SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Menjaga Martabat Profesi di Ruang Publik: Wartawan, Etika Komunikasi, dan Bahaya Kesombongan

Menjaga Martabat Profesi di Ruang Publik: Wartawan, Etika Komunikasi, dan Bahaya Kesombongan

Mustafa MS

Oleh: Mustafa MS

Profesi wartawan merupakan salah satu profesi yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan demokrasi dan peradaban modern. Wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi juga menjadi bagian dari proses penyampaian informasi, pengawasan sosial, pendidikan publik, serta pembentukan ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat.

Dalam kehidupan politik, misalnya, seorang politisi membutuhkan media dan kerja jurnalistik agar gagasan, pemikiran, program, serta perjuangan politiknya dapat diketahui dan dinilai oleh masyarakat. Demikian pula pemerintah, akademisi, pengusaha, advokat, aktivis, dan berbagai profesi lainnya membutuhkan pers sebagai jembatan komunikasi dengan publik.

Karena itu, tidak semestinya suatu profesi merasa lebih tinggi dan kemudian memandang rendah profesi lainnya. Setiap profesi memiliki fungsi, tanggung jawab, kompetensi, serta kontribusinya masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kritik terhadap Profesi Harus Tetap Berlandaskan Etika

Kontroversi pernyataan Hotman Paris yang kemudian diikuti dengan permintaan maaf dapat menjadi pelajaran penting tentang etika komunikasi di ruang publik. Permintaan maaf tentu merupakan sikap yang patut dihargai sebagai bagian dari tanggung jawab moral seseorang atas perkataan yang telah menimbulkan keberatan atau ketersinggungan.

Namun, permintaan maaf tidak serta-merta menghapus diskursus mengenai substansi suatu pernyataan dan dampaknya terhadap kehormatan sebuah profesi.

Dalam negara hukum, apabila Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menilai terdapat persoalan yang perlu diselesaikan melalui mekanisme hukum dan memilih membawanya kepada pihak yang berwenang, langkah tersebut harus ditempatkan dalam kerangka hak setiap warga negara atau organisasi untuk memperoleh kepastian hukum.

Pada akhirnya, benar atau tidaknya suatu dugaan pelanggaran tentu harus ditentukan berdasarkan fakta, ketentuan hukum, dan proses yang berlaku—bukan berdasarkan penghakiman sepihak di ruang publik.

Kesombongan dan Pelajaran dari Sejarah Peradaban

Sejarah peradaban manusia memberikan banyak pelajaran bahwa kekuasaan, kekayaan, popularitas, maupun tingginya kedudukan seseorang tidak pernah menjadi jaminan bahwa seseorang akan selalu berada di puncak.

Tidak sedikit tokoh besar dalam sejarah yang akhirnya kehilangan kehormatan, kekuasaan, bahkan kepercayaan masyarakat karena tidak mampu mengendalikan kesombongan dan merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Dalam perspektif moral, kesombongan dapat tercermin setidaknya dalam dua sikap: menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Dua sikap tersebut berbahaya, terlebih apabila tumbuh pada orang yang memiliki kekuasaan, kekayaan, popularitas, ataupun pengaruh besar di tengah masyarakat.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin matang cara berpikirnya. Semakin besar kekayaan seseorang, semestinya semakin kuat kepedulian sosialnya. Semakin tinggi kedudukannya, seharusnya semakin rendah hati dalam memperlakukan sesama manusia.

Sebab pada hakikatnya, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi profesi, jabatan, kekayaan, atau popularitasnya, melainkan oleh integritas, etika, ilmu, dan kemampuannya menghormati martabat orang lain.

Wartawan, advokat, politisi, akademisi, ASN, petani, nelayan, buruh, maupun profesi lainnya memiliki kehormatan masing-masing. Kita boleh berbeda profesi, berbeda kedudukan, bahkan berbeda pandangan, tetapi tidak seharusnya kehilangan penghormatan terhadap sesama.

Jangan pernah merasa besar dengan cara mengecilkan orang lain. Sebab sejarah mengajarkan: seseorang sering kali tidak jatuh karena kekurangan harta atau kekuasaan, tetapi karena kesombongan yang membuatnya lupa menghormati sesama.***

*Penulis adalah Ketua Bidang MW Kahmi Kalimantan Barat

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play