Hipertensi Tak Lagi Identik dengan Lansia, Anak Muda Kini Semakin Rentan
Suara Kalbar – Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tidak lagi menjadi masalah kesehatan yang identik dengan kelompok usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi tersebut semakin banyak ditemukan pada kalangan usia muda akibat berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan pola hidup.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Anindia Larasati, mengatakan bahwa obesitas menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko hipertensi pada generasi muda. Selain itu, kebiasaan menjalani gaya hidup kurang sehat juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus tekanan darah tinggi.
Menurutnya, konsumsi makanan tinggi garam, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, hingga minimnya aktivitas fisik menjadi faktor yang dapat memicu peningkatan tekanan darah pada usia produktif.
Tak hanya itu, tren konsumsi minuman berenergi di kalangan anak muda juga perlu mendapat perhatian. Pasalnya, minuman tersebut umumnya mengandung kadar kafein dan gula yang cukup tinggi sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Dr. Anindia menjelaskan, konsumsi minuman berenergi secara berlebihan dan berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan denyut jantung serta memberikan beban tambahan pada kerja organ jantung.
“Jika dikonsumsi terus-menerus, minuman energi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan membuat pembuluh darah menjadi lebih kaku. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi hipertensi,” ujar dr. Anindia, dikutip dari Antara, Senin (22/6/2026).
Ia menegaskan bahwa perubahan pola hidup menjadi langkah penting untuk mencegah maupun mengurangi risiko hipertensi pada usia muda. Upaya tersebut dapat dimulai dengan menerapkan pola makan rendah garam serta meningkatkan aktivitas fisik secara teratur.
Selain berolahraga minimal 150 menit setiap pekan, masyarakat juga dianjurkan untuk menghindari kebiasaan merokok maupun penggunaan rokok elektronik atau vape. Menjaga berat badan tetap ideal juga menjadi bagian penting dalam pengendalian tekanan darah.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan, prevalensi hipertensi pada kelompok usia muda tergolong cukup tinggi. Hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan sekitar 10 persen individu berusia 18 hingga 24 tahun mengalami hipertensi.
Sementara itu, angka kejadian hipertensi pada kelompok usia 25 hingga 30 tahun tercatat mencapai sekitar 17 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif.
“Dulu hipertensi lebih banyak dijumpai pada usia sekitar 50 tahun ke atas. Namun sekarang, pada rentang usia 20 hingga 30 tahun sudah banyak ditemukan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang masih mengalami tekanan darah tinggi meski telah menerapkan gaya hidup sehat, dr. Anindia menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi obat antihipertensi sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. Penggunaan obat tersebut tetap harus berada dalam pengawasan dokter.
“Jika faktor risiko seperti obesitas dan pola hidup tidak sehat berhasil dikendalikan, dosis obat hipertensi dapat dikurangi secara bertahap. Bahkan dalam beberapa kasus, pasien bisa terlepas dari penggunaan obat apabila penyebab hipertensinya memang berasal dari gaya hidup yang kurang baik,” tutupnya.
Sumber: Beritasatu.com






