Serangan Jantung di Usia Muda, Yendi Kini Berhenti Merokok dan Mulai Jaga Kesehatan
Suara Kalbar – Penyakit jantung selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, kondisi tersebut juga dapat dialami oleh orang yang masih berusia muda.
Hal itu dialami Yendi, warga Cimahi, yang mengalami serangan jantung ketika usianya baru 36 tahun. Kondisinya bahkan membuat Yendi harus menjalani prosedur pemasangan ring untuk membuka pembuluh darah yang mengalami penyumbatan.
Yendi menuturkan, serangan jantung yang dialaminya diawali sejumlah keluhan, seperti sesak napas, keringat dingin, hingga mulut terasa pahit. Setelah mengalami gejala tersebut, ia kemudian dibawa ke unit gawat darurat (UGD).
Setelah menjalani pemeriksaan, Yendi menjalani tindakan di cardiac catheterization laboratory (cathlab). Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankan agar Yendi menjalani pemasangan ring jantung.
Namun, Yendi sempat menolak saran tersebut karena merasa takut dengan prosedur pemasangan ring.
Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjalani tindakan tersebut. Pemasangan ring jantung dilakukan di Rumah Sakit Dustira, Cimahi, pada awal September 2026.
“Setelah pasang ring, kondisi saya jauh lebih baik. Kalau dahulu sering mengalami sesak napas, keringat dingin, dan mulut terasa pahit,” kata Yendi di Rumah Sakit Dustira, Cimahi, Rabu (16/9/2026).
Yendi mengaku tidak pernah menyangka dirinya dapat mengalami serangan jantung di usia 36 tahun. Terlebih, meski memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga, anggota keluarganya umumnya baru mengalami penyakit tersebut ketika berusia di atas 50 tahun.
Sebelum mengalami serangan jantung, Yendi mengakui dirinya memiliki kebiasaan merokok. Pengalaman tersebut kemudian membuatnya menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat.
“Sekarang sudah tidak merokok lagi, sudah lebih menjaga kesehatan,” ujar Yendi.
Sedot Pembiayaan Tertinggi
Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit dengan pembiayaan terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 29.734.406 kasus terkait penyakit jantung dengan total biaya pelayanan mencapai Rp17,35 triliun.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan, kasus pelayanan kardiovaskular menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terlihat dari meningkatnya penggunaan layanan cathlab.
Pada 2025, terdapat lebih dari 138.000 kasus cathlab yang ditangani. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021.
Sementara itu, biaya pelayanan cathlab yang ditanggung melalui program JKN pada 2025 mencapai Rp3,51 triliun.
Menurut Prihati, meningkatnya jumlah kasus sekaligus besarnya biaya pelayanan kardiovaskular menunjukkan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif. Langkah tersebut juga diperlukan untuk membantu mengendalikan biaya pelayanan kesehatan.
“Banyak kejadian kardiovaskular berbiaya tinggi adalah dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu. Untuk itu, diperlukan penguatan pada layanan primer,” kata Prihati Pujowaskito.
Ia menjelaskan, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) menjadi salah satu fondasi penting dalam upaya mengendalikan kasus penyakit kardiovaskular.
Penguatan layanan primer dilakukan melalui berbagai upaya promotif dan preventif. Selain itu, FKTP juga berperan sebagai care coordinator dalam penerapan layanan kesehatan berbasis nilai atau value-based health care.
Sumber: Beritasatu.com





