Rengginang dan Krecek, Camilan Tradisional yang Sarat Makna Kebersamaan saat Lebaran
Suara Kalbar – Selain hidangan utama seperti opor ayam dan ketupat, perayaan Idul Fitri juga identik dengan beragam camilan tradisional yang tersaji di ruang tamu. Salah satu yang tak pernah absen adalah rengginang, kerupuk berbahan dasar beras ketan yang gurih dan renyah, serta krecek yang memiliki makna tersendiri dalam tradisi kuliner masyarakat.
Rengginang dikenal sebagai kerupuk tradisional yang dibuat dari beras ketan, baik putih maupun hitam. Proses pembuatannya dimulai dari ketan yang dibumbui, kemudian dikukus, dibentuk bulat, dan dijemur hingga kering sebelum akhirnya digoreng hingga mengembang sempurna. Cita rasanya yang khas membuat rengginang menjadi camilan favorit saat Lebaran, bahkan kerap tersaji dalam kaleng biskuit legendaris seperti Khong Guan.
Beragam varian rasa rengginang juga semakin memperkaya pilihan, mulai dari rasa terasi, bawang, udang, hingga pedas manis yang disesuaikan dengan selera masyarakat. Teksturnya yang renyah serta daya tahan yang cukup lama menjadikannya cocok sebagai sajian untuk menjamu tamu selama momen hari raya.
Sementara itu, istilah krecek memiliki dua makna dalam tradisi kuliner. Dalam konteks camilan kering, krecek merujuk pada rengginang mentah yang belum digoreng. Namun, krecek juga dikenal sebagai bahan masakan berupa kulit sapi kering yang biasanya diolah menjadi sambal goreng krecek, salah satu pelengkap hidangan khas Lebaran.
Lebih dari sekadar camilan, rengginang dan krecek memiliki makna filosofis sebagai simbol kebersamaan dan persatuan. Kehadirannya di tengah keluarga saat Lebaran mencerminkan kehangatan serta tradisi berkumpul dan saling berbagi kebahagiaan.
Untuk menghasilkan rengginang yang mekar sempurna, proses penggorengan menjadi kunci penting. Rengginang sebaiknya digoreng dalam minyak yang benar-benar panas dengan jumlah yang cukup banyak. Saat menggoreng, rengginang perlu disiram-siram minyak agar mengembang merata. Selain itu, jumlah rengginang dalam satu wajan tidak boleh terlalu banyak agar hasilnya tidak bantat.
Dengan cita rasa yang khas serta nilai tradisi yang melekat, rengginang dan krecek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri, menghadirkan kenangan dan kehangatan di setiap momen kebersamaan keluarga.
Sumber: Berbagai sumber
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






