Pilot Senior di Balik Tragedi Helikopter PK-CFX, Kisah Pengabdian Capt. Marindra Wibowo yang Berakhir Duka di Sekadau
Melawi (Suara Kalbar) –Insiden jatuhnya helikopter PK-CFX di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Kamis (16/4/2026), masih menyisakan duka mendalam.
Di balik peristiwa tragis tersebut, sosok pilot yang menerbangkan helikopter itu, Capt. Marindra Wibowo, menjadi sorotan publik. Ia dikenal sebagai pilot berpengalaman dengan rekam jejak panjang di dunia penerbangan.
Helikopter nahas tersebut mengangkut delapan orang, terdiri dari dua kru dan enam penumpang. Capt. Marindra Wibowo bertugas sebagai pilot, didampingi co-pilot Harun Arasyid. Sementara enam penumpang masing-masing diketahui bernama Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito.
Informasi yang dihimpun Suara Kalbar menyebutkan, Capt. Marindra bukan sosok baru di dunia aviasi. Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, ia telah mengabdikan diri sebagai pilot helikopter sejak tahun 2002. Pengalaman lebih dari dua dekade tersebut menjadikannya salah satu pilot yang kompeten di bidangnya.
Sejak Januari 2020, ia tercatat bekerja sebagai helicopter pilot di KPN Plantation. Dalam perannya, ia menerbangkan helikopter jenis Airbus H-130T2, termasuk unit dengan registrasi PK-CFX yang mengalami kecelakaan tersebut.
Sebelumnya, Marindra juga pernah berkarier di Whitesky Aviation Indonesia pada periode 2017 hingga 2019, serta di PT HM Sampoerna Tbk pada tahun 2015 hingga 2017.
Tak hanya di dunia sipil, latar belakang militernya turut memperkuat profesionalismenya. Ia pernah menjabat sebagai Executive Officer di Skuadron 200 Wing Udara Armada Timur TNI Angkatan Laut.
Dari sisi pendidikan, Capt. Marindra diketahui memiliki gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Manajemen. Ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan penerbangan, termasuk pelatihan Airbus H-130T2 di Airbus Training Center serta pelatihan helikopter AW109 di Agusta Westland Training Academy di Italia.
Kepergian Capt. Marindra meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Di Pontianak, istri dan kedua anak laki-lakinya tampak tak kuasa menahan kesedihan saat menanti proses evakuasi hingga identifikasi korban di RS Bhayangkara.
Insiden ini tidak hanya menjadi perhatian publik karena jumlah korban, tetapi juga karena sosok pilot berpengalaman yang berada di balik kemudi helikopter tersebut.
Sementara itu, terkait penyebab kecelakaan, Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol Pipit Rismanto menegaskan bahwa hal tersebut menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Terkait penyebab kecelakaan ini pasti akan didalami, tapi saat ini yang berhak memberikan informasi adalah KNKT,” ujarnya dalam konferensi pers di Pontianak.
KNKT menargetkan laporan awal (preliminary report) akan dirilis dalam waktu 30 hari sejak insiden terjadi.
Investigator KNKT, Dian Saputra, menyebut laporan tersebut akan memuat data faktual hasil investigasi di lapangan, mulai dari kondisi cuaca hingga performa mesin sebelum kecelakaan.
Ia menegaskan, hingga saat ini penyebab jatuhnya helikopter belum dapat dipastikan karena proses investigasi masih berlangsung.
“Untuk penyebabnya saat ini belum bisa kita pastikan. Kita masih menunggu hasil analisis,” katanya.
Dian juga menjelaskan bahwa helikopter PK-CFX tidak dilengkapi perangkat perekam data penerbangan seperti Flight Data Recorder (FDR) maupun Cockpit Voice Recorder (CVR). Sebagai gantinya, tim investigasi mengandalkan engine data recorder untuk mengumpulkan informasi terkait performa mesin.
Selain itu, berbagai data tambahan turut dikumpulkan dari lokasi kejadian, termasuk kemungkinan rekaman kamera yang dapat membantu proses rekonstruksi peristiwa.
Seluruh data tersebut nantinya akan dianalisis secara komprehensif, termasuk dengan melibatkan pihak manufaktur helikopter di Prancis guna memastikan akurasi temuan teknis.
KNKT menyebutkan laporan akhir (final report) yang memuat penyebab kecelakaan serta faktor-faktor yang berkontribusi diperkirakan baru akan dirilis dalam kurun waktu hingga 12 bulan.
“Investigasi ini difokuskan pada aspek keselamatan penerbangan, dengan tujuan menghasilkan rekomendasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” pungkasnya.
Penulis: Dea Kusumah Wardhana





