SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Deep Learning di Atas Luka: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Jalan

Deep Learning di Atas Luka: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Jalan

oleh : Safari Hamzah, S.Ag, M.Si

Sebagai insan pendidikan yang sudah berkecimpung lebih kurang 28 tahun membersamai guru mengantarkan anak anak tumbuh dan berkembang dengan mengikuti dan mengawal kurikulum yang selalu disesuaikan, kali ini izinkan mengungkap rasa, menunjukan data dan fakta. tujuannya semoga menjadi catatan kebaikan di momentum Hari Pendidikan 2026

Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun tahun ini, mari kita hentikan sejenak euforia seremonial. Sebab, tanpa perbaikan mendasar pada tiga akar masalah—kekerasan, kesejahteraan guru honorer, dan kompetensi pedagogi guru—maka konsep Deep Learning hanya akan menjadi jargon kosong di ruang rapat.

Deep Learning: Konsep Mulia, Kondisi Memilukan

Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa tidak hanya menghafal, tetapi berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir mendalam.

Namun, bagaimana mungkin seorang guru mampu memfasilitasi deep learning jika ia sendiri takut akan kekerasan fisik dari muridnya? Bagaimana mungkin terjadi komunikasi kritis dan reflektif di kelas yang justru menjadi lokasi kekerasan seksual atau psikis?

Data Kekerasan: Penanda Gagalnya Ekosistem Belajar Mendalam

Fakta berbicara pahit:

61 kasus kekerasan di dunia pendidikan sepanjang 2024 (FSGI). Lonjakan dari tahun-tahun sebelumnya. 46,25 persen adalah kekerasan antara guru dan murid—saling melukai, bukan saling menguatkan.

Kekerasan fisik mencapai 45 persen, diikuti seksual 28,33 persen, dan psikis 13,33 persen.

Akar dari angka ini adalah hilangnya relasi humanis di sekolah. Padahal, deep learning hanya bisa tumbuh subur dalam ekosistem yang aman secara fisik dan psikis. Jika guru menjadi korban atau justru pelaku kekerasan, maka proses berpikir tingkat tinggi tidak akan pernah terjadi. Yang terjadi hanyalah survival mode: siswa takut bertanya, guru takut menegur.

Guru Kreatif dan Honorer: Siapa yang Mampu Deep Learning?

Di tengah darurat kekerasan ini, masih ada guru-guru kreatif yang mencoba menerapkan pembelajaran berbasis proyek, berdiferensiasi, dan humanis. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun, ironi terbesar justru menimpa guru honorer. Gaji mereka naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Kenaikan ini patut diapresiasi, tetapi mari kita hitung dengan jujur: dengan Rp2 juta, apakah seorang guru bisa membeli buku referensi, mengikuti pelatihan deep learning, atau sekadar membayar kuota internet untuk mengakses platform Aplikasi aplikasi tempat administrasi

Deep learning tidak akan pernah terwujud jika gurunya sendiri kelaparan secara intelektual dan ekonomi.

PPG diperluas kuotanya hingga 700 persen, tetapi guru honorer yang belum tersertifikasi masih tersebar di ribuan sekolah terpencil. Mereka mengajar dengan dedikasi, tetapi dirawat setengah hati oleh sistem. mereka banyak dibayar dengan menggunakan dana BOS. kisaran gajinya 200 ribu sampai satu juta.

Masa Depan Pendidikan: Deep Learning atau Deep Crisis?

Kemendikdasmen berencana menambahkan mata pelajaran pilihan: Literasi Digital, Koding, dan AI mulai 2026. Ini langkah maju. Tetapi tanpa fondasi yang kokoh, ini hanya membuat tampilan kurikulum “canggih” di atas tanah yang retak.

Fondasi itu adalah:

1. Penghapusan kekerasan di sekolah melalui mekanisme pelaporan yang aman dan sanksi tegas.
2. Kesejahteraan guru minimal UMR, tidak hanya honorer tetapi semua guru.
3. Pelatihan deep learning massal bagi guru, bukan sekadar sertifikasi administrasi.

Deep learning menuntut guru untuk menjadi fasilitator reflektif. Namun, seorang guru yang hidup dalam tekanan finansial dan ketakutan akan kekerasan tidak akan pernah mencapai level itu. Ia akan kembali ke metode lama: ceramah, hafalan, hukuman. Karena itu yang paling aman dan paling murah energi.

Penutup: Haru yang Tak Selesai, Prihatin yang Harus Berbuah Aksi

Melihat guru honorer yang tetap mengajar dengan sabar meski gajinya hanya 200 ribu per bulan—itu mengharukan. Melihat murid yang tetap datang ke sekolah meski pernah menjadi korban kekerasan—itu memilukan.

Tapi haru tanpa aksi adalah sentimentalisme. Prihatin tanpa data adalah omong kosong.

Data sudah kita punya. Konsep deep learning sudah kita kenal. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, dan guru sebagai profesi yang mulia sekaligus sejahtera.

Selamat Hari Pendidikan. Jangan hanya mendalam dalam kurikulum, tetapi dangkal dalam perlindungan. Jadikan deep learning, bukan deep luka.

* Penulis adalah Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play