Ikuti Gawai di Malaysia, Ini Tanggapan Tokoh Dayak
![]() |
| Tokoh Dayah yang mengikuti Gawai Dayak 2019 tingkat Nasional Malaysia di Bintulu, Serawak
Foto: Nikodemus Niko / suarakalbar.co.id |
Serawak (Suara Kalbar) – Kontingen perwakilan Indonesia dengan jumlah 46 orang peserta yang mengikuti kegiatan Gawai Dayak Tingkat Nasional Tahun 2019 yang dilaksanakan Bintulu, Serawak Malaysia pada tanggal 18 Mei 2019 lalu, kini sudah pulang kembali ke Indonesia.
Drs. Agustinus Clarus, M.Si koordinator kontingen kepada suarakalbar.co.id, Senin (20/5/2019) menjelaskan, peserta anggota kontingen dari Kalimantan Barat yang mengikuti Gawai Dayak 2019 tingkat Nasional dan Malam Mantar Gawai, di Bintulu ini memang terdiri dari berbagai daerah di Kalimantan Barat. Ada dari Pontianak, daerah Perbatasan dan Sanggau serta dari Sintang, namun dengan tujuan yang sama yakni mengangkat martabat adat dan budaya kaum Dayak ke persada dunia.
![]() |
| Thadeus Yus (kiri), bersama isteri Katharina Lies (tengah) dan Agustinus Clarus (kanan).
Gawai Dayak Nasional 2019, Bintulu, Serawak-Malaysia Foto: Nikodemus Niko / suarakalbar.co.id |
Atas nama dan mewakili Provinsi Kalimantan Barat, dari 46 orang tersebut, secara khusus utusan dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sintang, berjumlah 22 orang yang dipimpin langsung oleh ibu DR. Hendrika, S.Sos., M.Si. Kepala Dinas Disporapar Kabupaten Sintang, berkesempatan mempersembahkan Peragaan Busana Tenun Ikat warisan budaya Suku Dayak yang mempunyai nilai tinggi, pada Malam Mantar Gawai Sabtu (18/5) di Dinner World Restaurant Bintulu, Serawak-Malaysia.
Acara Gawai Dayak Nasional 2019 Malaysia ini, diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pembukaan pada pagi harinya di Lapangan Terbang Lama Bintulu, Serawak Malaysia oleh Tuan Gobind Singh Deo Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, hingga acara Malam Mantar Gawai di ruangan Dinner World Restaurant Bintulu, dengan Tamu kehormatan YB Tuan Baru Bian, Menteri Kerja Raya Malaysia (Menteri Pekerjaan Umum – Red).
Dari rangkaian pelaksanaan kegiatan Gawai Dayak Nasional Malaysia tersebut, turut serta bersama kontingen ini para Tokoh Masyarakat Dayak Kalimantan Barat, kemudian memberikan tanggapan atas pelaksanaan Gawai Dayak tahun 2019 Tingkat Nasional Malaysia.
![]() |
| DR. Jhon Brian Anthony (nomor 5 dari kiri) ketua Penyelenggara Gawai Dayak 2019 Tingkat Nasional Malaysia, Katharina Lies, S.Pd (nomor 3 dari kiri), Thadeus Yus, S.H. M.Pa. (nomor 4 dari kiri), Thomas Suben (nomor 2 dari kanan).
Foto: Nikodemus Niko / suarakalbar.co.id |
Berikut tanggapan para Tokoh Masyarakat Dayak, tersebut:
1. Thadeus Yus, S.H. M.Pa. berharap, agar Gawai Dayak Nasional Malaysia ini ke depan, waktunya diatur agar tidak bertabrakan dengan jadwal Gawai Provinsi di Kalbar, sehingga banyak peserta dari Serawak bisa ikut gawai di Kalbar atau sebaliknya. Kemudian ada kerjasama antara Kalimantan bagian Indonesia dengan Kalimantan bagian Malaysia untuk penyelenggaraan gawai sehingga bisa saling kunjung mengunjungi.
2. Katharina Lies, S.Pd., Gawai Dayak merupakan sarana pemersatu Dayak antar negara. Gawai Dayak ini diharapkan menjadi event tahunan yang dilaksanakan berpindah-pindah tidak hanya di Serawak saja. Misalnya bisa saja di Miri, Khucing dan beberapa tempat di Malaysia. Tentukan waktunya selalu sama atau tetapkan tanggalnya, misalnya di Indonesia tanggal 20 Mei setiap tahun, maka kita sarankan Malaysia juga tetapkan tanggalnya supaya bisa jadi hari libur dan koordinasi dengan Indonesia, agar penetapan tanggal pelaksanaan gawai di Malaysia tersebut tidak tabrakan waktunya dengan gawai di Indonesia, sehingga kita bisa saling kunjung dan bisa mempersiapkan peserta lebih maksimal. Diharapkan juga dalam pelaksanaan gawai ini ada pertukaran duta wisata, sehingga bisa menjadi sarana saling memperkenalkan dan mempelajari budaya antar negara tersebut. Dan hal inilah yang semakin mempererat hubungan ke dua negara ini. Jika pelaksanaannya sudah terjadwal dengan baik maka kita bisa persiapkan lebih maksimal, membawa kreasi budaya masing-masing, dan lebih baik lagi ada komunitas khusus yang mengelola ini, sehingga hal ini bisa terencana dan terlaksana denga semakin baik, maka gunakanlah perangkat budaya kita, tidak hanya dimiliki orang per orang saja, dan pada akhirnya budaya kita menjadi primadona wisata, yang menjadi daya tarik hingga pihak negara lainnya juga datang menyaksikan gawai Dayak Indonesia-Malaysia.
![]() |
| DR. Hendrika, S.Sos., M.Si. (Nomor 4 dari kiri bawah), Kepala Dinas Disporapar Kabupaten Sintang, bersama peserta Peragaan Busana Tenun Ikat Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia |
3. DR. Hendrika, S.Sos., M.Si. Kepala Dinas Disporapar Kabupaten Sintang, satu hal yang kita lihat dari pelaksanaan Gawai Dayak Nasional Malaysia, mereka masih mempertahankan tradisi-tradisi yang memang di tempat kita sudah mulai tidak ada, misalnya pakaian adat yang lebih original. Oleh sebab itu kita juga harus menggali budaya-budaya asli nenek moyang, tentu saja seiringan dengan modernisasi. Dengan adanya moderenisasi, keunikan dan original jangan kita tinggalkan.
Kita dari Sintang sudah membuat event tahunan. Kehadiran kita pada Gawai Dayak Nasional Malaysia ini justru untuk mempromosikan supaya dari Malaysia bisa datang pada kegiatan yang menjadi program tahunan Kota Sintang, dan mereka sudah pastikan akan datang pada bulan Juli mendatang. Event tahunan kota Sintang tersebut di antaranya ada empat kegiatan yang menjadi program Disporapar, yakni; Gebyar Pesona Kabupaten Sintang, Kelam Tourism Festival, Gawai Dayak dan Hari Jadi Kota Sintang.
4. Thomas Suben, saya setuju dengan adanya kerjasama budaya dalam pelaksanaan Gawai Dayak Indonesia-Malaysia. Kedepannya, selain kerjasama budaya yang dilaksanakan ini, nilai bisnisnya juga harus jadi perhatian, misalnya pada saat pentas seni atau peragaan busana, tampilkan juga promosi produk dan kerajinan, bahkan kesempatan tersebut juga kita bisa langsung tawarkan produk tersebut siapa yang berminat bisa langsung beli. Pengalaman ini juga pernah kami lalui di Thailand, produk langsung ditawarkan kepada forum sehingga bisa juga menambah nilai jual produk itu sendiri. Hal lain di Kalimantan yang juga harus kita siapkan adalah dengan adanya wacana pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, ini menjadi peluang bagi kita dalam memajukan budaya Dayak dan wisata di Kalimantan.
Dihubungi terpisah DR. Jhon Brian Anthony, ketua Penyelenggara Gawai Dayak 2019 Tingkat Nasional Malaysia, mengatakan, akan memperbaiki Perayaan Gawai Nasional kami pada tanggal 13-15 Juni 2019 mendatang.
“Kita harus memegang satu Dayak Gawai Kalimantan, dan kita harus buat hal itu pada pertengahan Juni mendatang,” janjinya.
Penulis: Nikodemus Niko








