah realitas tersebut, Kenaikan Kristus menawarkan cara pandang yang berbeda tentang kepemimpinan. Yesus “naik” bukan setelah mengumpulkan kekuasaan, melainkan setelah memberikan teladan pelayanan yang konkret. Ia tidak membangun otoritas dari atas, tetapi dari kedekatan dengan mereka yang dilayani. Bahkan setelah “naik”, kehadiran-Nya tidak hilang, melainkan berlanjut melalui Roh yang menggerakkan para murid untuk meneruskan karya pelayanan. Di sini, kepemimpinan tidak diukur dari posisi, tetapi dari kemampuan membangkitkan, menguatkan, dan memberdayakan orang lain.
Jika prinsip ini sungguh dihidupi dalam kehidupan sosial dan politik, makna “kenaikan” akan mengalami pergeseran yang signifikan. Ia tidak lagi menjadi tujuan yang dikejar, melainkan buah dari pelayanan yang autentik. Pemimpin yang berakar pada pelayanan tidak perlu mengejar pengakuan, karena kepercayaan tumbuh dari integritas yang konsisten. Dalam kerangka ini, kenaikan bukanlah puncak ambisi, melainkan konsekuensi alami dari kesediaan untuk melayani.
Kenaikan di tengah krisis kemanusiaan
Dunia hari ini dihadapkan pada rangkaian krisis yang saling berkelindan: kemiskinan yang tak kunjung teratasi, ketimpangan sosial yang melebar, konflik yang terus berulang, hingga krisis lingkungan yang mengancam masa depan bersama. Dalam lanskap seperti ini, wacana tentang “kenaikan” kerap terasa janggal, bahkan kontradiktif. Bagaimana mungkin berbicara tentang naik ketika begitu banyak orang justru tersingkir dan “terjatuh” dari akses terhadap kehidupan yang layak? Pertanyaan ini menuntut pemaknaan ulang yang lebih jujur dan kontekstual.
Di sinilah Kenaikan Kristus menemukan relevansinya sebagai panggilan menuju solidaritas yang lebih dalam. Kristus tidak “naik” dengan meninggalkan realitas manusia, melainkan dengan membawa luka-luka kemanusiaan itu sendiri. Artinya, kenaikan bukanlah pelarian dari dunia, tetapi justru bentuk keterlibatan yang diperluas. Para pengikut-Nya dipanggil untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan, melainkan hadir di dalamnya, menjadi bagian dari upaya pemulihan, sekecil apa pun itu. Kenaikan, dalam terang ini, mengubah arah: dari menjauh menjadi mendekat, dari menghindar menjadi terlibat.
Lebih jauh, kenaikan juga mengandung dimensi harapan yang tidak mudah pudar. Ia menegaskan bahwa penderitaan bukanlah kata akhir, namun harapan yang ditawarkan bukanlah sikap pasif yang menunggu perubahan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, ia adalah harapan yang aktif, yang mendorong tindakan, menggerakkan keberanian, dan menumbuhkan komitmen untuk menghadirkan perubahan. Dalam dunia yang sering diliputi keputusasaan, kenaikan menjadi pengingat bahwa harapan sejati selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk bertindak.
Relevansi bagi generasi muda
Bagi generasi muda, Kenaikan Kristus menghadirkan perspektif yang menenangkan sekaligus menantang. Di tengah tekanan untuk terus berhasil dan diakui, banyak dari mereka terjebak dalam lingkaran kecemasan dan kelelahan yang tak terlihat. Standar keberhasilan yang tinggi, yang sering dibentuk oleh lingkungan dan media sosial, perlahan berubah menjadi beban yang menggerus rasa cukup. Dalam situasi ini, Kenaikan Kristus mengingatkan bahwa hidup tidak semata diukur dari seberapa tinggi seseorang “naik”, tetapi dari seberapa dalam ia memahami makna hidupnya.
Kenaikan membuka ruang untuk melihat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh pencapaian semata. Ada dimensi lain yang kerap terabaikan: relasi yang tulus, makna yang dihayati, dan kontribusi yang diberikan bagi sesama. “Naik” tidak selalu berarti melampaui orang lain, tetapi bisa berarti bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh dan manusiawi. Perspektif ini menjadi penting agar generasi muda tidak terjebak dalam perlombaan yang melelahkan, tetapi menemukan arah yang lebih autentik dalam perjalanan hidupnya.
Lebih dari itu, Kenaikan Kristus juga mengajarkan bahwa hidup bukanlah garis lurus yang selalu menanjak. Ada proses, ada kegagalan, ada jeda untuk refleksi. Kenaikan tidak dapat dipisahkan dari salib, dari pengalaman jatuh bangun yang membentuk kedewasaan. Dengan demikian, perjalanan hidup tidak perlu dilihat sebagai kompetisi tanpa akhir, melainkan sebagai proses pertumbuhan yang utuh, di mana setiap langkah, termasuk yang sulit, memiliki makna dalam membentuk siapa diri kita.
Mengubah arah kenaikan
Pada akhirnya, perayaan Kenaikan Yesus Kristus mengajak kita berhenti sejenak dari arus ambisi yang tak pernah usai, lalu bertanya dengan jujur tentang arah hidup. Apakah “kenaikan” yang kita kejar hanya berpusat pada diri, atau sungguh memberi ruang bagi kebaikan bersama? Apakah yang kita bangun sekadar posisi dan citra, atau relasi yang menghidupkan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu nyaman, tetapi justru di situlah Kenaikan menemukan maknanya sebagai cermin yang menyingkap motivasi terdalam manusia.
Dalam dunia yang memuja pencapaian, Kenaikan Kristus menghadirkan paradoks yang menggugah. Ia menunjukkan bahwa ketinggian sejati tidak diukur dari seberapa jauh seseorang melampaui yang lain, tetapi dari kerendahan hati untuk melayani. “Naik” tidak lagi dimaknai sebagai dominasi, melainkan sebagai kemampuan untuk mengangkat sesama. Di sini, ukuran keberhasilan bergeser: bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling memberi dampak bagi kehidupan orang lain.
Dengan demikian, Kenaikan bukan sekadar peristiwa iman yang dikenang, melainkan pesan yang terus bekerja dalam kehidupan. Ia menantang manusia untuk tidak sekadar bergerak ke atas, tetapi bergerak dengan arah yang jelas menuju kehidupan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermakna. Dalam dunia yang sering kehilangan orientasi, Kenaikan menjadi kompas sunyi yang mengingatkan bahwa setiap langkah “naik” seharusnya membawa lebih banyak kehidupan bagi sesama.
*Penulis adalah Mahasiswa Magister Teologi Katolik, Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





