Bukan Stop Karbohidrat, Ini Strategi Makan Sehat yang Disarankan Ahli
Suara Kalbar – Mengubah urutan makan kini menjadi solusi yang terbukti secara ilmiah untuk menstabilkan gula darah dan menjaga bentuk tubuh tetap ideal. Formula sederhana ini memungkinkan masyarakat mengoptimalkan kesehatan secara efektif tanpa harus menjalani diet ekstrem yang menyiksa.
Dalam kebiasaan tradisional, banyak orang memprioritaskan “makanan utama” dengan menyantap nasi putih di awal. Namun, studi medis berskala besar selama dekade terakhir mengungkapkan bahwa urutan konsumsi makanan secara langsung menentukan kadar gula darah, berat badan, hingga risiko penyakit kardiovaskular.
Profesor Liao Yi-ching dari Departemen Nutrisi Universitas Kedokteran Sun Yat-sen menjelaskan bahwa menaruh karbohidrat di urutan terakhir adalah “kode curang” kesehatan. “Dengan memprioritaskan asupan karbohidrat di akhir, tubuh dapat mempertahankan kadar gula darah yang stabil bahkan ketika makan dilakukan terus-menerus tanpa jeda,” ungkapnya.
Metode makan berurutan ini bekerja berdasarkan prinsip biologi yang sederhana namun kuat. Berikut urutan yang disarankan:
- Sayuran Hijau: Kaya serat untuk memperlambat penyerapan.
- Protein (Daging, Tahu, Ikan): Menciptakan rasa kenyang lebih lama.
- Karbohidrat (Nasi, Mi, Roti): Dikonsumsi saat lambung sudah terisi.
Proses ini merangsang usus mengeluarkan hormon GLP-1, yang berfungsi memperlambat pengosongan lambung dan menekan nafsu makan secara alami. Dr Chen Yu-hsun dari Rumah Sakit Memorial Show Chwan menambahkan bahwa protein dan sayuran yang masuk lebih dahulu menciptakan “lapisan pelindung” pada dinding lambung, sehingga meminimalkan fluktuasi gula darah.
Meski diet “sayur dahulu, nasi kemudian” efektif bagi orang muda dan pasien sindrom metabolik, para ahli memperingatkan adanya perbedaan kebutuhan bagi individu berusia di atas 60 tahun.
Dr Chou Chieh-ying dari Rumah Sakit Universitas Nasional Cheng Kung memperingatkan risiko sindrom pengecilan otot (sarkopenia) jika lansia terlalu drastis membatasi nutrisi. Bagi kelompok ini, distribusi protein harus merata di ketiga waktu makan untuk mendukung sintesis otot.
Dr Huang Huilun dari Rumah Sakit Umum Dongyuan menyarankan orang dewasa membutuhkan minimal 60 gram protein per hari, atau sekitar segenggam daging/ikan per sesi makan. Untuk lansia dengan kendala mengunyah, pilihan makanan lunak seperti telur kukus atau tahu sangat dianjurkan agar penyerapan nutrisi tetap maksimal.
Kesehatan sejati tidak datang dari tindakan ekstrem seperti sepenuhnya menghilangkan karbohidrat. Asosiasi Jantung Amerika dan Eropa kini lebih menekankan “pola makan” secara keseluruhan.
Diet seimbang yang mencakup buah, sayuran, biji-bijian utuh, serta lemak sehat, bila dikombinasikan dengan urutan makan yang tepat, merupakan solusi berkelanjutan untuk mengurangi stres pada tubuh dan mencegah penyakit kronis di masa depan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






