ChatGPT Kehilangan Dominasi, Pangsa Pasar AI Global Turun di Bawah 50 Persen
Suara Kalbar – ChatGPT masih menjadi chatbot kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. Namun untuk pertama kalinya sejak memimpin pasar AI percakapan, platform milik OpenAI itu kehilangan dominasi mayoritas pangsa pasar global.
Sejak diperkenalkan pada 2022, ChatGPT menjadi simbol ledakan teknologi AI generatif. Popularitasnya melesat hingga namanya kerap digunakan sebagai sebutan umum untuk chatbot AI.
Meski masih memimpin, data terbaru menunjukkan peta persaingan industri mulai berubah.
Berdasarkan laporan State of AI 2026 dari Sensor Tower, pangsa pasar ChatGPT pada Mei 2026 tercatat sebesar 46,4 persen. Angka itu turun dibandingkan Desember 2025 yang masih mencapai 52,8 persen dan jauh di bawah posisi Desember 2024 sebesar 65,3 persen.
Penurunan tersebut menandai berakhirnya periode ketika ChatGPT menguasai lebih dari separuh pasar chatbot AI dunia.
Meski demikian, penyusutan pangsa pasar bukan berarti pengguna meninggalkan ChatGPT. Justru sebaliknya, jumlah pengguna aktif bulanan platform tersebut terus meningkat.
Sensor Tower mencatat ChatGPT kini memiliki lebih dari 1,1 miliar pengguna aktif bulanan, naik signifikan dibanding sekitar 900 juta pengguna pada Februari 2026. Capaian tersebut menjadikannya chatbot AI pertama yang menembus angka satu miliar pengguna aktif bulanan.
Fenomena ini menunjukkan pasar AI tumbuh lebih cepat dibanding pertumbuhan ChatGPT sendiri. Akibatnya, meski jumlah pengguna terus bertambah, proporsi pasar yang dikuasai OpenAI mulai tergerus oleh kompetitor.
Pesaing terdekat ChatGPT saat ini adalah Gemini milik Google yang menguasai sekitar 27,7 persen pasar global dengan 662 juta pengguna aktif bulanan.
Pertumbuhan Gemini banyak ditopang kekuatan ekosistem Google yang telah digunakan miliaran orang di seluruh dunia. Integrasi dengan berbagai layanan Google membuat chatbot tersebut lebih mudah menjangkau pengguna baru.
Sementara itu, Claude besutan Anthropic menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar sekitar 10,3 persen. Meski masih tertinggal jauh dari ChatGPT dan Gemini, Claude terus memperkuat posisinya, terutama di kalangan profesional dan pengguna produktivitas.
Laporan Sensor Tower juga mencatat perubahan perilaku pengguna AI. Jika sebelumnya banyak orang bergantung pada satu chatbot untuk berbagai kebutuhan, kini pengguna cenderung memilih layanan berbeda sesuai keunggulannya.
Gemini dinilai unggul dalam kemampuan multimodal yang menggabungkan teks, gambar, dan video. Claude dikenal kuat dalam pengelolaan dokumen panjang serta pendekatan keamanan yang lebih ketat. Sementara ChatGPT masih menjadi pilihan utama untuk penggunaan umum dan produktivitas sehari-hari.
Perubahan tersebut menunjukkan industri AI mulai memasuki fase yang lebih matang. Persaingan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang lebih dulu hadir, melainkan oleh kualitas pengalaman yang diberikan kepada pengguna.
Selain faktor teknologi, isu privasi dan kebijakan perusahaan juga mulai memengaruhi persepsi publik. Sensor Tower mencatat pengumuman kerja sama OpenAI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat sempat diikuti peningkatan jumlah pengguna yang menghapus aplikasi ChatGPT.
Di sisi lain, OpenAI juga mulai menguji model bisnis baru melalui iklan. Pada Mei 2026, sekitar 17 persen pengguna harian ChatGPT disebut telah menerima iklan saat menggunakan layanan tersebut.
Meski menghadapi tekanan dari para pesaing, posisi ChatGPT masih sangat kuat. Secara gabungan, ChatGPT, Gemini, dan Claude menguasai sekitar 89 persen total waktu penggunaan aplikasi AI global.
Data tersebut menunjukkan ChatGPT belum kehilangan statusnya sebagai pemimpin pasar. Namun era dominasi mutlak yang dinikmatinya sejak 2022 kini mulai menghadapi tantangan serius dari para rival yang berkembang semakin cepat.
Bagi pengguna, meningkatnya persaingan ini justru membawa keuntungan. Semakin banyak pemain yang bersaing, semakin besar pula peluang lahirnya inovasi baru, fitur yang lebih baik, serta biaya layanan yang semakin kompetitif.
Sumber: Beritasatu.com






