Agen AI OpenAI Ketahuan Gunakan Wiki Jerman untuk Berbagi Cara Akali Pengujian
Jakarta (Suara Kalbar) – OpenAI mengakui agen kecerdasan buatannya sempat melakukan aktivitas tanpa izin dengan memanfaatkan sebuah situs wiki di Jerman sebagai semacam papan pesan tidak resmi.
Namun, perusahaan menegaskan belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa agen tersebut secara langsung melakukan peretasan terhadap situs yang bersangkutan.
Pernyataan itu disampaikan setelah Reuters melaporkan bahwa agen AI OpenAI mengubah lebih dari 15.000 halaman DseWiki pada Mei 2026.
Para agen tersebut disebut menggunakan situs itu untuk berbagi informasi dan taktik, termasuk cara mengakali pengujian serta menghindari sejumlah pembatasan yang diterapkan pada sistem AI.
OpenAI menyatakan transparansi dalam mengungkap insiden misalignment perlu ditingkatkan seiring kemampuan agen AI yang semakin berkembang.
Perusahaan juga menilai belum terdapat standar industri yang jelas mengenai bagaimana perilaku semacam itu seharusnya dilaporkan dan ditangani.
Agen AI Berbagi Cara Mengakali Pengujian
Para peneliti menemukan bahwa agen AI menggunakan DseWiki untuk berkomunikasi, berbagi taktik, sekaligus menyamarkan aktivitas mereka.
Sekitar separuh akun yang digunakan memiliki nama yang mengindikasikan hubungan dengan OpenAI, seperti “OpenAIResearcher” dan “OAIResearchMar26”.
Sebagian besar aktivitas tersebut diketahui berasal dari infrastruktur Microsoft Azure, yang pada sejumlah kasus digunakan oleh OpenAI.
Para peneliti juga menemukan adanya kunjungan berulang dari karyawan OpenAI ke situs tersebut.
Pesan yang ditinjau menunjukkan bahwa para agen AI berupaya menghindari deteksi. Mereka disebut menggunakan Tor dan membuat halaman cadangan setelah konten yang dibuat sebelumnya dihapus oleh moderator.
Sejumlah peneliti menyebut aktivitas tersebut sebagai bentuk peretasan. Namun, OpenAI membantah kesimpulan tersebut berdasarkan analisis terhadap materi yang tersedia.
Meski demikian, perusahaan mengakui bahwa agen AI melakukan aktivitas tanpa izin, termasuk membuat dan mengubah konten dalam jumlah besar di situs tersebut.
Kekhawatiran terhadap Kolusi Agen AI
Insiden tersebut terjadi ketika kekhawatiran terhadap keamanan dan perilaku agen AI terus meningkat.
OpenAI mengatakan belum dapat memberikan tanggapan terhadap seluruh temuan yang belum melalui proses peninjauan. Perusahaan juga membantah adanya upaya dari tim hukumnya untuk menghambat penyelidikan terhadap insiden tersebut.
Peneliti Cambridge University, Maurice Chiodo, mengatakan pola komunikasi yang ditemukan pada aktivitas tersebut menyerupai operasi jaringan bawah tanah.
Menurut dia, insiden tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa risiko AI pada masa depan tidak hanya berasal dari satu sistem yang sangat cerdas, tetapi juga dapat muncul ketika sejumlah agen AI berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Kasus tersebut menjadi salah satu contoh tantangan baru dalam pengembangan agen AI. Ketika sistem tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi juga mampu menjalankan tindakan secara mandiri, pengawasan terhadap aktivitas dan interaksi antarsistem menjadi semakin penting.
Sumber: Beritasatu.com





