Opini  

Mengulik Hadis “Tidurnya Orang yang sedang Berpuasa adalah Ibadah”

Muhammad Irfan

Oleh: Muhammad Irfan

DALAM ajaran Islam dikenal dua sumber ajaran yaitu al-Qur’an dan Hadis (Sunnah). Dilihat dari aspek kepastian dalil, semua ayat al-Qur’an berstatus qat’i al-wurud (pasti), sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan kebenaran teksnya. Berbeda dengan al-Qur’an, teks hadis tidak semua bisa dipastikan keasliannya, atau berstatus dzanni al-wurud (tidak pasti), kecuali sebagian kecil saja yang diriwayatkan secara mutawatir (hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi, sehingga melahirkan kesimpulan bahwa tidak mungkin hadis itu dipalsukan).

Hadis-hadis yang bertebaran masih perlu diuji kebenaran teksnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang ada hadis yang dhaif, bahkan palsu. Untuk hadis palsu, para ulama sepakat bahwa tidak mengamalkan dan meriwayatkannya selain untuk menjelaskan bahwa hadisnya palsu. Adapun hadis dhaif ada beragam pendapat ulama. Pertama, tidak boleh menggunakan hadis dhaif secara mutlak. Kedua, boleh menggunakan hadis dhaif pada selain perkara akidah. Ketiga, hadis dhaif hanya boleh digunakan pada persoalan keutamaan beribadah atau tarhib dan targib dengan catatan bahwa hadis dhaifnya tidak terlalu lemah.

Saat ini kita berada di bulan Ramadan atau bulan puasa. Salah satu hadis yang populer kita dengar terkait dengan puasa adalah, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Kalimat yang dianggap sebuah hadis ini sering dijadikan sebagai argumen pembelaan oleh orang yang lebih memilih tidur dari pada beraktivitas saat berpuasa. Pertanyaannya, benarkah kalimat itu adalah hadis? Jika benar, apakah hadis itu adalah hadis yang kuat atau lemah? Bisa dipegangi atau tidak?

Penulis melakukan penelusuran pada kitab-kitab hadis dan menemukan teks hadis tersebut sebagai berikut.

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَادَ، حَدَّثَنَا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ الْأَعْلَمُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ.

Artinya:

Telah diceritakan dari Abu Abdillah al-hafiz dari Ali bin Isa dari Ali Bin Muhammad bin al-‘Ala’ dari Sikhtawaih bin Maziyad dari Ma’ruf bin Hassan, dari Ziyad al-A’lam dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Abdullah bin Abu Aufa al-Aslami, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda “Tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan pahala amal perbuatannya dilipatgandakan”. (HR. al-Baihaqi dalam kitab Syua’bul Iman)

Di antara syarat hadis yang sahih adalah hadis yang sanadnya tidak bermasalah. Adapun hadis di atas salah satu periwayatnya bernama Ma‘ruf bin Hassan. Para kritikus hadis menilai Ma‘ruf bin Hassan sebagai periwayat yang majhul (tidak dikenali), bahkan sebagian kritikus menilainya dhaif dari segi integritasnya (adalah al-ruwat) yang menyebabkan hadisnya sangat lemah.

Hadis tersebut juga ditemukan dalam jalur periwayatan yang lain. hanya saja, dalam sanadnya ada periwayat yang bernama Sulaiman bin ‘Amr al-Nukha‘i. Sulaiman dinilai lebih dhaif dari Ma‘ruf bin Hassan. Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, maka disimpulkan bahwa hadis tersebut adalah hadis yang sangat lemah.

Dari segi makna, sebenarnya tidur adalah perkara yang mubah (boleh), bukan sebagai ritual ibadah. Sebagai perkara yang mubah, seperti perkara mubah lainnya dapat terhitung sebagai ibadah (mendapat pahala) jika dijadikan sebagai penunjang ibadah. Misalnya, orang yang sedang berpuasa khawatir jika terjaga akan melakukan perkara yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum atau perkara yang menghapus pahala puasa seperti mencaci maki atau menggunjing. Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. contohnya, tidur karena bermalas-malasan, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Hadis IAIN Pontianak

Penulis: Tim LiputanEditor: Redaksi