Cegah Radikalisme dan Intoleransi Susupi Dunia Pendidikan
![]() |
| Suasana kegiatan Rumah Pelopor 2020 |
Sanggau (Suara Kalbar) – Radikalisme telah menyusup ke semua sisi kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Hal ini jelas memprihatinkan banyak pihak karena dapat menjerumuskan anak didik maupun pendidik ke arah yang tidak baik seperti halnya intoleransi.
Rumah Pelopor 2020 yang digagas oleh Pusat Kajian dan Keilmuan, Pojok Si Gondrong (PSG) hadir sebagai upaya mencegah perkembangbiakan radikalisme secara masif dengan menggandeng Forum Peduli Ibu Pertiwi (FPIP), sebuah lembaga independen yang berkedudukan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Mengangkat tema “Guru Bhineka, Guru Merdeka”, Rumah Pelopor bersama para guru di Bumi Daranante berkumpul di Komplek Taman Wisata Sentana sebagai pusat kegiatan.
Direktur Pusat Kajian dan Keilmuan Pojok si Gondrong, Sugeng Rohadi mengatakan ada tiga poin yang diangkat dalam forum-forum yang disiapkan yakni radikalisme, intoleransi dan konflik. Kegiatan berlangsung selama tiga hari 19-21 Februari 2020.
“Fokus kami adalah soal Kebhinekaan dengan tiga poin yang saya sebut di atas. Kami berharap para guru dapat menjadi pilar kebangsaaan guna mencegah radikalisme, intoleransi dan konflik,” kata Sugeng.
“Kadang definisi (batasan) memang sepele, tetapi berdampak serius terhadap pemahaman orang pada sesuatu. Soal radikalisme begitu juga. Orang, bahkan pemerintah pun, sejauh ini belum bisa seenaknya membuat definisi. Walaupun mudah saja menyebut istilah radikal,” jelasnya.
Dengan pengetahuan yang benar, dia berharap para guru mendapat pemahaman yang komprehensif, sehingga dapat memberikan bimbingan kepada generasi bangsa sehingga tidak terjebak pada persoalan yang sama di masa mereka kelak.
Sementara itu, di hadapan para guru, Pasi Teritorial Kodim 1204 Sanggau, Kapten Inf. Eko Prasetyo Widodo menyampaikan materi seputar radikalisme dalam konteks tentara nasional Indonesia.
“Paham radikalisme itu menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis,” katanya.
Istilah radikalis zaman dulu dengan sekarang sudah mengalami pergeseran makna.
“Kalau dulu, waktu rakyat bersatu melawan penjajah, perjuangan yang kita lakukan harus secara radikal, kalau tidak mana mungkin kita mampu mengalahkan belanda hanya dengan bambu runcing. Nah, zaman sekarang, paham radikal sudah bergeser, yang ditumpas melalui bom bunuh diri itu malah bangsa sendiri, dilakukannya di Indonesia. Itulah yang kita sayangkan,” ungkapnya.
Ia menyebut, radikalisme yang menuntut perubahan secara drastis itu tidak hanya terjadi di kalangan muslim saja, tetapi agama lainnya. Namun, karena yang paling sering muncul adalah pelakunya muslim, maka orang identikkan dengan muslim.
“Paham radikalisme ini musuh bangsa dan sangat berbahaya dan berpotensi memecahbelah keberagaman di Indonesia,” katanya.
Banyak contoh yang disampaikan Eko terkait paham radikalisme yang berujung pada aksi terorisme. Salah satunya pengeboman rumah ibadah di sejumlah daerah di Indonesia.
Kabag Ops Polres Sanggau, Kompol Bermawis menyampaikan guru mempunyai peran penting untuk mencegah masuknya paham radikalisme dan intoleransi di lingkungan sekolah.
Guru, lanjut Bermawis, harus berada di tengah, memberikan pemahaman tentangan bahaya intoleransi dan radikalisme kepada anak didik dan orang-orang di sekitar, agar kedepan tercipta generasi yang kuat, cerdas dan mau membangun di tengah keberagaman.
“Guru sebagai orang-orang terpelajar dan terdidik, tidak boleh malah mengajarkan paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara. Guru harus bisa menjadi agen pelopor persatuan dalam bingkai NKRI,” tegasnya.
Penulis: Tim Liputan
Editor: Kundori





