SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Lebih dari Lima Dekade Berdiri, Warkop Langit Biru Masih Pertahankan Cita Rasa dan Bangunan Asli

Lebih dari Lima Dekade Berdiri, Warkop Langit Biru Masih Pertahankan Cita Rasa dan Bangunan Asli

Lebih dari Lima Dekade Berdiri, Warkop Langit Biru Masih Pertahankan Cita Rasa dan Bangunan Asli. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Pontianak (Suara Kalbar) – Warung kopi atau coffeeshop saat ini sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat sehari-hari. Di Pontianak, budaya ngopi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari mulai dari sekedar berkumpul atau ritual sebelum mulai beraktivitas.

Salah satu warung kopi legend di Kota Pontianak adalah warkop Langit Biru yang sudah ada sejak tahun 1970han dan berlokasi di kawasan Pasar Tengah, Pontianak. Kini warkop ini sudah di kelola oleh generasi ketiga. Tempat ini menjadi saksi bisu budaya ngopi masyarakat Pontianak yang sudah ada sejak 50 tahun lalu.

Pemilik saat ini bernama Riska (49). Ia merupakan generasi ketiga yang mengelola warkop Langit Biru, sebelumnya warkop ini didirikan oleh sang kakek yang merasa melihat peluang dari menjual kopi.

Dari penuturan Riska, sebelum membuka warkop Langit Biru, sang kakek memiliki usaha toko bangunan, tapi karena melihat peluang yang lebih besar dari warung kopi, keluarganya beralih dari bisnis toko bangunan ke warung kopi.

“Setelah kakek saya memutuskan untuk menutup toko bangunan kita, jadi dulu nenek ditanya, berani ngga buka warung kopi, jaman itu tentu nenek berfikir boleh aja kan, kenapa nda kan untuk menyambung perekonomian kita,” cerita Riska.

Awalnya warung kopi ini berlokasi di ruko belakang, setelah beberapa tahun barulah pindah ke lokasi yang sekarang hingga saat ini.

“Awalnya itu warung kita di belakang, nah lalu sekian tahun buka kita pindah kedepan sini, waktu itu mungkin saya masih kecil, lalu saya pun sempat kerja di luar sebelum akhirnya melanjutkan usaha warung kopi ini, dulu memang toko bangunan tapi itu udah lama sekali lah,” kenangnya.

Uniknya, warkop Langit Biru hingga saat ini masih mempertahankan bangunan lamanya yang auntentik, sehingga ketika pengunjung datang ada suasana nostalgia kembali hadir. Menurut Riska hanya ada beberapa perbaikan tapi tidak mengubah bentuk asli bangunan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Bangunannya juga dari dulu ngga pernah berubah, hanya ada beberapa yang diremajakan kembali, di cat lagi seperti itu, kalau pergantian bentuk bangunan tidak adalah,” ujarnya.

Untuk cita rasa kopinya sendiri tidak perlu di ragukan lagi, kopi pancong hitamnya menjadi kopi klasik yang digemari pelanggan, selain itu juga ada kopi susu yang juga turut digemari dan sering kali menjadi pilihan para perkerja pasar sebelum memulai aktivitas.

“kalau yang biasa ngopi disini, rata rata 20han ke atas ya, ada juga bapak-bapak, mereka langganan disini kalau belanja dari hulu kan, kalau yang setiap harinya kesini, itu biasanya yang kerja di pasar, mereka standby disini sampai tokonya buka, udah abis itu pergi kerja,” katanya.

Yang menarik bubuk kopi di warkop Langit Biru di dapatkan dari supplier yang sama sejak puluhan tahun yang lalu.

“Kalau untuk bubuk kopi kita ada suppliernya sendiri, ngga pernah berubah selalu dengan orang yang sama, mungkin usaha supplier kopinya udah jauh lebih lama dari kita, ini tempat kita ambil bahan bakunya juga udah ganti generasi juga,” jelas Riska.

Warkop ini buka pukul 7 pagi hingga 4 sore, biasanya para pelanggan datang dari para perkerja di pasar ataupun orang-orang yang selesai berbelanja dari pasar tengah.

“Untuk buka kita dari jam 7 pagi, udah ngga pagi-pagi lagi kayak dulu, kalo dulu kan disini ada pasar sayur ya jadi jam 5 pagi jam 3 itu udah buka, sekarang kita udah ngga berani lagi ya, masih gelap. kalau ramainya itu biasanya jam 7 sebelum orang-orang masuk kerja, ramai, udah itu orang-orang kerja,” katanya.

Selain cita rasanya yang khas, nostalgia juga menjadi alasan banyak pelanggan tetap kembali ke Warkop Langit Biru. Tak sedikit dari mereka yang pertama kali datang bersama orang tua, lalu kini kembali menikmati secangkir kopi di tempat yang sama.

“Kalau yang saya amati sih, sistemnya itu biasanya orang tua ngajak anaknya kesini, nanti kalau anaknya udah besar, dia balik lagi kesini, biasanya ngajak anak-anak mereka, yang berlangganan juga udah ganti-ganti generasi juga ini,” ujar Riska.

Untuk harganya, kopi pancong hitam dibanderol Rp5.000 per cangkir, sedangkan kopi susu pancong dijual seharga Rp8.000. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai kue tradisional, seperti patlaw, apam, dan aneka jajanan khas lainnya.

Penulis: Meriyanti

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play