SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Psikolog Ingatkan Bahaya Victim Blaming, Netizen Diminta Bijak Berkomentar di Media Sosial

Psikolog Ingatkan Bahaya Victim Blaming, Netizen Diminta Bijak Berkomentar di Media Sosial

Psikolog menyoroti praktik victim blaming masih sering terjadi di masyarakat, bahkan pada kasus-kasus ekstrem ketika korban telah mengalami penderitaan yang nyata, baik secara fisik maupun psikologis. (Freepik.com/@pressfoto)

Jakarta (Suara Kalbar) – Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dan mengedepankan empati ketika menanggapi berbagai kasus kekerasan yang ramai menjadi perbincangan di media sosial. Menurutnya, komentar yang tidak tepat justru dapat memperburuk kondisi psikologis korban.

Gisella mengatakan, publik tidak pernah mengetahui secara utuh apa yang sebenarnya dialami korban. Karena itu, setiap respons yang disampaikan di ruang digital sebaiknya tidak berujung pada tindakan menyalahkan korban atau victim blaming.

“Setidaknya, apa pun yang kita lakukan, termasuk berkomentar, jangan sampai memperparah kondisi korban. Biasakan berpikir ulang sebelum mengetik dan membaca kembali komentar sebelum dipublikasikan. Semoga cara sederhana ini dapat mengurangi praktik victim blaming, terutama di media sosial,” ujar Gisella, Jumat (3/7/2026).

Ia menilai budaya menyalahkan korban masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat. Bahkan, tidak sedikit korban yang telah mengalami penderitaan secara fisik maupun psikologis masih menerima komentar yang menyudutkan ketika kisahnya menjadi konsumsi publik.

Menurut Gisella, salah satu penyebab munculnya victim blaming adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai dinamika hubungan yang mengandung unsur kekerasan. Banyak orang melihat persoalan hanya dari sudut pandang logika tanpa memahami tekanan yang dialami korban.

Ia menjelaskan, tidak sedikit orang beranggapan bahwa korban seharusnya bisa langsung meninggalkan pelaku ketika mengalami kekerasan. Padahal, dalam banyak kasus terdapat manipulasi psikologis, ketergantungan, hingga relasi yang didominasi pelaku sehingga korban kesulitan keluar dari situasi tersebut.

“Orang sering berpikir kalau disakiti ya tinggal pergi. Padahal, dalam relasi yang penuh kekerasan ada manipulasi psikologis, dominasi pelaku, hingga berbagai faktor seperti ekonomi, emosional, maupun seksual yang membuat korban sulit melepaskan diri. Hal-hal seperti ini sering kali belum dipahami sehingga akhirnya muncul victim blaming,” jelasnya.

Gisella menyarankan agar pengguna media sosial membiasakan diri meninjau kembali komentar yang telah ditulis sebelum menekan tombol kirim. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi komentar yang berpotensi melukai perasaan korban.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk mencoba menempatkan diri pada posisi korban sebelum memberikan pendapat. Dengan memahami kemungkinan beban yang sedang dialami korban, seseorang akan lebih mudah menunjukkan empati dan menghindari komentar yang dapat memperburuk keadaan.

Tak hanya itu, Gisella juga mendorong masyarakat untuk mengenali respons emosional diri sendiri saat membaca pemberitaan mengenai kasus kekerasan. Kesadaran terhadap perasaan pribadi dinilai penting agar seseorang mampu memberikan respons yang lebih bijak dan penuh empati.

“Ketika kita menyadari mengapa sebuah kasus terasa dekat dengan pengalaman kita, baik karena pernah melihat maupun mengalaminya sendiri, kita akan lebih sadar dalam bertindak, termasuk saat berkomentar. Dengan begitu, kita dapat memberikan dukungan yang tidak menambah penderitaan korban,” pungkasnya.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play