SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Asam Urat Tak Lagi Identik dengan Lansia, Ini 5 Cara Mencegahnya Sejak Usia 20-an

Asam Urat Tak Lagi Identik dengan Lansia, Ini 5 Cara Mencegahnya Sejak Usia 20-an

Ilustrasi menghindari makanan manis. (Freepik/Way Home Studio)

Suara Kalbar – Asam urat atau gout selama ini identik dengan penyakit yang menyerang kelompok usia lanjut. Namun, anggapan tersebut kini mulai bergeser. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus asam urat pada usia produktif, bahkan di rentang usia 20 hingga 30 tahun, terus menunjukkan peningkatan.

Tak sedikit anak muda yang mengeluhkan nyeri sendi secara tiba-tiba, terutama pada jempol kaki, disertai pembengkakan dan rasa kaku saat bangun tidur. Keluhan tersebut sering dianggap sebagai dampak kelelahan atau aktivitas fisik yang padat, padahal bisa menjadi tanda awal meningkatnya kadar asam urat.

Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, kadar asam urat yang tinggi dapat membentuk kristal di dalam persendian. Endapan kristal tersebut memicu peradangan yang menyebabkan rasa nyeri hebat, pembengkakan, hingga menghambat aktivitas sehari-hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan tren peningkatan penderita gout di usia muda. Perubahan pola hidup, terutama konsumsi makanan tinggi gula dan rendah aktivitas fisik, disebut menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus tersebut.

Mengapa Asam Urat Kini Banyak Dialami Anak Muda?

Asam urat merupakan zat sisa hasil pemecahan purin, yaitu senyawa yang secara alami diproduksi tubuh maupun berasal dari makanan yang dikonsumsi.

Dalam kondisi normal, ginjal akan membuang kelebihan asam urat melalui urine. Namun, ketika produksinya berlebihan atau kemampuan ginjal menurun, kadar asam urat akan meningkat dan mengendap menjadi kristal pada persendian.

Pada kelompok usia muda, kondisi ini umumnya dipicu oleh pola hidup kurang sehat, seperti terlalu sering mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, daging merah secara berlebihan, hingga minim berolahraga.

Minuman tinggi fruktosa, seperti soda, teh kemasan, kopi susu kekinian, maupun minuman boba, diketahui dapat meningkatkan produksi asam urat sekaligus mengurangi kemampuan ginjal membuangnya. Akibatnya, kadar asam urat dalam darah menjadi lebih tinggi.

1. Kurangi Konsumsi Minuman Tinggi Fruktosa

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membatasi minuman dengan kandungan gula tambahan, khususnya yang mengandung high fructose corn syrup (HFCS).

Pemanis ini banyak ditemukan pada minuman bersoda, minuman energi, teh kemasan, hingga berbagai minuman kekinian. Konsumsi berlebihan dapat mempercepat peningkatan kadar asam urat.

Sebagai alternatif, pilih air putih, minuman rendah gula, atau buah segar utuh yang mengandung serat lebih tinggi dibandingkan jus dalam kemasan.

2. Pilih Kopi Hitam dan Susu Rendah Lemak

Bagi penikmat kopi, kabar baiknya, konsumsi kopi hitam tanpa tambahan gula dalam jumlah wajar justru dikaitkan dengan risiko asam urat yang lebih rendah.

Selain itu, susu rendah lemak juga dapat menjadi pilihan karena kandungan proteinnya membantu meningkatkan pembuangan asam urat melalui ginjal.

Sebaliknya, kopi dengan tambahan sirup, gula berlebih, maupun krimer sebaiknya dibatasi karena kandungan gulanya dapat mengurangi manfaat tersebut.

3. Penuhi Kebutuhan Air Putih Setiap Hari

Menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi cara sederhana namun sangat penting untuk mengontrol kadar asam urat.

Air putih membantu ginjal bekerja lebih optimal dalam menyaring dan membuang kelebihan asam urat sebelum membentuk kristal di dalam persendian.

Membiasakan membawa botol minum saat beraktivitas dapat menjadi cara efektif agar kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi.

4. Batasi Daging Merah dan Hindari Jeroan

Pola makan berperan besar dalam mencegah asam urat. Daging merah dan berbagai jenis jeroan, seperti hati, ginjal, usus, limpa, maupun ampela, mengandung purin yang cukup tinggi.

Sebagai pengganti, kebutuhan protein dapat dipenuhi dari sumber protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan yang relatif lebih aman bagi penderita maupun mereka yang berisiko mengalami asam urat.

5. Rutin Berolahraga dan Kurangi Duduk Terlalu Lama

Aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga berat badan tetap ideal sekaligus memperbaiki metabolisme tubuh.

Gaya hidup sedenter atau terlalu lama duduk dapat meningkatkan risiko obesitas, yang pada akhirnya turut meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh.

Tidak perlu melakukan olahraga berat. Jalan kaki selama 15–30 menit, bersepeda, jogging ringan, maupun latihan kekuatan beberapa kali dalam sepekan sudah memberikan manfaat yang signifikan.

Terapkan Pola Hidup Sehat Sejak Dini

Mencegah asam urat sebenarnya tidak memerlukan langkah yang rumit. Perubahan kebiasaan sehari-hari justru menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan.

Mengurangi konsumsi minuman tinggi gula, memilih makanan rendah purin, memperbanyak minum air putih, menjaga berat badan ideal, serta rutin berolahraga merupakan kombinasi yang efektif untuk menjaga kadar asam urat tetap terkendali.

Semakin cepat kebiasaan sehat diterapkan, semakin kecil pula risiko mengalami serangan asam urat di masa mendatang.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play