Harga HP Diprediksi Terus Naik, CEO Nothing Minta Konsumen Tak Lagi Menunggu Diskon
Suara Kalbar – Masyarakat yang masih menunggu diskon besar-besaran untuk mengganti hand phone (HP) tampaknya perlu mempertimbangkan kembali rencana tersebut. Pasalnya, tren harga smartphone diprediksi akan terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun ke depan.
Peringatan tersebut disampaikan Co-founder sekaligus CEO Nothing, Carl Pei. Menurutnya, perubahan besar yang terjadi di industri teknologi saat ini membuat harga ponsel tidak lagi bergerak turun seperti yang selama ini diharapkan banyak konsumen.
Dikutip dari Digital Trends, Sabtu (13/6/2026), Carl Pei mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama kenaikan harga smartphone adalah melonjaknya biaya komponen memori atau RAM akibat tingginya kebutuhan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Jika beberapa tahun lalu layar OLED menjadi komponen termahal dalam sebuah smartphone, kondisi tersebut kini telah berubah. Pada 2026, RAM justru menjadi komponen dengan biaya paling tinggi dalam proses produksi ponsel.
Menurut Pei, ledakan perkembangan teknologi AI secara global mendorong pusat data (data center) untuk membeli cip memori dalam jumlah sangat besar guna mendukung kebutuhan komputasi mereka.
Akibatnya, ketersediaan RAM untuk industri smartphone semakin terbatas. Kondisi ini memicu lonjakan harga memori yang secara langsung berdampak pada biaya produksi perangkat.
“Saat ini memori lebih mahal dibandingkan chipset maupun layar,” ujar Carl Pei melalui unggahannya di platform X.
Ia menjelaskan, biaya RAM kini dapat menyumbang lebih dari 50 persen dari total biaya perangkat keras sebuah smartphone. Artinya, kenaikan harga memori akan sangat memengaruhi harga jual ponsel di pasaran.
Carl Pei bahkan mencontohkan kondisi tersebut melalui salah satu produk Nothing, yakni Nothing Phone (4a). Ponsel kelas menengah itu disebut mengalami kenaikan biaya memori hingga dua kali lipat sejak tahap perencanaan produk hingga waktu peluncurannya.
Fenomena ini, menurutnya, menunjukkan betapa besarnya tekanan yang sedang dihadapi produsen smartphone akibat perubahan rantai pasok komponen global.
Lebih lanjut, Pei memprediksi tren kenaikan harga komponen belum akan mereda dalam waktu dekat. Tekanan harga akibat kelangkaan RAM diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga tahun 2027.
Dengan kondisi tersebut, konsumen yang berencana mengganti perangkat justru disarankan untuk tidak terlalu lama menunda keputusan pembelian.
“Apabila Anda sudah menunggu untuk meningkatkan perangkat, waktu terbaik adalah kemarin,” tegas Pei.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa harapan mendapatkan smartphone dengan harga jauh lebih murah dalam waktu dekat kemungkinan sulit terwujud.
Selain dipengaruhi lonjakan harga memori, industri smartphone juga menghadapi tantangan lain, mulai dari peningkatan kebutuhan teknologi AI pada perangkat, biaya riset dan pengembangan, hingga ketidakpastian rantai pasok global.
Bagi konsumen, situasi ini menjadi pengingat bahwa strategi menunggu harga ponsel turun belum tentu memberikan keuntungan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
Sebaliknya, jika perangkat yang digunakan saat ini sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, melakukan upgrade dalam waktu dekat dapat menjadi pilihan yang lebih rasional sebelum harga smartphone kembali mengalami kenaikan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






