SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Dokter Ungkap Obesitas Bukan Sekadar Gemuk, Bisa Tingkatkan Risiko Jantung hingga Kanker

Dokter Ungkap Obesitas Bukan Sekadar Gemuk, Bisa Tingkatkan Risiko Jantung hingga Kanker

Ilustrasi obesitas. (Freedigitalphotos/ Michelle Meiklejohn)

Suara Kalbar – Obesitas kini tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan berat badan atau penampilan fisik. Para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari penyakit jantung hingga kanker.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi), Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap obesitas sebatas masalah bentuk tubuh. Padahal, dampaknya jauh lebih besar karena berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular.

“Obesitas bukan lagi soal berat badan yang memengaruhi bentuk tubuh atau membuat seseorang merasa minder. Obesitas adalah penyakit karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung bahkan kanker,” kata Dante, dikutip dari Beritasatu.com, Minggu (5/7/2026).

Menurut Dante, hasil Human Genome Project yang meneliti variasi genetik manusia di berbagai negara menunjukkan adanya gen tertentu yang membuat seseorang lebih rentan mengalami obesitas. Faktor genetik inilah yang menyebabkan sebagian orang lebih mudah mengalami kenaikan berat badan dibandingkan orang lain.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut kerap membuat seseorang merasa berat badannya tetap bertambah meski sudah berusaha menjaga pola makan.

“Ada yang bilang, ‘minum air saja rasanya bisa gemuk’ atau ‘sudah mengurangi makan tetapi berat badan tetap naik’. Itu bisa terjadi karena mereka membawa gen yang berkaitan dengan obesitas,” ujarnya.

Meski demikian, faktor genetik bukan berarti obesitas tidak dapat dikendalikan. Dante menuturkan, perubahan pola makan tetap menjadi langkah awal yang efektif dan dapat membantu menurunkan berat badan sekitar 5 persen.

Apabila diikuti dengan olahraga secara rutin dan penerapan gaya hidup sehat, penurunan berat badan dapat mencapai sekitar 5 hingga 10 persen. Sementara itu, tindakan bedah bariatrik atau operasi yang bertujuan mengurangi penyerapan makanan mampu menghasilkan penurunan berat badan sekitar 25 hingga 30 persen.

Di antara kedua metode tersebut, lanjut Dante, terapi obat memiliki peran penting untuk membantu pasien yang mengalami obesitas, terutama yang dipengaruhi faktor genetik.

Ia menjelaskan, penggunaan obat penurun berat badan yang diresepkan dokter dapat memengaruhi proses epigenetik, yakni mekanisme yang membantu mengubah cara gen bekerja sehingga pengendalian berat badan menjadi lebih optimal.

“Dengan obat, proses epigenetik dapat membantu mengubah pola kerja gen yang sebelumnya membuat seseorang mudah mengalami obesitas. Penurunan berat badan bahkan bisa mencapai sekitar 20 persen,” jelasnya.

Dante juga menyinggung salah satu obat resep dokter, yakni tirzepatide. Obat tersebut bekerja pada dua hormon incretin yang diproduksi usus, yaitu GIP yang dihasilkan sel K dan GLP-1 yang diproduksi sel L. Peningkatan kedua hormon tersebut hingga di atas kadar normal membantu mengendalikan berat badan sekaligus memperbaiki kadar gula darah dan profil lemak dalam tubuh.

Karena itu, Dante menegaskan bahwa obesitas harus diperlakukan sebagai penyakit yang memerlukan penanganan secara menyeluruh, bukan sekadar persoalan penampilan.

“Obesitas adalah penyakit yang harus dikelola dengan baik,” pungkasnya.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play