SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Kubu Raya Polisi Selidiki Kematian Siswi MTs di Kubu Raya

Polisi Selidiki Kematian Siswi MTs di Kubu Raya

Anggota Polsek Sungai Kakap yang mendatangi lokasi kejadian siswi MTs yang mengakhiri hidupnya. Kamis (22/01/2026) SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Kubu Raya (Suara Kalbar) – Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Pontianak meninggal dunia di rumahnya, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, pada Kamis (22/1/2026). Peristiwa tersebut kini masih dalam penanganan kepolisian.

Korban berinisial C, berusia 13 tahun. Kepolisian membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyatakan tengah mendalami latar belakang kejadian.

Kapolsek Sungai Kakap, Ipda Dollas Zimmi Saputra Nainggolan, mengatakan pihaknya menerima laporan dan telah melakukan penanganan awal di lokasi kejadian.

‎“Benar adanya. Untuk kejadiannya pada hari Kamis tanggal 22 Januari di rumah korban,” Kata Kapolsek Sungai Kakap Ipda Dolas Zimmi Saputra Nainggolan kepada wartawan, Selasa (27/01/2026).

‎Sementara itu, kepolisian masih melakukan penhelidikan terkait penyebab anak perempuan usia 13 tahun ini nekat mengakhiri hidupnya. Dugaan sementara, korban malu karena melakukan kesalahan di sekolah. Sementara, informasi yang beredar, korban depresi karena dibully.

‎Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap Ipda Adrianus Ari mengatakan, saat ini segala dugaan sedang diselidiki.

‎“Informasi sementara, korban malu karena melakukan kesalahan di sekolah. Untuk dugaan lain, masih kami dalami,” tegas Ari.

‎Ia pun menjelaskan kronologi korban ditemukan tak bernyawa. Awalnya, anggota Polsek Sungai Kakap mendapat informasi ada warga yang meninggal karena gantung diri.

‎“Pukul 07.00 pagi Kamis itu personel identifikasi Polres Kubu Raya bersama Polsek Sungai Kakap tiba di lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan melakukan pemotretan,” jelas Ari.

‎Tim gabungan kemudian memintai keterangan sejumlah saksi, termasuk ibu korban M (41) dan abang korban R (19). Sementara ayah korban sedang berada di Ketapang untuk bekerja.

‎Dalam keterangan M, pada Rabu (21/1/2026) pukul 20.00 WIB saat mau tidur di kamarnya bersama korban, M melihat korban tidak seperti biasanya.

‎“Ibu korban melihat raut wajah korban seperti tidak semangat dan kemudian ibu korban menanyakan kepada korban ada apa sehingga nampak murung,” jelas Ari.

‎Saat ditanya ibunya, lanjut Ari, korban bercerita bahwa dirinya melakukan kesalahan di sekolah. Atas kejadian tersebut, korban dipanggil oleh gurunya. Karena perbuatannya diketahui oleh teman-temannya di sekolah, korban menjadi malu.

‎“Oleh ibu korban menyarankan agar korban besoknya selesaikan masalah di sekolah. Setelah selesai membahas penyebab korban murung, keduanya tidur,” kata Ari.

‎Sementara berdasarkan keterangan saksi R, pada Kamis (22/1/2026) sekira pukul 03.00 WIB, ia baru tiba di rumah sepulangnya dari kerja. R langsung masuk ke dalam rumah dan melihat adiknya sudah tergantung di pintu kamar.

‎“R langsung membangunkan ibunya. Kemudian berinisiatif langsung membuka tali yang digunakan oleh korban untuk gantung diri serta menurunkan korban,” beber Ari.

‎Selain memeriksa saksi dan olah TKP, tim gabungan yang di lapangan juga menemukan selembar kertas bertuliskan pesan terakhir dari korban sebelum meninggal.

‎“Dalam surat itu intinya korban malu untuk datang ke sekolah. Korban minta maaf ke keluarga atas keputusan yang diambil dan minta dimakamkan dengan layak serta jangan libatkan kepolisian,” tutup Ari.

‎Sementara itu, ibu korban saat dikonfirmasi terkait nasib yang menimpa anaknya ini tidak memberikan tanggapan.

‎”Saya belum bisa kasi keterangan, nanti saya tanya suami saya dulu, dan sudah suami saya yang urus,” pungkasnya.

Penulis: Iqbal Meizar

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play