SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Menjaga Jiwa Zaman: Oase Pendidikan Karakter di Tengah Disrupsi Digital

Menjaga Jiwa Zaman: Oase Pendidikan Karakter di Tengah Disrupsi Digital

Ya’ Hari Purwadi

Oleh: Ya’ Hari Purwadi, S.Pd

Dunia hari ini bergerak dalam satu genggaman jempol. Kehadiran akselerasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah merombak total seluruh tatanan kehidupan kita. Generasi muda saat ini mampu melintasi batas ruang dan waktu untuk mengakses informasi apa pun dari seluruh penjuru bumi hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik lompatan teknologi yang memukau ini, kita sedang dihadapkan pada sebuah ironi peradaban yang mencemaskan: derasnya arus informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan moral.

Ruang siber kita hari ini kerap berubah menjadi panggung bagi tantangan karakter yang nyata.

Mulai dari maraknya perundungan siber (cyberbullying), kerentanan jeratan candu judi online di kalangan remaja, hingga melonggarnya etika dan tata krama dalam berkomunikasi di media sosial.

Kecakapan digital yang berjalan tanpa kompas moral yang kokoh hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara spiritual.

Di sinilah tantangan kebudayaan terbesar kita bersama: bagaimana menjaga “jiwa” anak-anak kita agar tidak larut dan terseret oleh arus negatif zaman?

Sebagai bagian dari pendidik yang berinteraksi langsung dengan dinamika siswa dan sekaligus elemen masyarakat yang berkhidmat di akar rumput Bumi Landak, kami melihat bahwa benteng utama menghadapi disrupsi ini adalah reaktualisasi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Pendidikan tidak boleh lagi direduksi sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan harus dikembalikan kepada khittahnya yang sejati, yaitu pembentukan watak (character building).

Dalam tradisi pendidikan luhur bangsa, baik yang dirawat di institusi sekolah formal maupun lingkungan pesantren, etika dan kesantunan (adab) selalu ditempatkan di atas ilmu pengetahuan.

Prinsip ini memuat pesan mendalam: ilmu tanpa kendali moral akan menjadi alat penghancur, sedangkan ilmu yang dibimbing oleh keluhuran budi pekerti akan melahirkan kemaslahatan bagi sesama.

Nilai-nilai universal seperti keseimbangan hidup, toleransi, saling menghargai perbedaan, serta kesetiaan pada norma susila adalah jangkar moral yang hari ini sangat dibutuhkan anak-anak kita agar mereka tidak kehilangan arah di tengah samudra informasi maya.

Tentu saja, tanggung jawab besar ini tidak bisa diletakkan secara tunggal di atas pundak institusi sekolah semata.

Ini adalah kerja kebudayaan kolektif yang menuntut sinergitas dan keterpaduan dari tiga pilar utama: keluarga, lingkungan pendidikan, dan komunitas masyarakat umum.

Orang tua di rumah wajib hadir sebagai penyaring pertama sekaligus teladan utama bagi anak. Sekolah bertindak sebagai laboratorium pengolahan watak dan pembiasaan positif.

Sementara lingkungan masyarakat, tokoh agama, serta para penggerak komunitas bertanggung jawab menjaga iklim sosial luar agar tetap sehat.

Generasi muda memerlukan keteladanan nyata yang hidup di dunia riil, bukan sekadar rentetan instruksi, tuntutan, atau kalimat larangan.

Era digital bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi dihindari, karena ia adalah keniscayaan masa depan yang harus diarungi. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa teknologi diposisikan sebagai alat untuk mempermudah hidup dan memperluas kemaslahatan, bukan justru menjadi kekuatan baru yang mendikte hidup dan mengikis kemanusiaan kita.

Dengan memperkokoh kembali fondasi karakter dan moral di tingkat keluarga dan komunitas lokal, kita sedang menyiapkan generasi masa depan Kabupaten Landak yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga agung secara budi pekerti.

*Penulis adalah Guru SMA Negeri 4 Ngabang, Pengurus Jajaran A’wan PCNU Kabupaten Landak, dan Alumni IAIN Pontianak

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play