Pasangan Ideal Terbentuk dari Keimanan
Oleh: As’ad Kholilurrahman
“Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan” Qs. al-Naba’: 8
Tidak ada satu pun di dunia ini yang tercipta tanpa pasangan; semuanya berpasangan. Ibarat bumi dan langit, lelaki dan perempuan, surga dan neraka, bahagia dan sedih, lambat dan cepat, kaya dan miskin, dan seterusnya. Keberpasangan ini merupakan bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa. Dia memiliki kebesaran dengan kemampuan yang tanpa batas, sementara manusia dan makhluk lainnya tidak memiliki daya sedikit pun untuk menandingi kemampuan tersebut.
Karena semua tercipta berpasangan, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menyatukan dirinya dengan yang lain yang sejenis dengannya. Perempuan akan tertarik kepada lelaki, dan lelaki akan tertarik kepada perempuan. Ketertarikan ini merupakan bagian dari fitrah penciptaan manusia. Akan tetapi, pada umumnya setiap orang menginginkan pasangan yang ideal, yakni pasangan yang kriterianya sesuai dengan harapan dan gambaran yang diidamkan.
Banyak orang menginginkan pasangan ideal dalam hidupnya karena adanya rasa khawatir terhadap kemungkinan yang terjadi setelah menikah dan berkeluarga, terutama hal-hal di luar ekspektasinya. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering terjadi di sekitar kita, kekhawatiran akan perselingkuhan, atau pasangan yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, baik dalam hal nafkah maupun ketaatan. Hal-hal semacam ini sering kali menjadi pemicu kegelisahan bagi calon istri dan calon suami pada masa sekarang.
Bahkan tidak sedikit yang memberikan reaksi ekstrem. Muncul ungkapan seperti, “Daripada mengalami KDRT, lebih baik tidak menikah. Hidup sendiri lebih enak.” Atau ungkapan lain, “Percuma menikah, ujung-ujungnya cerai.” Ungkapan-ungkapan seperti ini menunjukkan adanya kegamangan dalam memandang pernikahan. Oleh karena itu, penulis ingin mengurai konsep pasangan ideal dalam perspektif agama Islam. Penulis meyakini bahwa agama Islam tidak kosong dari konsep; semuanya telah dijelaskan dengan baik dan sistematis, termasuk dalam membentuk pasangan ideal. Hal ini penting disampaikan, sebab banyak orang saat ini justru mengambil standar pasangan ideal dari media sosial seperti TikTok atau platform lainnya. Sementara Al-Qur’an sering kali terlewatkan, sehingga menimbulkan kekeringan konsep dalam membentuk pasangan ideal itu sendiri.
Bentuk kehebatan Tuhan adalah menciptakan pasangan dari dalam diri manusia itu sendiri. Dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’: 1 dijelaskan bahwa Hawa diciptakan dari diri Adam, yakni dari tulang rusuknya. Dari keduanya kemudian lahirlah manusia-manusia yang lain. Hal ini menunjukkan adanya kedekatan hakikat antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, pasangan hidup yang akan menjadi teman perjalanan ke depan hendaknya memiliki kesesuaian karakter atau sifat. Istilah yang sering digunakan adalah pasangan “sefrekuensi”.
Sefrekuensi dapat dipahami sebagai bentuk keseimbangan antar pasangan. Misalnya, jika seorang perempuan memiliki sifat mudah tersinggung, maka lelaki memahami dan mampu menyeimbangkan kondisi tersebut. Jika salah satu mudah bad mood, maka yang lain mampu mengontrol keadaan. Jika salah satu memiliki karakter keras, maka diperlukan kontrol agar tidak saling berbenturan. Dengan demikian, sefrekuensi bukan berarti harus sama secara mutlak, tetapi lebih kepada kemampuan untuk saling menyesuaikan dan mengendalikan emosi-pemikirannya.
Dalam hal ini, peran lelaki sangat penting sebagai pengontrol utama dalam rumah tangga. Ia tidak boleh melampiaskan amarah secara kasar kepada pasangannya. Jika seorang lelaki bersikap kasar, maka itu menunjukkan lemahnya kontrolan diri. Padahal, posisinya adalah sebagai pelindung, sebagaimana firman Allah: al-rijālu qawwāmūna ‘ala an-nisā’. Sudah seharusnya seorang lelaki merasa malu jika lebih kasar daripada istrinya, karena istrinya adalah bagian dari dirinya sendiri. Dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’: 19 juga ditegaskan agar mempergauli istri dengan cara yang baik. Bisa jadi kesabaran pasangan dalam menghadapi kemarahan adalah bentuk kebaikan yang diberikan oleh Tuhan.
Langkah awal sebelum memutuskan pasangan hidup adalah melihat kesesuaian frekuensi tersebut. Frekuensi ini ibarat jaringan; jika jaringannya buruk, maka besar kemungkinan akan muncul berbagai persoalan, seperti kesalahpahaman yang berkepanjangan hingga keretakan rumah tangga. Dalam kehidupan rumah tangga, terdapat banyak aspek frekuensi, seperti frekuensi ekonomi, frekuensi psikologi, frekuensi dalam mendidik anak, frekuensi dalam beragama, hingga frekuensi dalam menyelesaikan masalah (problem solving).
Karena hampir semua orang menginginkan pasangan yang ideal, maka memahami konsep ini menjadi suatu hal yang penting. Dalam Islam, pasangan ideal adalah pasangan yang mampu menghadirkan ketenangan, kesetiaan, dan kasih sayang. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surah ar-Rum: 21. Konsep ini sering diringkas dalam istilah keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah (SAMARA). Tolok ukur keluarga semacam ini adalah hadirnya ketenangan hati dan kesejukan dalam kehidupan. Hal ini juga tergambar dalam doa dalam Al-Qur’an surah al-Furqan: 74.
Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa suami dan istri memiliki hak-hak yang seimbang. Hal ini penting bagi pasangan yang ingin tetap meraih cita-cita yang dibangun sejak masa kecil atau masa mudanya. Pasangan yang baik tidak akan memberikan kekangan yang berlebihan, melainkan saling mendukung satu sama lain. Namun, dukungan tersebut tentu tidak berlaku dalam konteks kemaksiatan. Jika dalam kemaksiatan, maka tidak layak untuk didukung, bahkan perlu dicegah. Sebab cinta yang baik adalah cinta yang mengantarkan kepada keberkahan dan keridaan Tuhannya. Perlu disadari bahwa kemaksiatan tidak akan pernah berjalan beriringan dengan keberkahan, dan tidak akan melahirkan kebaikan, melainkan justru kesesatan yang berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga.
Pasangan yang ideal juga tidak membicarakan urusan rumah tangganya kepada orang lain, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan. Hal-hal yang baik cukup dirasakan bersama, dan hal-hal yang buruk pun cukup diselesaikan bersama. Dengan demikian, tidak membuka peluang bagi orang lain untuk ikut campur atau bahkan menimbulkan rasa hasad dan dengki.
Selain itu, pasangan yang ideal tidak saling menyalahkan ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, mereka melakukan introspeksi diri. Mereka bertanya kepada diri sendiri: apakah sikapnya berlebihan, atau apakah perkataannya kasar, sehingga pasangannya betek atau kecewa dengan kita. Dalam ajaran Islam, jika terjadi konflik dalam keluarga, terutama konflik besar, tidak dianjurkan untuk mengambil keputusan secara sepihak. Jalan yang disarankan adalah meminta nasihat, baik dari kiyai, ustaz, bahkan jika dibutuhkan ahli psikolog, psikiater tidak masalah.
Pada akhirnya, jadilah pasangan yang mampu menghadirkan ketenangan dan kasih sayang dalam setiap keadaan. Meskipun berbagai masalah datang silih berganti, kasih sayang harus tetap menjadi penyejuk dalam rumah tangga. Jangan mudah menyulut kemarahan, terutama dalam hal ekonomi maupun sikap yang tidak baik. Mengingat banyak permasalahan rumah tangga saat ini dipicu oleh faktor ekonomi, maka penting untuk memahami konsep rezeki sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Dengan demikian, pasangan tidak akan kosong dari nilai-nilai ketuhanan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Jika hanya mengikuti standar media sosial atau standar manusia semata, maka sampai kapan pun tidak akan menemukan pasangan dan keluarga yang benar-benar ideal. Sebab standar tersebut selalu berubah. Sebaliknya, jika kembali kepada nilai-nilai yang ditetapkan oleh Tuhan, maka arah rumah tangga akan menjadi jelas, terarah, dan penuh keberkahan.
*Penulis adalah Tenaga Pengajar di IAIN Pontianak
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





