SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Nvidia Prediksi Backlog Cip AI Tembus US$ 1 Triliun

Nvidia Prediksi Backlog Cip AI Tembus US$ 1 Triliun

CEO Nvidia Jensen Huang (AP Photo/Godofredo A. Vásquez)

Suara Kalbar – CEO Nvidia Jensen Huang memaparkan visinya untuk menjaga dominasi perusahaan dalam industri kecerdasan buatan (AI). Ia bahkan memprediksi lonjakan permintaan cip AI hingga menciptakan backlog pesanan mencapai US$ 1 triliun dalam satu tahun ke depan.

Dikutip dari AP, Selasa (17/3/2026), dalam presentasi berdurasi lebih dari dua jam di San Jose, California, Huang menjelaskan bagaimana prosesor Nvidia telah menjadi komponen penting dalam pengembangan teknologi AI, sekaligus memperkenalkan berbagai produk yang diyakini akan mempertahankan posisi perusahaan sebagai pemimpin pasar.

Huang juga menegaskan, perkembangan AI saat ini masih berada pada tahap awal, serupa dengan revolusi komputer pribadi dan internet pada masa lalu.

“Kami telah menciptakan ulang komputasi, seperti halnya revolusi PC dan internet. Sekarang kita berada di awal perubahan platform baru,” ujarnya.

Untuk menegaskan optimisme tersebut, Huang memperkirakan nilai pesanan cip Nvidia yang belum terpenuhi bisa mencapai US$ 1 triliun pada akhir tahun, dua kali lipat dari proyeksi yang ia sampaikan tahun sebelumnya.

Kinerja Nvidia sendiri melonjak pesat berkat dominasi di pasar cip AI. Pendapatan tahunan perusahaan meningkat tajam dari US$ 27 miliar pada 2022 menjadi US$ 216 miliar pada tahun lalu, yang turut mendorong valuasi perusahaan hingga US$ 4,5 triliun.

Namun, laju saham Nvidia mulai melambat setelah sebelumnya sempat menembus kapitalisasi pasar US$ 5 triliun pada Oktober 2025. Kekhawatiran bahwa hype AI mulai berlebihan menjadi salah satu faktor penekan.

Analis Wedbush Securities, Dan Ives, menyebut kondisi ini sebagai fase penuh tekanan bagi industri teknologi.

Ke depan, pendapatan Nvidia diperkirakan bisa melampaui US$ 330 miliar. Namun, perusahaan mulai menghadapi tantangan baru dari raksasa teknologi seperti Google dan Meta Platforms yang mengembangkan cip AI mereka sendiri.

Selain itu, pembatasan perdagangan dan keamanan dari pemerintah Amerika Serikat (AS) juga menjadi hambatan, terutama dalam penjualan cip canggih ke pasar China.

Untuk mempertahankan posisinya, Nvidia akan terus memenuhi permintaan tinggi terhadap cip yang mendukung chatbot seperti ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google. Perusahaan juga memperluas bisnisnya ke pasar baru, yakni cip inferensi.

Chip inferensi berfungsi menjalankan AI setelah proses pelatihan selesai, sehingga mampu menghasilkan respons seperti menulis teks atau membuat gambar dengan lebih efisien.

“Era percepatan penggunaan cip inferensi telah dimulai,” kata Huang.

Sebagai bagian dari strategi ini, Nvidia juga menandatangani kesepakatan lisensi bernilai miliaran dolar dengan perusahaan spesialis pasar Groq, termasuk merekrut sejumlah insinyur terbaik dari startup tersebut.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan