SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Peningkatan Sosialisasi Penggunaan Masker Saat Krisis Kabut Asap Perkotaan melalui Integrasi Kepemimpinan Akar Rumput

Peningkatan Sosialisasi Penggunaan Masker Saat Krisis Kabut Asap Perkotaan melalui Integrasi Kepemimpinan Akar Rumput

Rika Aprianti

Oleh : Rika Aprianti

Masalah

Meski kampanye kesehatan sudah digencarkan di mana-mana, orang-orang di kota masih banyak yang enggan pakai masker ketika kabut asap datang. Cara lama yang selalu dari atas ke bawah ternyata kurang berhasil. Pesan resmi sering nggak nyambung dengan kebiasaan dan budaya sehari-hari warga setempat.

Bukti Kunci

Dari berbagai studi, kepercayaan masyarakat terhadap tokoh lokal (kader, tokoh RT/RW, atau kader Posyandu) ternyata punya pengaruh besar buat menggerakkan orang agar lebih menjaga diri. Kalau pesan kesehatan resmi digabung dengan peran tokoh yang sudah dikenal warga, hasilnya jauh lebih mudah diterima dibanding kampanye yang sama untuk semua orang.

Opsi Kebijakan

1. Tetap seperti sekarang (kampanye besar-besaran dari pusat).
2. Diserahkan sebagian ke Puskesmas, tapi belum ada pola komunikasi yang jelas dengan tokoh lokal.
3. Gabungkan pesan nasional dengan peran aktif tokoh akar rumput (kader Posyandu, Bank Sampah, dan tokoh masyarakat) lalu evaluasi secara terus-menerus.
Rekomendasi

Pemerintah daerah sebaiknya memilih model yang melibatkan tokoh akar rumput sebagai penghubung utama. Mereka perlu dilatih dengan pendekatan yang menghargai kearifan lokal, serta didukung sistem pemantauan kesehatan yang cepat merespons situasi.

Latar Belakang Masalah

Kabut asap sudah jadi kejadian yang hampir rutin setiap tahun di banyak kota di Indonesia. Debu halus (PM2.5) yang terkandung di dalamnya langsung berdampak pada kesehatan, terutama meningkatnya kasus ISPA dan gangguan pernapasan.

Ironisnya, meskipun pemerintah sudah sering mengampanyekan pentingnya memakai masker, kenyataannya tingkat kepatuhan masyarakat masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah pendekatan yang terlalu top-down.

Pesan dari pusat sering mengabaikan perbedaan kondisi ekonomi, budaya, dan kebiasaan warga di masing-masing wilayah. Padahal, tokoh-tokoh yang dekat dengan masyarakat justru punya pengaruh lebih besar karena mereka sudah dipercaya sehari-hari.

Rumusan Masalah Kebijakan

Bagaimana cara mengoptimalkan komunikasi kesehatan dengan melibatkan kepemimpinan akar rumput agar masyarakat di perkotaan lebih terdorong memakai masker secara konsisten saat terjadi krisis kabut asap?

Sintentis Bukti Ilmiah

Banyak penelitian menunjukkan bahwa orang tidak langsung berubah perilakunya hanya karena diberi tahu tentang bahaya. Ada faktor lain yang lebih menentukan, seperti rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu, seberapa besar mereka merasa terancam, dan seberapa besar mereka percaya pada orang yang menyampaikan pesan.

Di sinilah peran kader Posyandu, tokoh masyarakat, dan petugas Puskesmas menjadi penting. Mereka bisa “menerjemahkan” pesan resmi dari pemerintah menjadi bahasa dan cara yang lebih mudah diterima warga.

Studi yang memakai pendekatan campuran (angka dan cerita) juga membuktikan bahwa cara ini lebih mampu menangkap detail-detail lokal yang sering terlewat kalau hanya mengandalkan data statistik. Karena itu, bukti yang ada cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa menggabungkan komunikasi formal dengan peran kepemimpinan akar rumput adalah cara yang paling masuk akal, hemat, dan bertahan lama untuk meningkatkan penggunaan masker saat kabut asap.

Opsi Kebijakan 

1. Status Quo – Tetap mengandalkan kampanye besar-besaran lewat media massa nasional.

2. Desentralisasi Parsial – Sosialisasi diserahkan ke Puskesmas, tapi belum ada pola komunikasi yang terstruktur dengan tokoh lokal.

3. Model Integratif Berbasis Komunitas – Menggabungkan pesan kesehatan nasional dengan peran tokoh akar rumput yang terukur, lalu terus dievaluasi dengan pendekatan campuran.

Analisis Opsi

Efektivitas: Opsi 3 paling menjanjikan karena mengubah perilaku lewat jalur kepercayaan antar orang dan norma yang sudah hidup di masyarakat.

Kelayakan: Opsi 3 cukup realistis karena bisa memanfaatkan 10.292 Puskesmas yang sudah ada sebagai titik berangkat untuk memberdayakan tokoh lokal.

Risiko: Perlu diantisipasi agar pesan tidak terpecah-pecah antar wilayah. Caranya dengan menyediakan panduan pelatihan yang standar tapi tetap fleksibel mengikuti budaya setempat.

Kesimpulan analisis

Kalau dilihat dari segi efektivitas, biaya, pemerataan akses, dan keberlanjutan, Opsi 3 (Model Integratif Berbasis Komunitas) unggul jauh. Memang butuh investasi awal untuk pelatihan dan penyusunan pesan yang sesuai konteks, tapi risiko gagalnya jauh lebih kecil dibanding Opsi 1 dan Opsi 2.

Keunggulan utama: Opsi 3 mampu menjembatani data kesehatan yang bersifat makro dengan tindakan nyata di tingkat warga, dengan memanfaatkan modal sosial dan rasa percaya kepada tokoh yang sudah dikenal.

Keberlanjutan: Karena digabung ke dalam kegiatan rutin Puskesmas dan jaringan komunitas, perubahan perilaku lebih mungkin bertahan lama dan bisa menyesuaikan diri dengan krisis yang datang berulang.

Rekomendasi akhir: Karena itu, Opsi 3 sangat disarankan untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat perkotaan Indonesia menghadapi kabut asap.

Rekomendasi Kebijakan

Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan disarankan untuk melakukan tiga hal berikut:

1. Menyusun strategi komunikasi yang berpijak pada kondisi lokal. Pesan nasional perlu diadaptasi menjadi narasi yang lebih dekat dengan warga, lalu disampaikan lewat tokoh yang sudah dipercaya.

2. Memperkuat kapasitas tokoh akar rumput. Kader Puskesmas dan tokoh masyarakat perlu dilatih agar mampu menjadi komunikator krisis yang handal.

3. Menerapkan pendekatan campuran (mixed-methods) dalam monitoring dan evaluasi. Cara ini membantu memastikan program tetap relevan dengan kondisi sosial-ekonomi yang beragam di perkotaan.

Strategi Implementasi

Agar integrasi antara komunikasi kesehatan dan kepemimpinan akar rumput berjalan baik, berikut tahapan yang diusulkan:

STRATEGI IMPLEMENTASI

Agar integrasi antara komunikasi kesehatan dan kepemimpinan akar rumput berjalan baik, berikut tahapan yang diusulkan:

TahapAktor UtamaTindakan StrategisWaktuSumber Daya
PersiapanDinas Kesehatan, PuskesmasPemetaan wilayah terdampak dan identifikasi tokoh akar rumput (kader, tokoh masyarakat).Bulan 1–2Anggaran operasional Dinas Kesehatan, data kependudukan
PengembanganPeneliti, praktisi PuskesmasMengadaptasi pesan kesehatan nasional menjadi narasi lokal yang lebih sensitif terhadap budaya setempat.Bulan 3–6Pedoman komunikasi krisis, tenaga ahli perilaku kesehatan
PelatihanTenaga kesehatan, kaderCapacity building bagi tokoh akar rumput tentang teknik komunikasi krisis dan cara menggerakkan masyarakat.Bulan 7–8Modul pelatihan, fasilitator ahli, ruang pertemuan Puskesmas

 

* Penulis adalah Mahasiswi Program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

 

 

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play