Mengapa Malam Saat Musim Kemarau Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Fenomena Bediding
Suara Kalbar – Musim kemarau identik dengan cuaca panas pada siang hari. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa, justru merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Fenomena ini kerap memunculkan pertanyaan mengenai penyebab turunnya suhu secara signifikan di tengah musim kemarau. Menurut pakar, kondisi tersebut merupakan fenomena alam yang normal dan dikenal dengan istilah bediding atau bedhidhing.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa bediding merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang rutin terjadi setiap musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September.
“Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif,” kata Givo, dikutip dari laman resmi IPB, Jumat (24/7/2027).
Langit Cerah Membuat Panas Lebih Cepat Hilang
Menurut Givo, salah satu penyebab utama suhu malam menjadi lebih dingin adalah kondisi langit yang cenderung cerah selama musim kemarau.
Sepanjang siang, permukaan bumi menyerap panas matahari. Ketika malam tiba, panas tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.
Karena jumlah awan sangat sedikit, tidak banyak panas yang tertahan di atmosfer sehingga proses pelepasan panas berlangsung lebih cepat. Akibatnya, suhu udara turun lebih drastis dibandingkan saat musim hujan.
Udara Kering Mempercepat Pendinginan
Selain minim awan, musim kemarau juga ditandai dengan kandungan uap air di atmosfer yang lebih rendah.
Kondisi udara yang lebih kering membuat panas tidak mudah terperangkap sehingga pendinginan radiasi berlangsung lebih efektif.
“Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin,” jelas Givo.
Kombinasi langit cerah dan udara kering inilah yang membuat udara malam selama musim kemarau terasa lebih sejuk, bahkan dingin di sejumlah wilayah.
Daerah Pegunungan Merasakan Dingin Lebih Ekstrem
Fenomena bediding biasanya terasa lebih kuat di kawasan pegunungan dan dataran tinggi.
Menurut Givo, hal tersebut dipengaruhi oleh ketinggian wilayah serta aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah.
Akibatnya, suhu udara di kawasan pegunungan dapat turun lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah.
Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, suhu yang sangat rendah bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Dipengaruhi Angin Monsun Australia dan El Nino
Selain faktor atmosfer lokal, fenomena bediding juga diperkuat oleh angin monsun Australia.
Pada musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Di sisi lain, fenomena El Nino yang sedang berkembang juga berpotensi memperkuat kondisi tersebut.
Menurut Givo, El Nino menyebabkan curah hujan menurun, kelembapan udara berkurang, serta langit lebih sering cerah pada malam hari sehingga pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal.
Tetap Jaga Kesehatan Selama Bediding
Meski merupakan fenomena alam yang normal, masyarakat tetap diimbau menjaga kondisi kesehatan selama bediding berlangsung.
Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan seperti asma maupun influenza perlu lebih berhati-hati karena udara dingin dan kering dapat memperburuk gejala penyakit tersebut.
Selain itu, masyarakat juga disarankan tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh meskipun suhu udara terasa lebih dingin.
Di sisi lain, meningkatnya kekeringan selama musim kemarau juga membuat risiko kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Menurut Givo, fenomena bediding diperkirakan masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut sampai awal September, tergantung kondisi atmosfer.
“Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik,” ujarnya.
Fenomena bediding terjadi akibat kombinasi langit yang cerah, udara yang lebih kering, pengaruh angin monsun Australia, serta kondisi atmosfer yang mendukung proses pendinginan radiasi. Meski membuat suhu malam terasa lebih dingin, fenomena ini merupakan bagian dari siklus iklim musiman yang normal dan tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
Sumber: Beritasatu.com






