SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Fosil Ular Paradoks dari Inggris Terungkap Setelah 40 Tahun Terabaikan

Fosil Ular Paradoks dari Inggris Terungkap Setelah 40 Tahun Terabaikan

Ilustrasi berita fosil ular purba Paradoxophidion dari Inggris ungkap cabang awal evolusi caenophidia dan beri wawasan baru tentang keragaman reptil 37 juta tahun lalu. (SciTech Daily/DOK)

Suara Kalbar – Ular purba yang baru diidentifikasi dari pesisir selatan Inggris ternyata memberikan wawasan penting tentang evolusi awal kelompok ular maju (caenophidia). Fosil yang dipelajari para ilmuwan ini menunjukkan kombinasi ciri fisik unik yang menempatkannya sebagai bagian dari cabang kuno dalam pohon keluarga caenophidian.

Fosil vertebra reptil yang kini dinamai Paradoxophidion richardoweni itu sebenarnya ditemukan sejak 1981 di Hordle Cliff. Namun lebih dari 40 tahun kemudian, barulah spesies tersebut mendapat perhatian ilmiah dan dipastikan sebagai ular yang belum pernah tercatat sebelumnya.

“Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Comptes Rendus Palevol, sekaligus mengungkap bahwa 37 juta tahun lalu Inggris memiliki lebih banyak spesies ular dibanding saat ini,” tulis Scitech Daily, Minggu (7/12/2025).

Peneliti menyebut vertebra sebagai bagian fosil ular yang paling umum ditemukan, karena strukturnya menyimpan ciri anatomi penting untuk identifikasi. Paradoxophidion sendiri menghadirkan perpaduan ciri-ciri yang kini tersebar di berbagai kelompok caenophidian modern, sehingga diberi nama yang berarti “ular paradoks”.

Spesies ini juga diberi nama untuk menghormati Sir Richard Owen, pendiri Natural History Museum sekaligus orang pertama yang mendeskripsikan fosil ular dari Hordle Cliff.

Untuk memahami struktur tulangnya, para peneliti melakukan pemindaian CT dan berhasil mengidentifikasi 31 vertebra dari berbagai bagian tulang belakang. Model tiga dimensi kemudian dibuat dan dibagikan secara digital agar dapat dipelajari lebih luas.

Dari analisis tersebut, panjang tubuh Paradoxophidion diperkirakan kurang dari satu meter. Namun tanpa tengkorak, sulit mengetahui pola makan atau gaya hidupnya, termasuk apakah ia menggali tanah atau berburu secara khusus.

Temuan fosil ini turut memberikan gambaran penting mengenai kondisi lingkungan Inggris pada periode Eosen sekitar 37 juta tahun lalu. Saat itu, wilayah tersebut jauh lebih hangat dengan kadar CO₂ tinggi dan letak geografis yang lebih dekat khatulistiwa.

“Hordle Cliff sendiri merupakan lokasi fosil terkenal yang sejak ratusan tahun lalu menghasilkan temuan kura-kura, kadal, mamalia, hingga berbagai spesies ular purba, termasuk constrictor pertama yang tercatat dalam sejarah,” jelas Scitech Daily. 

Meski terbatas, sejumlah ciri Paradoxophidion menunjukkan kemiripan dengan kelompok ular acrochordid atau “elephant trunk snakes” yang kini hidup di Asia Tenggara dan Australia utara. Kelompok tersebut merupakan cabang awal caenophidian, sehingga ada kemungkinan Paradoxophidion merupakan kerabat paling awal dari keluarga tersebut. Jika benar, ia mungkin beradaptasi dengan lingkungan akuatik seperti kerabat modernnya, meski bukti saat ini belum cukup kuat untuk menyimpulkannya.

Peneliti utama, Dr Georgios Georgalis dari Polish Academy of Sciences, mengatakan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap misteri evolusi ular awal. Ia berencana mempelajari lebih banyak koleksi museum, termasuk fosil ular raksasa akuatik Palaeophis yang ditemukan di Inggris pada abad ke-19. Tulang-tulang lain yang belum pernah dianalisis juga berpotensi menjadi spesies baru dan memberikan petunjuk tambahan mengenai sejarah evolusi ular.

Dengan berbagai temuan ini, ular purba Paradoxophidion tidak hanya mengisi celah dalam evolusi caenophidia, tetapi juga membuka peluang penelitian baru mengenai keragaman reptil masa lalu. Fosil ini menegaskan betapa banyak misteri yang belum terungkap, dan ular purba dari Inggris ini mungkin baru permulaan.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play